Pengertian Belajar

Slameto memberikan pengertian “belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003: 2). Dalam pengertian lain menurut Nasution yang lebih populer memandang belajar sebagai perubahan tingkah laku “change of behavior”.

Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (Syaiful Sagala, 2009: 11). Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono berpandangan bahwa “belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dan dilakukan oleh setiap orang. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri”.

Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan (Dimyati dan Mudjiono, 2009: 7). Pengertian di  atas sangat berbeda dengan pengertian yang lama tentang belajar, yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, bahwa belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis dan terus menerus (Oemar Hamalik, 2006: 28).

Ilustrasi Belajar Mengajar sebagai gambar pengerian belajar
Ilustrasi Belajar Mengajar

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan, bahwa belajar merupakan suatu aktivitas yang kompleks berdasarkan pada pengalaman untuk mengubah tingkah laku suatu organisme yang berlangsung secara progresif.

Ada dua faktor yang mempengaruhi belajar, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

1) Faktor-Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Di dalam membicarakan faktor intern terbagi menjadi tiga faktor yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologi, dan faktor kelelahan.

a). Faktor Jasmaniah.
Di dalam faktor jasmaniah terbagi lagi menjadi dua faktor yang berpengaruh dalam proses belajar yaitu faktor kesehatan dan cacat tubuh. Yang dimaksud sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit. Kesehatan seseorang berpengaruh pada belajarnya.

Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar, istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi dan tidur. 

Sedangkan yang yang diartikan cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan (Slameto, 2003: 55). Keadaan cacat sangat berpengaruh terhadap pembelajaran. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu.

b)Faktor Psikologis
Menurut M. Sobry Sutikno (2009: 16) ada beberapa faktor psikologis yang dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Faktor-faktor tersebut antara lain:
  • Inteligensi. Inteligensi merupakan kecakapan yang terdiri atas tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan dengan cepat dan efektif. Orang yang mempunyai inteligensi tinggi lebih mudah belajar daripada yang tingkat inteligensinya rendah.
  • Motif. Motif adalah daya penggerak atau pendorong untuk berbuat.
  • Minat. Minat merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat ini selalui diikuti dengan perasaan senang yang akhirnya memperoleh kepuasan.
  • Emosi. Faktor emosi sangat mempengaruhi keberhasilan belajar anak. Emosi yang mendalam membutuhan situasi yang cukup tenang. Emosi yang mendalam akan mengurangi konsentrasi dalam belajar dan akan mengganggu serta menghambat belajar.
  • Bakat. Bakat merupakan kemampuan untuk belajar. Orang yang memiliki bakat akan mudah dalam belajar dibanding dengan orang yang tidak berbakat.
  • Kematangan. Suatu fase dalam pertumbuhan seseorang adalah saat alat-alat tubuh sudah siap untuk menerima kecakapan baru. Misalnya dengan tangan seseorang sudah dapat mempergunakan untuk memegang dan menulis, dengan otaknya sudah siap untuk berfikir.
  • Kesiapan. Kesiapan merupakan kesediaan untuk memberi respon.


c).Faktor Kelelahan.
Faktor kelelahan dibagi menjadi dua, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani tampak pada lemah lunglainya badan dan kecenderungan untuk membaringkan tubuh, misalnya karena kelaparan. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kebosanan sehingga minat untuk menghasilkan sesuatu hilang. 

Kelelahan ini bisa muncul karena kebosanaan menghadapi sesuatu yang terus-menerus tanpa istirahat atau bisa timbul karena menghadapi hal-hal yang selalu sama tanpa ada variasi.

2). Faktor Ekstern.
Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor ekstern dalam belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor.

1). Faktor Keluarga. Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama.. Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi berpengaruh besar untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia. Melihat peranan di atas, dapatlah dipahami betapa pentingnya keluarga di dalam pendidikan anaknya. Sehingga cara orang tua mendidik anak sangat berpengaruh terhadap belajarnya. Jadi sekecil apapun sikap orang tua terhadap anak maka akan berpengaruh terhadap belajar anak.

Selain itu adanya suatu hubungan baik antara orang tua dan anak. Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh pengertian dan kasih sayang, disertai dengan bimbingan untuk mensukseskan belajar anak. Maka demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik di dalam keluarga anak tersebut. Selanjutnya agar anak dapat belajar dengan baik perlu diciptakan suasana rumah yang tenang dan tentram.

Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, juga membutuhkan fasilitas belajar. Ini yang sering menjadi permasalahan, siswa yang dengan keadaan ekonomi yang miskin akan sulit memenuhi itu semua, sehingga ini akan berpengaruh terhadap belajarnya.

2). Faktor Sekolah. Banyak sekali faktor-faktor yang terdapat di sekolah yang berpengaruh terhadap proses belajar siswa, antara lain metode mengajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Akibatnya siswa malas untuk belajar. Sebaliknya guru yang progresif berani mencoba metode-metode yang baru dapat meningkatkan kegiatan belajar mengajar, dan memotivasi siswa untuk belajar.

Selain metode juga terdapat kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (KTSP, 2007: 1). Sehingga guru harus bisa menyesuaikan pembelajaran dengan kurikulum yang berlaku saat itu.

Ada juga faktor lingkungan sosial siswa di sekolah. Hubungan siswa dengan guru ataupun siswa dengan siswa sangatlah berpengaruh terhadap pembelajaran. Menciptakan hubungan baik antar keduanya akan memberikan pengaruh yang positif terhadap  belajar. Dan yang terakhir adalah sarana dan prasarana pembelajaran merupakan pendukung kondisi pembelajaran yang baik.

Namun lengkapnya sarana dan prasarana tidak menjamin proses pembelajaran yang baik. Justru disinilah timbul masalah bagaimana mengelola sarana dan prasarana pembelajaran sehingga proses pembelajaran dapat terselenggara dengan baik.

3). Faktor Masyarakat. Pengaruh masyarakat terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Kegiatan yang berada di dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Kegiatan ini sangat banyak macamnya sehingga perlu adanya batasan supaya tidak mengganggu kegiatan belajar anak.

Selain kegiatan yang ada di masyarakat adalah adanya mass media yang sekarang lebih bebas dinikmati oleh anak harus selalu mendapat kontrol dari orang tua. Karena pengaruh dari mass media sangat besar terhadap belajar anak, juga agar siswa dapat belajar dengan baik maka perlulah diusahakan agar siswa memiliki teman bergaul yang baik dan pembinaan pergaulan yang baik serta pengawasan dari orang tua dan pendidik harus cukup bijaksana.

Demikian tentang pengertian belajar sebagai kelanjutan dari tulisan sebelumnya, Meningkatkan Mutu Pelajaran Menggambar Dengan Penerapan Pendekatan Kontekstual (sebuah.pengantar).

Terimakasih atas kunjungan Anda. Silakan menyimak materi selanjutnya.
 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel