Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah

Sosial Budaya Kalimantan Tengah
Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah suku Dayak, suku ini merupakan masyarakat terbesar yang mendiami propinsi Kalimantan Tengah bersama dengan berbagai suku lain di Indonesia. Suku Dayak terbagi atas beberapa sub etnis yang masing-masing memiliki satu kesatuan bahasa, adat istiadat dan budaya. Sub-sub etnis tersebut antara lain Suku Dayak Ngaju (termasuk Bakumpai dan Mendawai), Ot Danum, Ma’anyan, Lawangan, Siang dan lain-lain.

Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah mempunyai sifat keterbukaan dan toleransi yang tinggi yang tercermin dalam falsafah Huma Betang. Huma Betang adalah rumah khas Kalteng, berupa rumah besar, dimana dalam satu rumah besar adat (Huma Betang) Dayak Kalimantan Tengah tersebut tinggal bersama-sama beberapa keluarga dengan segala perbedaannya seperti status sosial, ekonomi maupun agama namun tetap hidup secara harmonis.

Suku dayak sebagai keunikan kerajinan suku dayak
Suku Dayak

Sifat gotong royong dalam masyarakat suku Dayak masih tetap terpelihara terutama dalam gerak hidup bermasyarakat yang tercermin dari tradisi kerja Habaring Hurung, Handep dan Harubuh. 

Berbagai ragam dan jenis kesenian tradisional yang masih terpelihara dalam kehidupan masyarakat di Kalimantan Tengah antara lain : Seni Tari, Seni Suara, Seni Rupa, Seni Ukir, dan Seni Anyam-anyaman.

Seni Suara berupa lagu -lagu daerah dikenal dengan istilah : Karungut, Kandan, Parung, Karinci

Seni anyaman yang memiliki beragam corak terus dikembangkan oleh masyarakat sebagai kerajinan rakyat. Kerajinan anyaman tersebut antara lain yang terbuat dari rotan, bambu, pandan dan purun.

Pot dari rotan sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Pot dari rotan

Disamping itu juga berkembang berbagai kerajinan etnik (tradisional) yang terbuat purun, getah nyatu serta bahan kayu.

Seni ukir dapat disaksikan pada pembuatan benda-benda seperti Talawang (Perisai), bangunan Sandung, Hulu dan sarung senjata khas Dayak Mandau, Patung (Sapundu) dan bangunan pada rumah rumah adat.

Disamping berbagai kerajinan, Kalimantan Tengah juga kaya akan berbagai kegiatan upacara adat / ritual seperti Tiwah, Manyanggar, Mamapas Lewu (bersih desa), Mampakanan Sahur Parapah.Tiwah merupakan upacara ritual agama Kaharingan, yaitu mengantarkan arwah orang yang telah meninggal ke Lewu Tatau (sorga). Acara ini memakan waktu yang cukup lama sekitar satu bulan atau lebih.

Beberapa karya kerajinan tangan khas Kalimantan Tengah antara lain :

Seni Kerajinan Ukir
Seni Kerajinan Ukir Kalimantan Tengah memiliki corak khas dan unik. Hal ini bisa dilihat dari topeng, perisai, bangunan sandung (tempat menyimpan tulang belulang), hulu dan sarung mandau, patung sapundu dan lain-lain.

Seni Kerajinan Ukir Kalimantan Tengah sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Seni Kerajinan Ukir Kalimantan Tengah
Pola-pola serta motif-motif yang umumnya digunakan oleh suku Dayak terinspirasi secara keseluruhan dari alam. Hal ini disebabkan karena kehidupan suku Dayak sangat bergantung dan dekat dengan alam. Sehingga rupanya hal tersebut juga mempengaruhi keseniannya, khusus dalam hal ini adalah seni rupa.

Dapat kita lihat bahwa pola suku Dayak memiliki bentuk yang dinamis, berupa bentuk-bentuk yang asimetris, zig-zag, atau gelombang-gelombang spiral. Hal ini menandakan kehidupan masyarakat suku Dayak yang sangat aktif mengelola hidup mereka, namun tetap dengan wawasan alam.

Motif batang garing sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Motif batang garing

Motif yang paling sering kita temukan adalah motif batang garing, motif sulur, motif talawang, motif tanaman, motif perhiasan, atau motif dengan kombinasi dari beberapa motif yang ada sekaligus. Batang garing bagi suku dayak berarti hierarki dalam kehidupan. Semua manusia diibaratkan hidup dalam satu pohon yang kompleks, dengan Tuhan pada puncaknya, dan masyarakata dayak pada urutan-urutannya masing-masing. Walaupun terdapat kelas sosial khusus, tetapi antar masyarakat selalu tercipta hubungan yang harmoni dan saling bergotong-royong.

Motif talawang, Motif Sulur, dan Motif campuran sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Motif talawang, Motif Sulur, dan Motif campuran

Motif-motif lain juga kebanyakan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di daerah kalimantan. Contohnya motif tanaman dan motif sulur yang terinspirasi dari tanaman-tanaman sulur rawa yang banyak tumbuh di daerah pedalaman dan hutan kalimantan. Selain itu ada pula mitf bulu burung enggang, dimana bagimasyarakat dayak, burung enggangmemberikan pengaruh kedamaian, kekuasaan, kekuatan, serta kecerdasan. Begitu pula dengan berbagai macam motif-motif lainnya.

Seni Kerajinan Anyaman
Kalimantan Tengah memiliki beragam jenis kerajinan rakyat yang berbahan rotan, pandan, purun, getah nyatu serta perhiasan dari batu alam Kalimantan Tengah lain yang sangat menarik untuk dijadikan Souvenir (Cenderamata).

Berbagai model kerajinan anyaman Kalimantan Tengah : topi, tikar, tas, tempat tisue sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Berbagai model kerajinan anyaman Kalimantan Tengah : topi, tikar, tas, tempat tisue.

Berbagai model kerajinan anyaman Kalimantan Tengah antara lain : topi, tikar, tas, tempat tisue dan lain-lain.

Transportasi Tradisional
Perahu Jukung Sudur. Perahu ini bahannya dibuat dari sebatang pohon yang kuat, dibelah dua kemudian dibentuk menjadi semacam badan perahu dengan lambung yang rendah. Dengan bentuk seperti itu, jukung sudur terlihat sangat surut dan mengkhawatirkan bagi yang tidak pernah menaikinya.

Jukung Sudur sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Jukung Sudur

Sebenarnya bentuk seperti ini sangat praktis, karena tahan gelombang, mudah untuk melintasi riam-riam serta praktis jika harus diangkat. Sebagai alat angkutan, perahu (jukung sudur) inipun dapat pula diberi dinding-dinding papan yang kuat (tambit bahasa daerah).

Sesuai dengan keadaan geografis daerah Kalimantan, yang banyak memiliki anak sungai dan hutan rimbanya, perahu ini dibuat dari bahan alam yang tersedia. Sebagai hasil kultural asli masyarakatnya, jukung sudur menjadi alat angkutan untuk pergi berhuma dan alat komunikasi antar desa.

Di masa perjuangan, perahu (jukung sudur) ini digunakan pahlawan-pahlawan, seperti Panglima Batur dan lainnya sebagai alat transportasi menghadapi tentara Belanda.

Senjata Tradisional.
Senjata trasisional Kalimantan tengah yang unik antara lain : Sipet / Sumpitan, Mandau, dan Telawang.

1. Sipet / Sumpitan
Sumpit yang dalam bahasa Dayak Ngaju disebut ’sipet’ merupakan senjata tradisional yang sudah dikenal sejak jaman dahoeloe kala. Sipet terbuat dari kayu ulin yang dibentuk dan dilobangi bagian dalamnya sehingga menyerupai pipa lurus, dengan ukuran diameter bagian luar sekitar 3 cm, diameter rongga dalam sekitar 0,75 cm dan panjang sekitar 200 cm.

Sipet merupakan salah satu senjata etnik Dayak di Kalimantan. Senjata ini umumnya digunakan sebagai alat berburu, menyerang musuh dan melawan segala mara bahaya. Menurut kepercayaan etnik Dayak, sumpitan (sipet) tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama umat manusia.Peluru atau anak sumpitan yang tajam seperti panah disebut domek.

Sumpitan / Sipet sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Sumpitan / Sipet

Setelah diraut dan digosok sampai rapi, biasanya kayu ulin tersebut menjadi berwarna hitam mengkilat sehingga permukaannya mirip seperti logam. Pada bagian ujung depan pipa tadi dipasang dua macam aksesori yang terbuat dari besi, yaitu di sisi sebelah bawah dipasang mata tombak yang tajam, dan pada sisi sebelah atas dipasang besi kecil menyerupai pisir pada ujung laras senjata api, yang berguna sebagai alat bantu untuk membidik sasaran.

Kedua aksesori tersebut dilekatkan pada batang sipet menggunakan rotan yang dianyam sedemikian rupa sehingga terlihat rapi, kuat dan artistik. Bagian permukaan batang sipet terkadang dihiasi dengan ukiran relief atau ornamen dengan motif khas Dayak.

Kegunaan utama sipet adalah sebagai senjata atau alat berburu, walaupun bisa juga digunakan sebagai senjata pada saat berperang. Sebagai senjata, ia dilengkapi dengan peluru yang dimasukkan ke dalam lobang laras dan dilontarkan ke arah sasaran dengan cara ditiup menggunakan mulut.

Jenis pelurunya ada 2 macam. Jenis pertama terbuat dari tanah liat dalam keadaan setengah basah dibentuk berupa bola-bola kecil sebesar ukuran lubang laras, biasanya digunakan untuk jarak dekat (sekitar 5 meter) untuk berburu binatang kecil misalnya tupai dan burung-burung yang terbang rendah.

Jenis peluru yang kedua disebut damek atau lahes, terbuat dari bilah bambu yang diruncingkan seperti anak panah dan di bagian belakangnya dipasang potongan kayu gabus untuk mengatur arah, kurang lebih berfungsi sama dengan bulu angsa yang dipasang pada shuttlecock (bola badminton). 

Lahes tersebut dibuat dalam jumlah banyak, disimpan di dalam tabung bambu yang sudah diisi dengan cairan ‘bisa atau racun’ dari binatang liar, sehingga apabila melukai sedikit saja tubuh hewan sasaran akan langsung mematikan. Biasanya lahes digunakan untuk berburu hewan yang lebih besar, misalnya kancil, kijang atau hewan primata (misalnya monyet dan lain-lain) yang tinggal di atas pohon-pohon tinggi.

Untuk menambah ampuh, lazimnya domek diberikan suatu zat racun yang diperoleh dari getah sejenis akar yang diolah sedemikian rupa disebut ipu. Ipu ditaruh (digosok) pada ujung anak sumpitan. Karena itu manusia atau binatang yang terkena ipu akan keracunan.

Sebelum digunakan domek disimpan dalam suatu tempat khusus, disebut telep. Cara melepaskan domek dari sumpitan ialah dengan meniup sekeras mungkin melalui lobang sumpitan yang lurus. Jarak capai anak sumpitan ini cukup jauh sehingga ia merupakan senjata yang praktis untuk berburu. Menurut bentuknya itu, nenek moyang etnik Dayak mengharapkan bahwa setiap orang harus jujur, lurus seperti lobang sumpitan sehingga dapat tercipta ketulusan dan perdamaian.

Suatu hal yang unik pada sumpit ialah ketika pelurunya dilontarkan menuju sasaran, tidak akan terdengar bunyi apapun yang membuat sasarannya mengetahui dari mana sumber asal serangan. Hal ini berbeda dengan senapan atau senjata api. Konon hal ini jugalah yang membuat Belanda kewalahan dalam perang gerilya melawan suku Dayak di Kalimantan. Kita tahu bahwa sebagai bangsa Eropa, orang Belanda itu mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap setiap hal yang belum dimengerti olehnya.

Suatu ketika pasukan serdadu Belanda melintasi hutan. Kebetulan tidak jauh dari situ ada beberapa orang suku Dayak sedang mengintai. Merekapun melontarkan peluru sumpit dari tanah liat yang sengaja diarahkan pada sebatang pohon di depan salah seorang serdadu Belanda. Para serdadu tadi langsung berkerumun meneliti benda apakah gerangan yang tiba-tiba melesat di depan hidungnya. 

Ketika mereka asyik berkerumun itulah mereka diserang dengan peluru beneran, yaitu lahes yang mengandung racun.Pada masa kini, anak-anak Dayak di daerah pedalaman Kalimantan masing sering bermain perang-perangan menggunakan ’sumpit-sumpitan’ yang terbuat dari ruas bambu kecil dengan peluru tanah liat. Meskipun maksudnya cuma sekedar main-main tapi sesekali peluru tanah tersebut sering juga tanpa disengaja mengenai tubuh lawan.

2. Mandau
Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Sebenarnya pulau ini tidak hanya merupakan “daerah asal” orang Dayak semata karena di sana ada orang Banjar (Kalimantan Selatan) dan orang Melayu. Dan, di kalangan orang Dayak sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri.

Dengan perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya. Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang disebut sebagai mandau.

Mandau sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Mandau

Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol seseorang (kehormatan dan jatidiri). Sebagai catatan, dahulu mandau dianggap memiliki unsur magis dan hanya digunakan dalam acara ritual tertentu seperti: perang, pengayauan, perlengkapan tarian adat, dan perlengkapan upacara.

Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat keampuhan atau kesaktian. Kekuatan saktinya itu tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga dalam tradisi pengayauan (pemenggalan kepala lawan). Ketika itu (sebelum abad ke-20) semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, maka mandau yang digunakannya semakin sakti.

Biasanya sebagian rambutnya digunakan untuk menghias gagangnya. Mereka percaya bahwa orang yang mati karena di-kayau, maka rohnya akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti. Namun, saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar dan bertani.

Struktur Mandau
*Bilah Mandau
Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang seperti parang dan berujung runcing (menyerupai paruh yang bagian atasnya berlekuk datar). Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul.

Ada beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Konon, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.

Pembuatan bilah mandau diawali dengan membuat bara api di dalam sebuah tungku untuk memuaikan besi. Kayu yang digunakan untuk membuat bara api adalah kayu ulin. Jenis kayu ini dipilih karena dapat menghasilkan panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. 

Setelah kayu menjadi bara, maka besi yang akan dijadikan bilah mandau ditaruh diatasnya agar memuai. Kemudian, ditempa dengan menggunakan palu. Penempaan dilakukan secara berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk bilah mandau yang diinginkan.

Setelah bilah terbentuk, tahap selanjutnya adalah membuat hiasan berupa lekukan dan gerigi pada mata mandau serta lubang-lubang pada bilah mandau. Konon, pada zaman dahulu banyaknya lubang pada sebuah mandau mewakili banyaknya korban yang pernah kena tebas mandau tersebut.

Cara membuat hiasan sama dengan cara membuat bilah mandau, yaitu memuaikan dan menempanya dengan palu berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan. Setelah itu, barulah bilah mandau dihaluskan dengan menggunakan gerinda.

*Gagang (Hulu Mandau).
Gagang (hulu mandau) terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait.

Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya.

*Sarung Mandau.
Sarung mandau (kumpang) biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat.

Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.

Nilai Budaya Mandau
Pembuatan mandau, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya.

Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan.

Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna.

Mandau adalah salah satu senjata yang dibuat oleh nenek moyang etnik Dayak di Kalimantan umumnya. Terbuat dari besi yang kuat dan baik. Oleh etnik Dayak, mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat keampuhan sesuai kesaktian besinya.

Dalam kaitan itu, besi Montallat paling terkenal diantara bahan-bahan lainnya untuk membuat senjata mandau. Oleh masyarakat Dayak, selain untuk merantas hutan dan bertani, mandau juga digunakan untuk menghadapi musuh. Para pahlawan dulu menggunakan mandau sebagai senjata yang tidak dapat terpisah dari tubuhnya, kemanapun pergi selalu dibawa.

Umumnya mandau memiliki hulu (pegangan) terbuat dari tanduk atau kayu terpilih dan dihiasi ukiran. Bentuk ukiran pada hulu mandau ini dapat membedakan tempat asal usul mandau dibuat, suku dan derajat pemakainya. Itu bisa terlihat dari gaya serta motif ukirannya. Selain itu, di bagian hulu mandau disisipi rambut, yang berfungi menambah keangkeran dan keampuhannya.

4. Telawang
Telawang atau Kelabet adalah alat pertahanan diri dari serangan musuh yang menggunakan senjata tajam yang terkenal dan digunakan di seluruh Kalimantan.

Telawang sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Telawang

Telawang terbuat dari kayu yang kuat, begian depannya diberi ukiran khas dayak.

Alat Komunikasi Tradisional
Gong dalam etnik Dayak, berfungsi sebagai alat komunikasi yang vital dan alat seni budaya. Sebagai alat komunikasi gong juga dibunyikan untuk pemberitahuan, baik adanya bahaya, musuh datang dari luar, kebakaran atau panggilan untuk sesuatu pekerjaan gotong royong.

Gong sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Gong

Dalam peristiwa kematian, misalnya, gong dibunyikan tiga kali berturut-turut dalam waktu tertentu selama mayat masih belum dimakamkan. Bunyi itu terdengar sampai kampung-kampung yang jauh sehingga kaum kerabat dari tempat jauh datang untuk menghadiri upacara pemakaman.

Dalam acara seni budaya, gong juga mempunyai peranan penting, seperti pada upacara-upacara "Bokas", "Tiwah", upacara penyambutan tamu-tamu yang dihormati, perkawinan dan acara kesenian lainnya.

Rumah Betang
Di kecamatan Delang, kabupaten Lamandau, propinsi Kalimantan Tengah, masih banyak terlihat rumah-rumah penduduk yang berbentuk rumah betang. Rumah betang adalah rumah tradisional Suku Dayak di Kalimantan, berbentuk rumah panggung yang memanjang ke belakang dengan kayu ulin sebagai bahan utama bangunannya.

Rumah-rumah Betang yang ada di Kecamatan Delang rata-rata berumur ratusan tahun dan masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Hal itu menandakan bahwa penduduk di Kecamatan Delang sampai saat ini masih melestarikan adat-istiadat dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Salah satu rumah betang di kecamatan Delang yang masih terawat dengan baik dan sering dikunjungi oleh banyak wisatawan adalah Rumah Betang Ojung Batu. Yang membedakan Rumah Betang Ojung Batu dengan rumah-rumah betang lainnya adalah di dalamnya terdapat banyak  tajau. Konon, rumah betang ini dulunya dikenal sebagai tempat kediaman seorang tokoh masyarakat Dayak yang sangat kaya yang memiliki ribuan tajau, sebuah benda mirip tempayan yang oleh masyarakat setempat dijadikan sebagai simbol kekayaan dan kehormatan seseorang. 

Tajau juga dianggap sebagai benda yang memiliki kekuatan gaib dan dapat membawa rejeki bagi orang yang memilikinya. Konon, orang yang membuat  tajau  bukanlah orang sembarangan, karena dia harus menguasai upacara khusus sebelum membuatnya. Namun sayang, jumlah tajau  yang ada di rumah betang ini sekarang sudah jauh berkurang, menjadi ratusan saja. Saat ini, rumah betang yang sudah berumur hampir 1.000 tahun dimiliki oleh Omas petinggi kaya, salah satu tetua adat di Kecamatan Delang. Oleh Pemerintah KabupatenLamandau, Rumah Betang Ojung Batu ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi.

Rumah Betang sebagai Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah
Rumah Betang

Keistimewaan Rumah Betang
Rumah Betang Ojung Batu memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri. Bentuknya memanjang ke belakang sekitar dua ratus meter, bertiang panggung dari kayu ulin dengan diameter di atas 50 sentimeter dan tinggi 1,5meter, serta beratap sirap yang juga terbuat dari kayu ulin. Di dalam rumah betang ini terdapat puluhan bilik dan satu bilik dihuni oleh satu keluarga.

Setiap keluarga penghuni bilik memiliki koleksi barang-barang antik berupa piring keramik, gong, meriam kuno, talam tembaga, dan berbagai bentuk perhiasan Cina dan Belanda yang sudah sangat jarang dijumpai. Para penghuni Rumah Betang Ojung Batu dikenal pula memiliki seni budaya cukup tinggi, yang dapat dilihat dari berbagai bentuk ukiran yang menghiasi hampir di seluruh bagian rumah, mandau  (senjata khas Suku Dayak) yang menempel di dinding rumah, tombak, dan berbagai bentuk anyaman yang terbuat dari rotan.

Meskipun ukuran rumah ini terbilang luas dan besar, namun hanya ada satu pintu masuk utama untuk memasuki rumah ini. Hal ini menyiratkan makna filosofis yang luhur, yaitu agar semua anggota keluarga yang menghuni rumah ini memiliki persamaan persepsi dan tujuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Apapun aktivitas yang dilakukan oleh para penghuni rumah, mereka tetap masuk dan keluar dari pintu yang sama. Disamping itu, dengan hanya memiliki satu pintu utama, diharapkan penghuni rumah dapat lebih mampu mengenal antara penghuni yang satu dengan penghuni lainnya secara lebih dekat. Untuk memasukinya,penghuni rumah harus melewati anak tangga yang berada di bawah kolong rumah.

Selain   memiliki   keistimewaan   dari   sisi   arsitekturnya,   Rumah   Betang   Ojung   Batu   juga  memiliki   sisi keistimewaan lainnya, yaitu keramahan para penghuninya. Setiap pengunjung yang datang akan disambut dengan ramah, tidak dipungut biaya, dan cukup mengisi buku tamu sebagai media perkenalan. Apabila berkenan, pengunjung akan diajak untuk minum tuak (minuman tradisional dari beras ketan) dan makan sirih karena dianggap menghargai budaya masyarakat lokal.

Pemandangan bersahaja lainnya juga dapat dilihat dari ekspresi kebersamaan dan persaudaraan di antara para penghuni rumah, terutama ketika ada permasalahan yang menimpa salah satu penghuni. Misalnya, jika salahsatu anggota keluarga ada yang meninggal dunia maka masa berkabung mutlak diberlakukan selama satu minggu bagi semua penghuni dengan tidak menggunakan perhiasan, tidak berisik, tidak minum tuak, dan tidak menghidupkan peralatan elektronik.

Demikian pembahasan tentang Keunikan Kerajinan Suku Dayak, Kalimantan Tengah, semoga bermanfaat. Silakan menikmati pembahasan menarik yang lainnya......

  • Di pulau Lombok populer dengan kerajinan tangan gerabah, tenun, ukir-ukiran kayu maupun batu, mas dan mutiara. Banyak desa yang   menghasilkan   kerajinan   tangan   hingga   turun   temurun  seperti   desa Banyumulek yang terkenal dengan desa gerabah, desa Sukarare yang terkenal dengan  tradisional   tenunnya,   dan   desa   Labuapi   yang   terkenal   dengan   ukir-ukirannya. Pembahasan selengkapnya Ada Di Sini.
  • Karya seni kriya daerah setempat dibuat untuk tujuan melestarikan nilai-nilai tradisi dan adat dalam proses serta teknik berkarya seni kriya daerah setempat. Bentuk, model, teknik,dan media memiliki keunikan/karakteristik tersendiri, sebagai kekayaan seni budaya. Selengkapnya pada Artikel Ini.

Dan berbagai ulasan menarik lainnya pada Blog ini. Terimakasih atas kunjungan Anda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel