Peran Bimbingan Dan Konseling (BK) Bagi Perkembangan Anak Usia Dini Di PAUD

Bimbingan & Konseling (BK) selama ini terkesan hanya mengatasi anak-anak yang mempunyai masalah saja, padahal BK juga membantu tercapainya segala aspek perkembangan anak. Baik aspek akademik, bakat dan minat, emosional, sosial dengan teman, penyesuaian diri di lingkungan yang baru, menemukan jati diri dan sebagainya.

Tentunya akan lebih baik jika diarahkan sejak dini agar tercapai segala aspek perkembangan anak yang maksimal.

Dari semua itu disinilah perlunya guru Bimbingan dan Konseling (BK) di PAUD dalam membantu mengidentifikasi permasalahan peserta didik dan membantu tercapainya segala aspek perkembangan peserta didik di  PAUD.

Ilustrasi Bimbingan & Konseling Di PAUD sebagai penjelasan Peran Bimbingan Dan Konseling (BK) Bagi Perkembangan Anak Usia Dini Di PAUD
Ilustrasi Bimbingan & Konseling Di PAUD

Lembaga ini juga bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perkembangan fisik, motorik, kognitif, dan mental spiritual. Agar apa yang dibebankan kepada guru PAUD dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan maka diperlukan bimbingan dan konseling (BK) di lembaga tersebut.

Program BK ini sebenarnya sama pentingnya dengan program BK di sekolah menengah, sama sama memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu peserta didik agar bisa berkembang  sesuai bakat, minat serta kemampuannya secara optimal serta dapat mencegah terjadinya masalah yang mungkin akan muncul pada peserta didik.

Adanya bimbingan dan konseling di PAUD bukan berarti sekedar ikut-iktan saja. Keberadaan bimbingan konseling di lingkungan PAUD juga dibutuhkan. Sebab, banyak perilaku bermasalah muncul pada peserta didik ketika dewasa yang disebabkan oleh masa lalunya diwaktu kecil.

Hal ini menunjukan bahwa masa-masa awal anak telah kecolongan dalam hal tindakan pencegahan terhadap munculnya perilaku bermasalah di masa depan.

Perlu ditegaskan disini bahwa bimbingan dan konseling di lembaga PAUD tidak hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai perilaku bermasalah, melainkan juga harus diberikan kepada mereka yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.

Dengan demikian, konseling bukan hanya untuk mengatasi perilaku bermasalah pada anak didik, melainkan juga tindakan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya anak secara maksimal.

Peran Bimbingan Dan Konseling (BK) Bagi Perkembangan Anak Usia Dini Di PAUD

1. Menjaga Originalitas kebribadian anak
Kepribadian anak masih luwes, mudah dibentuk, sangat fleksibel, dan belum mengalami peristiwa traumatik yang mengakar dalam hati sanubarinya atau alam bawah sadarnya. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa anak yang dijaga originalitas kepribadiannya akan tumbuh secara alamiah menuju tahap-tahap perkembangan kepribadian yang lebih baik.

Semua ini dilakukan oleh anak yang bersangkutan dengan tanpa beban dan tanpa tekanan mental dari pihak manapun, sehingga nuansa kebebasan yang diperolehnya semakin mempercepat pertumbuhan dan perkembangannya.

2. Membina hubungan yang baik antar Orang Tua dengan Guru di PAUD
Umumnya, orang tua atau orang dewasa yang mengasuh anak didik masih menjalani komunikasi intens dengan pihak sekolah jika anak yang diasuhnya masih berada di lingkungan lembaga PAUD.

Dalam hal ini, secara tidak sengaja telah terjadi interaksi yang sangat intens antara anak didik, guru dan orang tua. Kegiatan ini dapat dimanfaatkan untuk mengarahkan tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah sehingga anak didik akan terjauh dari gangguan mental dan perilaku bermasalah dan mempercepat pertumbuhannya.

3. Persiapan mental peserta didik untuk memasuki Sekolah Dasar
PAUD selain mempunyai kepribadian yang matang untuk memasuki Sekoilah Dasar, mereka juga dituntut untuk mempunyai kemampuan akademik, berupa membaca, menulis, berhitung dengan baik.

Adapun tujuan diberikannya bimbingan dan konseling bagi peserta didik.selain itu, bimbingan konseling juga membantu guru mengidentifikasi bakat,minat, dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

4. Stabilitas perkembangan Fisik-Motorik Peserta didik
Bimbingan konseling menjaga stabilitas serta keseimbangan perkembangan fisik-motorik peserta didik agar mereka dapat tumbuh kembang sesuai dengan tugas perkembangannya secara normal dan seimbang.

Dengan demikian bimbingan dan konseling pada aspek fisik-motorik harus dapat menekankan pada keseimbangan antara perkembangan motorik kasar dan motorik halus.

a.  Motorik Kasar
Motorik kasar merupakan gerakan fisik yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, dengan menggunakan otot-otot besar, sebagian atau seluruh anggota tubuh. Contohnya, berjalan, berlari, berlompat, dan sebagainya.

Perkembangan motorik kasar pada bayi memiliki rangkaian tahapan yang berurutan. Artinya setiap tahapan harus dilalui dan dikuasai dulu sebelum memasuki tahapan selanjutnya. Tidak semua bayi akan menguasai suatu keterampilan di usia yang sama, karena perkembangan anak bersifat individual.

Tapi perbedaan itu tidak disebabkan bayi yang satu lebih pandai daripada bayi yang lain. Perkembangan keterampilan tidak ada pengaruhnya langsung dengan kecerdasan.

Berikut merupakan tahapan perkembangan motorik pada anak sesuai dengan pertumbuhan usianya :

⃠. ANAK USIA 3 TAHUN
  • Berbalik atau berhenti secara tiba-tiba atau cepat
  • Melompat dengan lompatan kurang lebih 37-60 cm
  • Naik tangga tanpa dibantu
  • Meloncat dengan tambahan beberapa variasi lompatan


⃠. ANAK USIA 4 TAHUN
  • Sangat aktif, mampu meniru, mengikuti dan menikmati berbagai gerakan yang dicontohkan
  • Mampu mengontrol gerakan dan memberikan respon bila diberi petunjuk orang dewasa. Seperti berhenti, memulai, atau berputar yang lebih efektif
  • Naik turun tangga dengan langkah kaki yang saling bergantian


⃠. ANAK USIA 5 TAHUN
  • Mampu melakukan gerakan dengan konstan dan waktu istirahat yang pendek
  • Mampu mengikuti permainan fisik yang bersifat sosial
  • Mampu menaik sepeda roda tiga
  • Berjalan di garis lurus ke depan atau ke belakang
  • Melompat ditempat dengan 1 kaki
  • Berjalan di atas papan keseimbangan


b. Motorik Halus
Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinyu secara rutin. Seperti, bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya.

Kecerdasan motorik halus anak berbeda-beda. Dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. perbedaan ini juga dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulai yang didapatkannya. Lingkungan (orang tua) mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam kecerdasan motorik halus anak. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa pertama kehidupannya.

Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi tepat. Di setiap fase, anak membutuhkan rangsangan untuk mengembangkan kemampuan mental dan motorik halusnya. Semakin banyak yang dilihat dan didengar anak, semakin banyak yang ingin diketahuinya.

Jika kurang mendapatkan rangsangan anak akan bosan. Tetapi bukan berarti Anda boleh memaksa si kecil. Tekanan, persaingan, penghargaan, hukuman, atau rasa takut dapat mengganggu usaha  yang dilakukan si kecil.

Berikut perkembangan motorik halus anak berdasarkan tahapan usianya :

⃠. ANAK USIA 3 TAHUN
  • Menggambar mengikuti bentuk
  • Menarik garis vertikal, menjiplak bentuk lingkaran
  • Membuka menutup kotak
  • Menggunting kertas mengikuti pola garis lurus


⃠. ANAK USIA 4 TAHUN
  • Menggambar sesuatu yang diketahui, bukan yang dilihat
  • Mulai menulis sesuatu dan mampu mengontrol gerakan tangannya
  • Menggunting zig zag, melengkung, membentuk dengan lilin
  • Menyelesaikan pasel 4 keping


⃠. ANAK USIA 5 TAHUN
  • Melipat
  • Menggunting sesuai pola
  • Menyusun mainan konstruksi bangunan
  • Mewarnai lebih rapi tidak keluar garis
  • Meniru tulisan.


5. Stabilisasi Perkembangan Kognitif Peserta didik
Peran bimbingan dan konseling dalam perkembangan kognitif anak adalah memandu perkembangan kognitif anak agar tidak terjebak pada pola pikir mistik yang irasional. Maka dari itu perkembangan kognitif anak masih sangat sensitif, sehingga mudah meyakini segala hal tanpa melalui pemahaman yang benar.

Oleh sebab itu peranan BK segaligus sebagai konselor memandu perkembangan kognitif peserta didik tahap demi tahap sehingga mampu berpikir secara logis atau rasional.

6. Stabilitas Perkembangan Bahasa
Peran BK dalam perkembangan bahasa adalah mendikteksi keterlambatan berbicara anak. Normalnya anak-anak mengembangkan keterampilan-keterampilan berbahasa dasar sebelum masuk sekolah. Perkembangan bahasa meliputi dua-duanya, komunikasi lisan dan tertulis.

Kemampuan-kemampuan verbal berkembang amat dini, dan menjelang usia 3 tahun, sudah menjadi terampil.

Sekitar usia 1 tahun, anak mengucapkan ungkapan-ungkapan satu-kata seperti “da-da” dan “mama”. Kata-kata ini secara khusus menyatakan objek-objek dan kejadian-kejadian yang penting bagi anak tersebut. Menjelang waktu mereka mulai sekolah, anak-anak telah menguasai hampir seluruh aturan-aturan tatabahasa, dan perbendaharaan kata mereka terdiri dari ribuan kata-kata.

· Bahasa Lisan
Perkembangan bahasa lisan, tidak hanya memerlukan belajar kata-kata tetapi juga belajar aturan-aturan penyusunan kata dan kalimat. Sebagai misal, anak-anak Amerika belajar aturan-aturan bagaimana membentuk kata jamak sebelum mereka masuk taman kanak-kanak.

Berko (1985) menunjukkan kepada anak-anak sebuah gambar burung, yang disebut “Wug”. Ia kemudian menunjukkanada mereka dua gambar seperti itu yang sama dan mengatakan “Sekarang ada satu lagi yang lain. Jadi ada dua .” Anak-anak itu menjawab, “Wugs”, ia menunjukkan bahwa mereka dapat menerapkan aturan-aturan umum untuk pembentukan kata jamak pada suatu situasi baru.

· Membaca
Anak kecil sering belajar konsep bahwa tulisan huruf cetak disusun dari kiri ke kanan, spasi antar kata-kata mempunyai maksud, dan buku dibaca dari muka ke belakang.

Banyak anak-anak masa usia dini  dapat “membaca” buku dari awal sampai akhir dengan menginterpretasikan gambar-gambar yang ada di tiap halaman. Mereka memahami alur cerita dan sering dapat meramal  yang akan terjadi selanjutnya pada cerita yang sederhana.

· Menulis
Kebanyakan anak-anak mulai memahami dasar-dasar menulis selama masa awal. Anak-anak seusia 3 tahun mengenali perbedaan antara tulisan dan lukisan. Mereka secara bertahap mulai membedakan karakteristik tulisan yang khusus, misalnya apakah garis-garis itu lurus atau lengkung, terbuka atau tertutup, diagonal, horizontal, atau vertikal, dan bagaimana orientasi garis-garis itu.

Namun pada saat duduk di bangku Sekolah Dasar, banyak peserta didik  yang terus menerus bingung membedakan huruf-huruf seperti b dan d serta p dan q sampai mereka menyadari bahwa orientasi huruf-huruf itu merupakan karakteristik  yang penting .

7. Stabilitas Perkembangan Sosial Emosional
Perkembangan sosil emosonal terdiri dari dua kata, yakni perkembangan sosial  dan perkembangan emosional. Perkembangan sosial berkaitan dengan peningkatan dalam hal interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat luas.

Peran BK dalam perkembangan sosial emosional ini adalah mengantisipasi perilaku sosial anak sejak dini dan memberikan terapi psikis agar anak yang mengalami masalah dapat mengendalikan emosinya.

· Pergaulan Teman Sebaya.
Selama tahun-tahun pendidikan anak usia dini, teman sebaya (anak-anak lain yang sebaya dengan seorang anak) mulai memegang peran yang semakin penting dalam perkembangan sosial dan kognitif anak (Garvey, 1990).

Pergaulan anak dengan teman sebaya mereka dalam beberapa hal berbeda dari interaksi mereka dengan orang dewasa. Bermain-main dengan teman sebaya memungkinkan anak berinteraksi dengan individu lain yang tingkat perkembangannya serupa dengan diri mereka sendiri.

 Pada saat anak-anak sebaya mengalami perselisihan di antara mereka sendiri, mereka harus membuat konsesi dan harus bergotong-royong dalam memecahkan masalah itu jika permainan itu hendak dilanjutkan; tidak seperti pada perselisihan orang dewasa- anak-anak, dalam suatu perselisihan sebaya tidak seorang pun dapat mengklaim memiliki otoritas menentukan.

Konflik sebaya juga memungkinkan anak-anak melihat bahwa anak-anak lain memiliki pemikiran, perasaan, dan pandangan yang berbeda dengan milik mereka sendiri. Konflik juga menambah kepekaan anak terhadap pengaruh perilaku mereka terhadap orang lain.

Dengan cara ini, pergaulan teman sebaya, membantu anak mengatasi egosentrisme yang dideskribsikan Piaget sebagai suatu karakteristik pemikiran formal (Kutnick, 1988).

· Perilaku prososial
Adalah tindakan sukarela tertuju kepada orang lain seperti ngemong, berbagi, menyenangkan, dan kerja sama. Memahami akar perilaku prososial telah menyumbang kepada pengetahuan kita tentang moral di samping juga perkembangan sosial anak-anak.

Beberapa faktor tampaknya berhubungan dengan perkembangan perilaku prososial (Eisenberg & Mussen, 1989). Ini meliputi beberapa hal sebagai berikut: Teknik-teknik pendisiplinan anak oleh orang tua yang menekankan pada konsekwensi-konsekwensi perilaku anak-anak terhadap orang lain dan teknik-teknik itu diterapkan dalam suatu hubungan orang tua anak yang hangat dan responsif.

8. Stabilitas Perkembangan Moral Keagamaan
Peran BK pada Perkembangan Moral keagamaan adalah membantu anak untuk menerima dan mengakui sumber moral tertinggi, yaitu TUHAN. Oleh karena itu sebagai pendidik dalam memberikan bimbingan harus selalu mengaitkan perilaku moral dengan agama, kepercayaan terhadap Tuhan, karena sumber moral pada anak-anak berawal dari pengenalan dirinya dengan TUHAN.

MASALAH PESERTA DIDIK di PAUD

1. Pengertian Masalah
Masalah adalah perbedaan antara apa yang kita miliki. Jadi, bila kenyataan yang kita hadapi tidak identik dengan apa yang kita inginkan, berarti kita punya masalah, bila apa yang kita hadapi sekarang, tidak sesuai dengan yang kita inginkan, berarti kita punya masalah.

Anak dikatakan bermasalah jika mereka mengalami ketidak sesuaian antara harapan dengan kenyataan yang diinginkannya, tidak terpenuhinya kebutuhannya serta merasa ada sesuatu hal yang tidak mengenakan pada dirinya.

2. Jenis-jenis masalah peserta didik di PAUD
a. Pola pikir anak (aspek kognitif)
Perilaku bermasalah pada aspek kognitif, paling tidak terdiri dari sepuluh kejadian , yaitu :

-  Berpikir Irasional
Anak-anak PAUD terlebih lagi berusia 3 tahun, pikirannya masih sangat terbatas. Ia hanya bisa berpikir secara konkret mengenai benda-benda yang nyata di sekelilingnya.

Tetapi seringkali anak anak PAUD telah “mengenal” kata kata abstrak yang sesungguhnya tidak diketahui, misalnya suara halilintar dikira suara bom, suara benda jatuh yang tidak kelihatan dikira suara amukan nenek sihir, dan lain-lain.

Dalam pandangan konseling behavior, pikiran-pikiran Irasional sebagaimana disebutkan disebabkan oleh orang tua,termasuk guru dan orang-orang di sekeliling anak juga perpikir secara tidak rasional.

-  Pikiran negatif
Apakah pikiran negatif itu? Pikiran negatif adalah pikiran-pikiran buruk terhadap berbagai hal.misalnya, jika ada teman yang mendekatinya, dikira ada apa-apa (ingin meminjam mainan, misalnya), jika dirinya tidak diajak bermain bersama, takut atau khawatir akan dipermainkan, jika temannya menang dalam permainan, dikira ia curang.

Dalam pandangan konseling behavior, pikiran-pikiran negatif seperti itu akan menimbulkan perilaku bermasalah di kemudian hari.

-  Suka menyalahkan orang lain dan menganggap dirinya paling benar.
Hal ini biasa terjadi ketika muncul peristiwa – peristiwa yang tidak diinginkan. Model berpikir seperti ini berpotensi menimbulkan perilaku bermasalah di kemudian hari.

-  Malas masuk sekolah.
Fenomena ini sudah menjadi gejala umum, terutama di daerah perkotaan. Ironisnya, banyak orang tua yang tidak mampu memberikan bimbingan dan konseling yang tepat, sehingga mengambil jalan pintas dengan cara memaksanya.

Sebenarnya kemalasan untuk sekolah pada anak usia dini bukanlah persoalan yang akut.tetapi karena orang tua menanggapinya dengan kekerasan atau kekasaran.

- Tidak mau belajar.
Hal ini disebabkan karena orang tua memanjakan anak,.akibatnya anak menjadi cengeng, dan sulit diajak berpikir secara logis.

-  Sulit menghapal kata dan nama benda.
Kesulitan dalam menghapal disebabkan oleh pikiran irasional, berupa anggapan yang mengharuskan dirinya lebih kompeten, ideal dan sempurna dalam segala hal.menyebabkan anak menjadi tertekan oleh tuntutan dalam pikirannya sendiri.

-  Tidak mau memperhatikan pelajaran.
Anak PAUD biasanya tidak mau memperhatikan pelajaran ketika guru mengajar sebagai bentuk pelampiasan mencari kemudahan.

- Terlambat berpikir
Banyak anak-anak yang sulit memahami perintah-perintah tertentu atau penjelasan pelajaran, akibatnya ia tertinggal dengan teman-temannya.akibatnya ia merasa malu, minder, lemah mental, rendah diri,dan lain sebagainya.

- Pelupa
Anak-anak hanya mengingat peristiwa-peristiwa rutin sehari-hari akan, cenderung mengingat peristiwa penting yang mengesankan, dan mengesampingkan hal-hal yang kecil / yang lebih kecil dari pada peristiwa besar yang mengesankan tadi.

- Rendah rasa ingin tahunya
Hampir setiap anak memiliki fitrah rasa ingin tahu yang sangat tinggi, tetapi beberapa anak terutama yang bermasalah sangat rendah rasa ingin tahunya,.akibatnya anak tidak memiliki motifasi hidup dan bersikap acuh terhadap segala hal.
                                               
b.Masalah fisik motorik, antara lain :
  • Tangannya kidal
  • Berjalan pincang
  • Buta,tuli,dan bisu
  • Terlalu gemuk
  • Berambut keriting


c. Sosio emosional
  • Pendiam, pemalu, minder
  • Egois
  • Sulit berteman
  • Menolak realitas ( suka membuat kegaduan)
  • Bersikap kaku
  • Tidak objektif
  • Membenci guru tertentu
  • Citra diri yang negatif.


d. Moral keagamaan
  • Anak nakal
  • Anak yang sombong dan congkak
  • Anak suka berbohong dan penipu
  • Bersikap kasar dan tidak sopan
  • Suka membantah perintah orang tua dan guru
  • Keras kepala
  • Kikir, iri, dan dengki
  • Sulit diajak belajar beribadah.
  • Terpengaruh ritual agama lain

3. Langkah-langkah penanganan masalah peserta didik di PAUD
a. Gambaran masalah
b. Latar belakang dan latar depan masalah
c. Pengumpulan data
d. Usaha pencegahan. Usaha pencegahan ini bisa dilakukan dengan cara :
  1. Membuat kondisi sekolah yang menyenangkan
  2. Menumbuhkan motifasi belajar yang kuaad pada peserta didik
  3. Menyediakan alat dan fasilitas belajar yang memadai.dll

e. Usaha pemecahan masalah
f.  Pihak pihak yang terelibat

Adapun beberapa tugas-tugas bimbingan dan konseling dalam menangani masalah peserta didik di PAUD, yaitu :
  • Buatlah anak sedikit bisa mendebat (disputing) terhadap keyakinannya tersebut.contohnya, buatlah anak mempertanyakan hal- hal yang rasional, termasuk hal-hal sebagaimana diatas.
  • Jika anak malas masuk sekolah, jelaskan kepada anak bahwa ia bukan sedang masuk sekolah, tetapi bermai. Jadi,ketika anak berangkat sekolah, pada hakikatnya anak bermain.sebab kegiatan anak PAUD adalah bermain.
  • Proses komunikasi harus berjalan dengan baik sehingga anak tidak menunjukan sikap yang tidak sesuai dengan dirinya.
Demikian pembahasan tentang Peran Bimbingan Dan Konseling (BK) Bagi Perkembangan Anak Usia Dini Di PAUD, semoga bermanfaat.

Simak juga pembahasan menarik yang lainnya......

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel