Pembelajaran Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL)

a. Pengertian Pendekatan Kontekstual

Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu.

Menurut Syaiful Sagala pendekatan pembelajaran adalah aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran, apakah guru akan menjelaskan suatu pengajaran dengan materi bidang studi yang sudah tersusun dalam urutan tertentu, ataukah dengan menggunakan materi yang terkait satu dengan yang lainnya dalam tingkat kedalam yang berbeda, atau bahkan merupakan materi yang terintegrasi dalam suatu kesatuan multi disiplin ilmu (Syaiful Sagala, 2009: 68).

Pendekatan Pembelajaran dilakukan guru untuk menjelaskan materi pelajaran dari bagian-bagian yang satu dengan bagian lainnya berorientasi pada pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswa untuk mempelajari konsep, prinsip atau teori yang baru tentang suatu bidang ilmu. Pendekatan Pembelajaran memiliki sifat lugas dan terencana artinya memilih pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan perencanaan pembelajaran.

Salah satunya adalah pendekatan kontekstual, menurut Syaiful Sagala pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Syaiful Sagala, 2009: 87).

Menurut Masnur Muslich, Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Masnur Muslich, 2007: 41).

Ilustrasi Pembelajaran Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL)
Ilustrasi Pembelajaran Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL)

Contextual Teaching and Learning atau CTL adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Wina Sanjaya, 2007: 253).

Belajar dalam konteks CTL bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung (Wina Sanjaya, 2007: 253). Melalui proses pengalaman itu diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, yang tidak hanya berkembang dalam aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif dan juga psikomotorik.

Shawn and Linda (2004), CTL is a collaborative interaction with students, a high level of science content with other content and skill areas. Furthermore, the CTL strategies were best implemented when teachers used them in conjunction with sound classroom management techniques. CTL merupakan interaksi kolaboratif anak antara ilmu pengetahuan dengan kondisi area anak .

Belajar dalam konteks CTL bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung. Melalui proses berpengalaman itu diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, yang tidak hanya berkembang dalam aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif dan juga psikiomotorik.

Sarah (2005), CTL is one of the most powerful tools used in the career tech classroom. But teachers of other subjects are in increasingly recognizing its value, and programs such as the one at UGA are helping to promote the practice. CTL salah satu pendekatan yang sangat baik diterapkan di kelas dan di sini guru diharapkan mampu meningkatkan terus prakteknya.

Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning-CTL) merupakan konsepsi belajar yang membantu guru dalam mengaitkan bahan ajarnya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu:

1) Mengaitkan (relating).
Adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketika ia mengaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.

2) Mengalami (experiencing).
Merupakan inti belajar menghubungkan kontekstual dimana mengaitkan informasi baru dengan pengalaman berarti maupun pengetahuan sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.

3) Menerapkan (applying).
Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia melakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikan latihan yang realistis dan relevan.

4) Bekerjasama (cooperating).
Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.

5) Mentransfer (transfering).
Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hafalan.

b. Komponen Model Pembelajaran CTL
Pembelajaran berbasis CTL menurut Sanjaya dalam Sugiyanto (2008: 21) melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran, yaitu:

1) Kontruktivisme (Constructivism)
Adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pengetahuan memang berasal dari luar tetapi dikontruksi oleh dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut.

Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa bisa mengkontruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman nyata yang di bangun oleh individu si pembelajar.

2) Menemukan (Inquiri)
Artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Secara umum proses inquiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu:

  1. merumuskan masalah,
  2. mengajukan hipotesa,
  3. mengumpulkan data,
  4. menguji hipotesis,
  5. membuat kesimpulan.

Penerapan asas inquiri pada CTL dimulai dengan adanya masalah yang jelas yang ingin dipecahkan, dengan cara mendorong siswa untuk menemukan masalah sampai merumuskan kesimpulan. Asas menemukan dan berfikir sistematis akan dapat menumbuhkan sikap ilmiah, rasional, sebagai dasar pembentukan kreativitas.

3) Bertanya (Questioning )
Adalah bagian inti belajar dan menemukan pengetahuan. Dengan adanya keingintahuanlah pengetahuan selalu dapat berkembang. Dalam pembelajaran model CTL guru tidak menyampaikan informasi begitu saja tetapi memancing siswa dengan bertanya agar siswa dapat menemukan jawabannya sendiri.

Dengan demikian pengembangan keterampilan guru dalam bertanya sangat diperlukan. Hal ini penting karena pertanyaan guru menjadikan pembelajaran lebih produktif yaitu berguna untuk:
(a) menggali informasi penguasaan pembelajaran,
(b) tentang kemampuan siswa dalam membangkitkan motivasi siswa untuk belajar,
(c) merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu,
(d) memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan,
(e) membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.

4) Masyarakat Belajar ( Learning Community )
Berdasarkan pendapat Vygotsky (dalam Sugiyanto, 2008: 22), bahwa pengetahuan dan pengalaman anak banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain. Permasalahan tidak mungkin dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan bantuan orang lain.

Dalam model CTL hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, teman, antar kelompok dan bukan hanya guru. Dengan demikian masyarakat belajar dapat diterapkan melalui belajar kelompok dan sumber-sumber lain dari luar yang dianggap tahu tentang sesuatu yang menjadi fokus pembelajaran.

5) Pemodelan ( Modeling )
Adalah proses pembelajaran dengan memperagakan suatu contoh yang dapat ditiru oleh siswa. Dengan demikian modeling merupakan asas penting dalam pembelajaran CTL karena melalui CTL siswa dapat terhindar dari verbalisme atau pengetahuan yang bersifat teoretis- abstrak.

6) Refleksi ( Reflection )
Adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengurutkan dan mengevaluasi kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya untuk mendapatkan pemahaman yang dicapai baik yang bernilai positif atau negatif. Melalui refleksi siswa akan dapat memperbaharui pengetahuan yang telah dibentuknya serta menambah khasanah pengetahuannya.

7) Penilaian nyata ( Authentic Assessment )
Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak. Penilaian ini berguna untuk mengetahui apakah pengalaman belajar mempunyai pengaruh
positif terhadap perkembangan siswa baik intelektual, mental, maupun psikomotorik. Pembelajaran CTL lebih menekankan pada proses belajar dari pada hasil belajar.

Oleh karena itu penilaian ini dilakukan terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan dilakukan secara terintegrasi. Dalam CTL keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek.

c. Ciri-Ciri Pendekatan Kontekstual dalam Pelajaran Menggambar
Menurut Sugiyanto (2008: 26) mengemukakan ciri-ciri kelas yang menggunakan pendekatan kontekstual meliputi:

  1. Pengalaman nyata.
  2. Kerja sama, saling menunjang.
  3. Gembira, belajar dengan bergairah.
  4. Pembelajaran dengan terintegrasi.
  5. Menggunakan berbagai sumber.
  6. Siswa aktif dan kritis.
  7. Menyenangkan dan tidak membosankan.
  8. Sharing dengan teman.
  9. Guru kreatif.

d. Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Menurut Sugiyanto (2008:26) langkah-langkah pembelajaran kontekstual yaitu:
Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

  1. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
  2. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
  3. Menciptakan masyarakat belajar.
  4. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
  5. Melakukan refleksi di akhir penemuan.
  6. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

e. Landasan Filosofis Model Pembelajaran Kontekstual
Menurut Johnson (dalam Sugiyanto, 2008: 19) tiga pilar dalam Sistem CTL yaitu:

1) CTL mencerminkan prinsip kesaling-bergantungan.
Kesaling-bergantungan mewujudkan diri, misalnya ketika para siswa bergabung untuk memecahkan masalah dan ketika para guru mengadakan
pertemuan dengan rekannya. Hal ini tampak jelas ketika subjek yang berbeda dihubungkan dan ketika kemitraan menggabungkan sekolah dengan dunia bisnis dan komunitas.

2) CTL mencerminkan prinsip diferensiasi.
Diferensiasi menjadi nyata ketika CTL menantang para siswa untuk saling menghormati perbedaan-perbedaan untuk menjadi kreatif, untuk bekerja sama, untuk menghasilkan gagasan dan hasil baru yang berbeda dan untuk menyadari bahwa keragaman adalah tanda kemantapan dan kekuatan.

3) CTL mencerminkan prinsip pengorganisasian diri.
Pengorganisasian diri terlihat ketika para siswa mencari dan menemukan kemampuan dan minat mereka sendiri yang berbeda, mendapat manfaat dari umpan balik yang diberikan oleh penilaian autentik, mengulas usaha-usaha mereka dalam tuntunan tujuan yang jelas dan standar yang tinggi dan berperan serta dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada siswa yang membuat hati mereka bernyanyi.

Landasan filosofi CTL adalah Kontruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Pengetahuan tidak bisa dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah-pisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.

Kontruktivisme berakar pada filsafat pragmatisme yang digagas oleh John Dewey pada awal abad ke-20 yaitu  sebuah filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa.

Dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and LearningCTL) proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa untuk bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.

 Dalam konteks itu siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, mereka dalam status apa dan bagaimana cara mencapainya. Mereka akan menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya. Dengan demikian mereka mempelajari sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya.

Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Untuk menciptakan kondisi tersebut strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Melalui strategi CTL siswa diharapkan belajar mengalami bukan belajar menghafal.

f. Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Kontekstual
1) Kelebihan Pendekatan Kontekstual (CTL). Kelebihan Pendekatan Kontekstual antara lain:

(a) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.

(b) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme, diharapkan sisa belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.

2) Kelemahan Pendekatan Kontekstual (CTL)
Sedangkan Kelemahan Pendekatan Kontekstual antara lain:

(a) Guru lebih intensif dalam membimbing karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.

Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.

(b) Guru memberikan kesempatan kpada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel