Sejarah Perkembangan Seni Rupa Indonesia (Nusantara)

Seni Rupa Nusantara adalah beragam bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang di masing-masing daerah yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Ragam bentuk kesenian Nusantara tumbuh sebagai hasil olah budaya masyarakat yang hidup disuatu wilayah sesuai dengan adat istiadat dan kondisi lingkungannya. Dari sekian banyak bentuk kesenian yang berkembang, salah satunya adalah bentuk karya seni rupa. 

Karya seni rupa nusantara dibuat tentu mempunyai fungsi atau manfaat. Secara garis besar fungsi karya seni rupa nusantara dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi estetis dan fungsi praktis. Fungsi estetis pada karya seni rupa nusantara adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia akan cita rasa keindahan.

Fungsi praktis pada karya seni rupa nusantara adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia akan benda pakai. Manusia sebagai makhluk yang berbudaya memiliki akal untuk berpikir, berekspresi, dan berkomunikasi dengan manusia lain

Di dalam mengekspresikan cita rasa keindahan, manusia membutuhkan karya seni rupa, misalnya  gambar, lukisan, patung, keramik, dan benda hias lainnya. Seni rupa nusantara sebagai sebuah karya manusia, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bersifat fisik belaka, namun dapat juga memenuhi kebutuhan akan nilai – nilai dasar kehidupan. Nilai nilai dasar kehidupan ini dimiliki oleh masyarakat yang berbudaya. Karya seni rupa secara fisik memang berupa benda, namun di balik penampilan fisiknya memiliki isi, yaitu nilai yang bermakna. 

Secara garis besar sejarah perkembangan senirupa Indonesia dapat dikategorikan kedalam 7 fase, yaitu :

1. Masa Perintisan  yaitu sekitar tahun 1817 sampai tahun 1880.

Pada masa perintisan ini tokoh yang paling dikenal adalah  Raden Saleh, dengan nama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman Lahir di Terbaya, pada tahun 1814 -1880,  putra keluarga bangsawan pribumi yang mampu melukis gaya atau cara barat, baik dari segi alat, media maupun teknik, dengan  penggambaran yang natural. Raden Saleh banyak mendapat bimbingan dari pelukis Belgia Antonio Payen, pelukis Belanda A. Schelfhouf dan C. Kruseman di Den Haag.. Dia sering berkeliling dunia dan pernah tinggal di Negara-Negara Eropa.

Ciri-ciri karya lukisan pada masa ini dengan Raden Saleh sebagai pelopornya adalah :
  • Bergaya natural dan romantisme
  • Kuat dalam melukis potret dan binatang
  • Pengaruh romantisme Eropa terutama dari Delacroix
  • Pengamatan yang sangat baik pada alam maupun binatang.

Lukisan Raden Saleh: Kebakaran Hutan, Cat minyak di atas kain kanvas, dibuat pada tahun 1994
Lukisan Raden Saleh: Kebakaran Hutan, Cat minyak di atas kain kanvas, dibuat pada tahun 1994

Beberapa judul Karya Raden Saleh:
  • Kebakaran Hutan
  • Perkelahian antara hidup dan mati
  • Pangeran Diponegoro
  • Berburu Banteng di Jawa
  • Potret para Bangsawan

2. Masa Indonesia Jelita

Selanjutnya muncul pelukis-pelukis muda yang memiliki konsep berbeda dengan masa perintisan, yaitu melukis keindahan dan keelokan alam Indonesia.Keadaan ini ditandai pula dengan datangnya para pelukis luar/barat atau sebagian ada yang menetap dan melukis keindahan alam.

Masa ini dinamakan Indonesia Jelita karena pada masa ini Karya-karya yang dihasilkan para Seniman Lukis lebih banyak menggambarkan tentang keindahan alam, serta lebih banyak menonjolkan nada erotis dalam melukiskan manusia.

Tokoh Pelukis pada Masa Indonesia Jelita ini adalah :
  • Abdullah Suriosubroto (1878-1941)
  • Mas Pirngadi (1875-1936)  
  • Wakidi
  • Basuki Abdullah
  • Henk Ngantung, Lee Man Fong (dll)
  • Rudolf Bonnet (Bld), Walter Spies (Bel), Romuldo Locatelli, Lee Mayer (Jerman) dan W.G. Hofker. 
Lukisan Karya Basuki Abdullah, Ngarat-Minangkabau, Oil on Canvas, 95cm X 140cm
Lukisan Karya Basuki Abdullah, Ngarat-Minangkabau, Oil on Canvas, 95cm X 140cm

Ciri-ciri lukisan yang dihasilkan yaitu:
  • Pengambilan obyek alam yang indah
  • Tidak mencerminkan nilai-nilai jiwa merdeka
  • Kemahiran teknik melukis tidak dibarengi dengan penonjolan nilai spiritual
  • Menonjolkan nada erotis dalam melukiskan manusia. 

3. Masa Cita Nasional

Masa Cita Nasional yaitu Bangkitnya kesadaran nasional yang dipelopori oleh Boedi Oetomo pada Tahun 1908. Seniman S.Sudjojono, Surono,Abd. Salam, Agus Djajasumita mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Perkumpulan pertama di Jakarta, berupaya mengimbangi lembaga kesenian asing Kunstring yang mampu menghimpun lukisan-lukisan bercorak modern.

PERSAGI berupaya mencari dan menggali nilai-nilai yang mencerminkan kepribadian Indonesia yang sebenarnya Hasil karya mereka mencerminkan :

  • Mementingkan nilai-nilai psikologis;
  • Tema perjuangan rakyat ;
  • Tidak terikat kepada obyek alam yang nyata;
  • Memiliki kepribadian Indonesia;
  • Didasari oleh semangat dan keberanian.


    Lukisan karya Otto Djaya dengan tema penggodaan
    Lukisan karya Otto Djaya dengan tema Penggodaan

    Karya-karya seni lukis masa PERSAGI antara lain:

    • Agus Djajasumita : Barata Yudha, Arjuna Wiwaha, Nirwana, Dalam Taman Nirwana
    • S. Sudjojono: Djongkatan, Didepan Kelambu Terbuka, Mainan, Cap Go meh.
    • Otto Djaya: Penggodaan, Wanita Impian 

    4. Masa Pendudukan Jepang

    Pada masa Pendudukan Jepang Cita PERSAGI masih melekat pada para pelukis, serta menyadari pentingnya seni lukis untuk kepentingan revolusi.

    Pemerintah Jepang mendirikan KEIMIN BUNKA SHIDOSO,Lembaga Kesenian Indonesia –Jepang ini pada dasarnya lebih mengarah pada kegiatan propaganda Jepang.

    Tahun 1943 berdiri PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mansur. Tujuannya memperhatikan dan memperkuat perkembangan seni dan budaya. Khusus dalam seni lukis dikelola oleh S. Sudjojono dan Afandi, selanjutnya bergabung pelukis Hendara, Sudarso, Barli, Wahdi dan sebagainya Hasil karya mereka mencerminkan kelanjutan dari masa cita Nasional.

    Lukisan Karya Affandi dengan Tema Pengemis
    Lukisan Karya Affansi dengan Tema Pengemis

    Tokoh utama pada masa ini antara lain:

    • S. Sudjojono
    • Basuki Abdullah
    • Emiria Surnasa
    • Agus Djajasumita
    • Barli
    • Affandi
    • Hendra dan lain-lain  

    5. Masa Setelah Kemerdekaan


    1. Setelah Jepang keluar dari bumi Indonesia, dunia seni lukis mendapatkan angin segar. Masa kemerdekaan benar-benar mendapatkan kebebasan yang sesungguhnya. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai kelompok atau perkumpulan seniman, yaitu antara lain :
    2. Pada tahun 1946 berdiri SIM (Seniman Indonesia Muda) yang sebelumnya bernama “Seniman masyarakat”. Dipimpin oleh S. Sudjojono, anggotanya : Affandi, Sudarso, Gunawan, Abdus Salam, Trubus dan sebagainya.
    3. Pada tahun 1947 berdiri perkumpulan pelukis rakyatyang dipimpin oleh Affandi dan Hendra yang keluar dari perkumpulan SIM. Anggota dari pelukis rakyat antara lain : Hendra, Sasongko, Kusnadi dan sebagainya.
    4. Pada tahun 1948 berdiri perkumpulan yang memberikan kursus menggambar, yaitu Prabangkara. Selanjutnya para tokoh SIM, Pelukis rakyat dkk. merumuskan pendirian lembaga pendidikan Akademi Seni Rupa.Tokoh perintisan lembaga tersebut antara lain S. Sudjojono, Hendra Gunawan, Djayengasmoro, Kusnadi, Sindusisworo dan lain-lain.
    5. Pada tahun 1950 di Bandung berdiri Balai Perguruan Tinggi Guru Gambaryang dipelopori oleh Prof. Syafei Sumarja dibantu oleh Muhtar Apin, Ahmad Sadali, Sudjoko, Edi Kanta Subraka dan lain-lain. Pada tahun 1959 Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar berubah menjadi jurusan Seni Rupa pada Institut Teknologi Bandung.
    Lukisan Karya Hendra Gunawan berjudul Ikan; Contoh Karya Pada Masa Setelah Kemerdekaan
    Lukisan Karya Hendra Gunawan berjudul Ikan; Contoh Karya Pada Masa Setelah Kemerdekaan

    6. Masa Pendidikan Formal


    Pada masa ini ditandai dengan lebih mantap berdirinya pendidikan formal.

    Berdirinya ASRI( Akademi Seni Rupa Indonesia ) Tanggal 18 Januari 1948 di Yogyakarta dengan direktur R.J. Katams.

    Perguruan Tinggi Guru Gambar (sekarang jurusan seni rupa ITB) yang dipelopori oleh Prof. Syafei Sumarja di Bandung.

    Guru gambar pada tingkat sekolah-sekolah menengah menuntut terbentuknya jurusan seni rupa pada perguruan tinggi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang terbesar di Indonesia.

    Dari Masa Pendidikan Formal lahir pelukis-pelukis akademis seperti:
    • Widayat, Bagong Kusudiharjo, Edhi Sunarso, Saptoto, G. Sidharta, Abas Alibasyah, Hardi, Sunarto, Siti Rulyati, Mulyadi, Irsam, Arief Sudarsono, Agus Dermawan, Aming Prayitno, dan lainnya (Yogyakarta).
    Lukisan Karya Bagong Kusudiharjo Dengan Judul Kuda Lumping
    Lukisan Karya Bagong Kusudiharjo Dengan Judul Kuda Lumping
    • Popo Iskandar, Achmad Sadali, But Muchtar, Srihadi, A.D. Pirous, Hariadi, Kabul Suadi, Sunaryo, Jim Supangat, Pandu Sadewa, T. Sutanto. (Bandung).

    7. Masa Seni Rupa Baru.

    Pada sekitar tahun 1974, perkembangan seni rupa Indonesia disemarakkan oleh munculnya seniman-seniman muda yang berlatar belakang berbeda. Yaitu seniman yang mendapatkan pendidikan formal dan otodidak sama-sama mencetuskan aliran yang tidak dapat dikelompokkan pada aliran/corak yang sudah ada dan merupakan corak baru dalam kancah seni rupa Indonesia.

    Kesenian yang diciptakan berlandaskan pada konsep :

    • Tidak membeda-bedakan disiplin seni Mengutamakan ekspresi
    • Menghilangkan sikap mengkhususkan cipta seni tertentu
    • Mengedepankan kreatifitas dan serta ide baru
    • Besifat eksprimental
    Karya Jim Supangkat, salah satu koleksi dokumentasi Jim Supangkat dalam buku "Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia"
    Karya Jim Supangkat, salah satu koleksi dokumentasi Jim Supangkat dalam buku "Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia"

    Pelopor Masa Indonesia Baru : Jim Supangkat, Nyoman Nuarta, S. Primka, Dede Eri Supria, Redha Sorana dan sebagainya.

    Demikian pembahasan tentang Sejarah Perkembangan Seni Rupa Indonesia (Nusantara) ini, semoga bermanfaat. Silakan menikmati pembahasan menarik yang  lainnya :

    Juga berbagai artikel penting lainnya yang menanti kunjungan Anda. Terimakasih dan sampai jumpa.

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel