Karakteristik & Media Karya Seni Rupa Anak Usia Dini

A. MEDIA BERKARYA 

1. Media Berkarya 

Ragam atau corak adalah sesuatu yang menjadi ciri khas gambar. Gambar anak juga mempunyai ragam dan gaya yang khas. Beberapa ahli memberi keterangan, bahwa ragam anak tidak dapat diketahui jumlahnya. Sebanyak anak yang ada adalah sebanyak itu pula ragam gambarnya. Namun demikian ragam gambar anak itu tergantung pada beberapa hal:
  • medium atau bahan yang digunakan untuk berkarya,
  • cara mengungkapkan yang khas anak sesuai dengan usia perkembangannya,
  • pengaruh internal dari keluarga sebagai faktor turunan, namun  hal yang terakhir ini belum semuanya para ahli menerimanya. Faktor terakhir ini juga merupakan faktor yang tidak mutlak.

Setelah mencermati kegiatan berseni rupa, maka dapat dilihat medium atau bahan yang sedianya dipakai untuk menggambar. Menggambar adalah usaha untuk mengutarakan pendapat, jika pada suatu  saat anak sulit mengutarakan pendapat, maka anak akan merasa pekerjaan dan perasaannya belum tuntas.

Pada kesempatan ini dibahas tentang faktor bahan atau media sangat menentukan kelancaran menggambar; bagi anak-anak yang tidak menguasai bahan atau medium untuk berkarya seni rupa akan mengalami keterlambatan. Keterlambatan menguasai bahan dan peralatan biasanya mempengaruhi kelancaran mengutarakan pendapat.

Di samping itu, melalui pemahaman mengenai medium tersebut akan memunculkan ragam karya yang dihasilkan.  
  1. karya tersebut sebagai karya murni hanya digunakan untuk mengutarakan;  
  2. karya terapan yaitu karya gambar atau bentuk yang dan berfungsi praktis;  
  3. karya modifikasi yang berguna untuk mengganti objek asli ketika berekspresi tidak ada dalam lingkungan anak.

Seperti telah diungkap sebelumnya, bahwa karya seni rupa anak menjadi catatan harian anak juga. Sehingga, terdapat beberapa karya seni rupa yang difungsikan untuk kegiatan praktis ataupun untuk mengutarakan pendapat.

Sebenarnya kegiatan yang dilakukan oleh anak tidak saja harus menggambar, dapat pula kegiatan menyusun benda-benda yang ada di ruangan seperti perabot dan partisi serta beberapa tanaman hias. Tujuannya adalah untuk melatih kemampuan mengamati dan menyusun perabot menuju tata letak yang indah sesuai dengan keinginan anak.

Secara garis besar kegiatan anak berkarya rupa dapat dibuat skema alur sebagai berikut:

Bagan kegiatan anak berkarya rupa
Bagan 1, Kegiatan anak berkarya rupa

Keterangan:  
Memodifikasi  adalah mengubah benda asli menjadi benda atau karya yang berfungsi lain, seperti:
  • Botol yang difungsikan oleh seorang anak perempuan sebagai boneka; batu difungsikan oleh anak laki-laki sebagai mobil yang dapat digerakkan dan diperankan sebagai mobil angkutan.
  • Menciptakan  adalah membuat sesuatu yang lain dari yang lain, berupa bentuk, media atau pun ragam karya rupa yang berbeda dengan yang pernah ada.

2. Dimensi 

Tampilan dan ujud seni rupa berbentuk 2 dimensi dan 3 dimensi. Arti dimensi atau matra adalah ukuran. Seni rupa 2 dimensi mempunyai ukuran panjang kali lebar atau luas. Ukuran ini untuk melihat sisi depan dan sisi belakang. Sedangkan, seni rupa 3 dimensi mempunyai ukuran panjang kali lebar kali tinggi atau dengan atas atau bawah  ber-ruang (isi, volume).

Contoh seni rupa 2 dimensi adalah lukisan, gambar dan lain-lain. Sedangkan seni rupa 3 dimensi adalah seni bangun, patung, keranjang dan lain-lain. 

B. KARAKTERISTIK KARYA SENI RUPA ANAK USIA DINI

1. Konsep Bentuk Keruangan dan Waktu Gambar Anak Anak Usia Dini 

a. Konsep Ruang 

Sebelum mempelajari prinsip ruang dalam gambar anak usia dini sebaiknya Anda mengamati karya gambar anak di bawah ini.

Gambar (dibuat oleh anak usia 5 tahun) pernyataan “keruangan” digambarkan dengan menebarkan penonton yang bersimbol bulatan-bulatan
Gambar 1 (dibuat oleh anak usia 5 tahun) pernyataan “keruangan” digambarkan dengan menebarkan penonton yang bersimbol bulatan-bulatan

Gambar dibuat anak usia 6 tahun menjelang  kelas 1 (SD); untuk menyatakan ruangan, anak meletakkan objek yang semestinya jauh berada di atas yang lain (juxta position).
Gambar 2. Dibuat anak usia 6 tahun menjelang  kelas 1 (SD); untuk menyatakan ruangan, anak meletakkan objek yang semestinya jauh berada di atas yang lain (juxta position).

Ruangan dinyatakan dalam bentuk rumah
Gambar 3. Ruangan dinyatakan dalam bentuk rumah

Ketiga gambar di atas merupakan penanda ruang atau  perspektif anak, namun masing-masing mempunyai karakteristik berbeda.
  • Pada Gambar 1 (dibuat oleh anak usia 5 tahun) pernyataan “keruangan” digambarkan dengan menebarkan penonton yang bersimbol bulatan-bulatan. Visi anak telah mampu menunjukkan bahwa penonton yang berada di dekat objek utama mempunyai ukuran lebih besar. Dalam gambar keramaian di stadion sepak bola ini para penonton dibedakan bentuknya; penonton yang berada di kejauhan digambar lebih kecil. Gejala ini merupakan penanda perkembangan realismenya. Hal ini dapat terjadi karena perkembangan otak (pikiran) lebih cepat daripada yang lain.
  • Sedangkan, Gambar 2 di bawahnya menunjukkan pernyataan “keruangan” yang berbeda secara perspektif. Gambar di bawah dibuat anak usia 6 tahun menjelang  kelas 1 (SD); untuk menyatakan ruangan, anak meletakkan objek yang semestinya jauh berada di atas yang lain (juxta position). Kondisi ini menandakan emosi anak masih tinggi. Rasa dan ekspresi anak masih terhambat oleh kuatnya emosi.
  • Pada Gambar 3 ruangan dinyatakan dalam bentuk rumah.  Perhatikan cara menggambar rumah; anak menyatakan perspektif ruang  dengan membuat gambar rumah terlihat ¾ samping. Garis tembok pada  rumah dibuat miring dan diikuti oleh kemiringan jendela serta rangka yang lain. Akan tetapi anak tidak konsisten menyatakan perspektif garis dasarnya. Dasar rumah dibuat datar sejajar dengan tanah, atau bertumpu pada tanah sebagai garis dasar.
Lukisan anak telah  sedikit menunjukkan perspektif (jarak kejauhan) dengan membuat garis menuju ke belakang.
Gambar 4, lukisan anak telah  sedikit menunjukkan perspektif (jarak kejauhan) dengan membuat garis menuju ke belakang.

Lain halnya dengan Gambar 4, lukisan anak telah  sedikit menunjukkan perspektif (jarak kejauhan) dengan membuat garis menuju ke belakang. Ruangan ini dimaksudkan sebagai jalan menuju belakang ibu guru dan figur yang berada di belakang dimaksudkan sebagai objek yang jauh.

Karya anak berusia 2 - 4 tahun, karya-karyanya belum stabil
Gambar 5. Karya anak berusia 2 - 4 tahun, karya-karyanya belum stabil.

Ketika anak masih berusia 2 sampai dengan 4 tahun karya-karyanya belum stabil. Objek yang diutarakan dalam Gambar 5, belum disadari penuh oleh anak, kadang hanya merupakan goresan tanpa bermaksud menggambar sesuatu, melainkan hanya gerakan tangan  untuk melemaskan otot (fisiologis). Sebagian anak telah mampu mengamati objek di depan matanya untuk di gambar, akan tetapi gambar/coretan belum berujud.

Gambar-gambar tersebut hanya berupa garis-garis. Bagi orang dewasa garis-garis tersebut tidak berfungsi, akan tetapi bagi anak sebenarnya merupakan simbol benda atau objek yang dilihatnya. Untuk menyatakan ruangan, anak membuat huruf yang berbeda ukurannya yaitu semakin  mendekati gambar orang semakin besar.

Gaya gambar gerak ini memberikan gambaran bahwa huruf R ditata dengan irama yang menunjukkan gerakan figur orang yang sedang berjalan. Jalan dinyatakan berbelok-belok sesuai dengan jauh dan dekatnya pada penggambar.

Simbol huruf R tersebut secara substansi telah mewakili gerakan, akan tetapi secara fisik, garis sebagai tanda orang berjalan mewakili jalan yang berbelok-belok. Setiap selesai menggambar satu baris, diterangkan sendiri, demikian pula selanjutnya.

Pada suatu saat setelah  selesai menggambar, karya tersebut diberi judul naik kereta oleh anak dengan visualisasi dirinya bergerak sambil memposisikan tangan kanan maju ke depan untuk menirukan belokan. Namun selang beberapa saat, gambar diberi  judul lagi: naik bus ke tempat kakek.

Jika dilihat dari sudut perkembangan tubuh, penglihatan anak adalah sebagai berikut.

Parsial, artinya anak masih belum dapat melihat  secara jelas bahwa bagian-bagian dari objek mempunyai hubungan satu dengan yang lain.
  • Dipengaruhi egosentrisme, yaitu rasa keakuannya masih tinggi sehingga yang diamati adalah sesuatu dari objek yang dia senangi. Dengan demikian apa yang diamati anak hanya sebagian dari objek yang menarik perhatiannya. 
  • Gerak fisiologis tangan dan koordinasi dengan otak belum seimbang. Kadang pikiran anak telah mampu menjangkau bentuk objek secara rinci dan dianggap menarik perhatiannya, namun di sisi lain keterampilan untuk menyatakan objek belum dimiliki anak. Akibatnya adalah anak terkesan malas menggambar.
  • Pikiran atau perasaan lebih cepat bertindak dari pada tangannya, sehingga anak menjadi kebingungan untuk menyatakan  bentuk objek. Anak terkesan malas memperhatikan objek nyata dan menggambarnya. 
  • Gaya anak mungkin berbeda dengan yang lain. Dalam perkembangan pikiran, gambaran yang telah terjadi sebelumnya, berubah menjadi persepsi. Persepsi ini kemudian berkembang terus menjadi dorongan bentuk objek dengan mengasosiasikan (menghubungkan  dan menyamakan) dengan objek sebelumnya. 

Sebagai contoh: anak diminta menggambar kursi yang ada di depannya. Anak tidak menggambar kursi tersebut melainkan menggambar kursi yang pernah dilihat, yaitu seperti angka 4 terbalik sehingga yang ada dalam kertas gambar adalah angka 4 terbalik.

Konsep keruangan yang ada pada gambar anak menjadi berbeda dengan karya orang tua, ruang dinyatakan dalam bentuk simbol suasana, dan yang lain berbentuk simbol perspektif, seperti semakin jauh objek mengecil, dan perbedaan warna karena objek semakin mengabur. Gaya ini akan berangsur 
beralih menjadi realistik (nyata) ketika anak telah dapat memisahkan pikiran dan rasa. 

b. Konsep Waktu 

Selanjutnya, amatilah dua buah lukisan di bawah ini, Anda diminta menebak terlebih dahulu arti matahari pada gambar pertama yang diletakkan di sebelah kanan atas serta kumpulan ayam dan telur pada gambar kedua.

Gambar karya anak; letak matahari di samping kanan gambar kapal menandakan waktu pagi hari
Gambar 6. Gambar karya anak; letak matahari di samping kanan gambar kapal menandakan waktu pagi hari 

Gambar 7. 

Pertanyaan di bawah ini akan menuntun Anda dalam mengamati dua gambar yang berbeda, yang menjelaskan prinsip dan konsep waktu yang diajukan anak dalam gambarnya:
  1. Unsur apa saja yang terdapat pada gambar pertama?
  2. Apa arti masing-masing unsur tersebut?
  3. Apa arti anak ayam di dalam perut ayam besar dan ayam besar di dalam telur?
  4. Berdasarkan gambar kurva, anak  termasuk tipe apa?


Wawasan Jawaban 
  • Anak adalah sosok manusia yang belum dewasa dalam segi usia, perkembangan mental dan kejiwaannya, serta badannya. Apa yang dinyatakan dalam gambar anak sebenarnya merupakan ekspresi kejujurannya memahami lingkungan. Akan tetapi, guru sering kali membelenggu keinginan anak ketika sedang/akan menggambar.
  • Perintah yang tidak sesuai dengan alam pikiran anak atau perintah mencontoh dan membetulkan gambar, menjadikan anak tidak banyak berkreasi. Pernyataan anak tentang waktu akan terhambat oleh perintah guru.

Bertolak dari contoh gambar di atas, dapat diuraikan sebagai berikut: terdapat dua tipe anak dalam mengungkapkan waktu
  • Anak menggambarkan matahari ada di atas sebelah kanan merupakan penanda bahwa suasana tersebut terjadi pada waktu matahari  bisa dilihat yaitu pagi atau siang hari. Namun dalam Gambar 6 letak matahari di samping kanan gambar kapal menandakan waktu pagi hari.
  • Sedangkan  Gambar 7 memberi tanda perjalanan waktu. Sebagai contoh: Pikiran anak menyatukan cerita ayam yang pernah didengarnya dari kakeknya dalam bentuk dongeng menjelang tidur, dengan peristiwa pada waktu  diajak ayahnya melihat seekor ayam.

Pada jaman dahulu kala ayam itu berasal dari telur dan telur ditetaskan oleh induknya. Siklus ini menunjukkan waktu yang kualitatif sehingga tidak bisa ditebak kapan kejadian itu berlangsung.

Pikiran anak merujuk kepada waktu kualitatif yaitu dahulu, sekarang, dan masa yang akan datang. Hal ini berbeda dengan waktu yang ditunjuk pada gambar kiri; yaitu waktu kuantitatif (jam dan hari) sedangkan yang lain bersifat kualitatif yang dinyatakan dalam masa.

2. Perkembangan Gambar Seni Rupa Anak 

a. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan 

Gambar anak usia 2 sampai dengan 4 tahun mempunyai  sifat yang berbeda, walaupun pada umumnya sama. Perbedaan ujud serta prinsip tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.

  • Faktor eksternal adalah faktor luar seperti pembinaan sanggar, pengamatan guru atau anak terhadap dunia dan objek  nyata serta pengaruh kehidupan sosial orang tua dan masyarakat sekelilingnya. 
  • Faktor internal merupakan faktor yang berkembang secara otomatis, seiring dengan perkembangan tubuh dan mentalnya. Faktor ini tidak kelihatan, akan tetapi secara substansi dapat mempengaruhi pikiran anak, misalnya: cara berpikir, berkomunikasi dengan orang lain.
Faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap perkembangan pikiran dan perasaan anak secara langsung maupun tidak langsung dalam berkarya. Pengaruh langsung tersebut memberikan gambaran bentuk yang sangat nyata terhadap objek yang digambar. Sedangkan, pengaruh yang tidak langsung adalah pengaruh yang mengubah cara berpikir dan bertindak. Perkembangan ini menuju objek yang dapat diamati secara rinci (detail).
Faktor yang Mempengaruhi Lukisan Anak
Bagan 2. Faktor yang Mempengaruhi Lukisan Anak
Selanjutnya perkembangan intelektual, emosional maupun persepsi dapat dikategorikan sebagai perkembangan mental. Misalnya:

Pertumbuhan Anak
Tabel 1. Pertumbuhan Anak

Pada Tabel 1 tergambarkan contoh ketidakseimbangan usia mental dengan usia perkembangan biologis. Pertumbuhan anak berdasarkan urutan usia (chronological age), misalnya usia 1 tahun sampai dengan 6 tahun, sesuai dengan usia kematangan mental, tetapi secara biologis hingga anak mencapai usia 5 tahun mungkin bentuk anak tidak sempurna (lambat) atau beberapa gerak fisiologis (otot) anak lemah, sehingga ia kesulitan menggerakkan tangan dengan sempurna atau mengalami  kesulitan lainnya.

Gambaran pertumbuhan di atas kemungkinan juga akan  mempengaruhi kematangan perkembangan gerak tangan dalam berkarya seni rupa dengan bentuk kelemahan mengutarakan pendapat dalam berkarya. 

b. Periodisasi Gambar 

Kegiatan anak berkesenian dapat dipandang dari 3 tahapan yaitu eksplorasi, penciptaan dan presentasi. Trilogi kegiatan anak ini menyatu dalam satuan pengetahuan seorang anak ketika mencipta seni.

Tahapan eksplorasi atau pencarian ide menggambar merupakan  tahap awal untuk mencari dan menumbuhkan ide dan gagasan tanpa batas terlebih dahulu, kemudian diangkat menjadi bahan menggambar dengan mengamati susunan bentuk atau referensi struktural (susunan bentuk dan objek).

Di samping itu pengamatan tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir dan referensi akhir pikiran sebelumnya (persepsi awal) menjadi tumbuh bersatu dan tidak tertata rapi (unstructured).

Tahap eksplorasi atau pencarian dan penggalian ide tersebut mendorong rasa ketertarikan anak sehingga objek yang dilihat menjadi utuh, bayangan yang pernah muncul dalam pikiran anak dapat disatukan dengan penglihatan secara utuh. Proses penggalian ide yang dimulai dengan mengamati objek sehingga menarik perhatiannya, merupakan proses penumbuhan rasa indah atau suasana keindahan (estetis)/the nuance of aesthetic.

Dengan melihat kondisi ini, seorang guru atau orang dewasa akan mempersiapkan bahan latihan bagi anak, ketika akan menggambar. Setidaknya guru berusaha memancing pengalaman anak yang pernah ada menjadi bahan dasar (apersepsi) dalam membayangkan benda yang akan digambar terlebih dahulu. Proses ini dapat dipersiapkan oleh guru di kelas ketika seorang anak berkarya dan menjadi pertimbangan, perlukah anak diberikan pengarahan, atau dijelaskan permasalahannya.

Setiap anak akan mempunyai permasalahan yang berbeda ketika belajar seni; mereka mungkin memerlukan sentuhan besar atau justru harus dibiarkan saja karena ide telah ada dalam sakunya ketika akan berkarya di kelas.

……. from ages 3 to 6, children derive pleasure from  genital stimulation. They are also interested in the physical  differences between the sexes and identify with their same-sex parent. …. In the preoperational stage, which spans the preschool years (about ages 2 to 6); children’s understanding becomes more conceptual. Thinking involves mental concepts that are independent of immediate experience, and language enables children to think about unseen events, such as thoughts and feelings. The young child’s reasoning is intuitive and subjective.(...............)

Tugas menggambar sebenarnya sama dengan makna di atas. Anak tidak mungkin dipaksa mewujudkan impian guru untuk menggambar benda di sekelilingnya. Tetapi jika dipaksa, anak pun akan melakukan namun akhirnya kegagalan menggambar akan membuat anak enggan melakukannya di masa yang akan datang.

Jika pemaksaan tersebut dianggap berhasil, maka imajinasi anak telah dipampatkan terlebih dahulu sehingga di masa akan datang anak akan merasa repot, bosan atau malas untuk melakukannya lagi, atau bahkan kehilangan tema. Silakan periksa peristiwa di Sekolah Dasar; anak akan menutupi gambarnya dengan jawaban tidak bisa menggambar.

Kalau anak-anak menggambar di luar apa yang diminta oleh gurunya, maka yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengarahkan anak melihat objek secara realistik berdasarkan tujuan menggambar. Perintah menggambar dengan mengamati objek tersebut juga diperlukan, khususnya ketika akan melatih ketelitian pengamatan.

Di lain waktu, menggambar sebagai hasil membayangkan kejadian atau sesuatu juga merupakan hal yang penting untuk menumbuhkan gagasan dan ide baru, seperti menggambar kejadian di tahun 2030 atau menggambar dengan tema jika aku menjadi penerbang pesawat antariksa.

Dari uraian di atas dapat dirangkum perkembangan anak dalam rangka mengidentifikasi perkembangan pengamatannya yang dinyatakan dalam bentuk gambar.

1) Memisahnya Garis Bersambung menjadi Garis dan Titik.
Dalam perkembangan seni rupa dapat dilihat sebagai berikut:

  • Usia perkembangan garis; atau disebut periode corengan. Periode ini berlaku pertama kali anak menggambar, yaitu seputar usia 1 sampai dengan 2 tahun. Pada tahap ini otot dan perkembangan biologis anak terutama pada tangan belum sepenuhnya berfungsi, sehingga terkesan kaku. 
  • Anak masih melatih diri mengoordinasikan otak dengan kelancaran otot tangan (fisiologis) dan kemudian dinyatakan dalam bentuk garis. Garis yang dihasilkan juga belum menunjukkan keajegannya, masih berubah berdasarkan bayangan dan perilaku anak ketika sedang menggambar.

Usia perkembangan garis ini seiring dengan perkembangan tanggapan atau cara pandang anak terhadap lingkungan sekitarnya, seperti melihat hubungan antar objek yang belum jelas, yang mengakibatkan pandangan dan tanggapan muncul secara partial atau peristiwa  yang lain masih menyatu.

Bentuk bulatan dan garis miring belum dapat dibedakan. Taraf pandang anak masih berbentuk benda global. Jika anak sudah bisa memberi judul pada gambar atau lukisannya, maka judul tersebut masih berubah-ubah. Pada suatu ketika, anak memberi judul: “Kucing sedang makan,” selang 1 jam berikutnya anak memberi judul  yang berbeda: gambar tersebut diberi judul: “Ayahku sedang memberi makan ayam jantan di kandang,”  atau kadang tidak memberi judul sama sekali.

Judul merupakan latihan bagi anak untuk mengucapkan kata  dan mengingat hal yang pernah terjadi.

Akan tetapi Kellog, 1969: 29; menyatakan sebagai berikut: “ …  as he start to scribble, he feels of many possibilities that lie before him can scribble this way or that, or some other way entirely, just as he lease. And once he has begun to scribble he can his mind which he often  does.” …

 Situasi ini menggambarkan bahwa penalaran dan perasaan anak belum stabil, diduga pikiran anak masih menyatu dengan perasaannya; apa yang dipikirkan sama dengan apa yang dirasakan. Jadi anak
menggambar apa yang dia ketahui dan dinginkan bukan apa yang dia lihat dalam kondisi sesungguhnya.

Cara Pandang Anak terhadap Objek
Gambar 8. Cara Pandang Anak terhadap Objek

Lihat gambar di atas, garis-garis yang ditampilkan anak masih tidak stabil. Gerakan mencoret garis tidak teratur; namun arah mulai dan berhentinya garis dapat diidentifikasi, yaitu dari  luar ke dalam. Apabila anak membuat garis lingkaran, posisi tangan akan digerakkan dari putaran luar ke dalam. Pada taraf awal, garis tersebut putus-putus. Ketika kemampuan fisiologis sudah kuat, seiring dengan tangan sudah mulai kekar, anak mampu menguasai alat, dan gerakan tangan mulai berlanjut dan tidak terputus-putus.

Selanjutnya amatilah perkembangan garis di bawah ini, tampak perubahan gambar coretan anak dimulai dari garis yang masih menjadi satu menuju garis yang terpisah dan menjadi titik-titik. Perubahan ini memberikan arti yang sangat nyata bahwa koordinasi otak terhadap penangkapan objek di depan anak sudah berangsur nyata.

Koordinasi otak terhadap penangkapan objek di depan anak sudah berangsur nyata.
Gambar 9. Koordinasi otak terhadap penangkapan objek di depan anak sudah berangsur nyata.
2)  Pembentukan Figur Manusia
Garis yang telah terputus tersebut akhirnya dapat dikoordinasikan oleh anak menjadi objek dalam gambarnya. Peristiwa ini dimulai dengan berubahnya garis-garis menjadi bulatan serta munculnya garis lurus dan garis lengkung.

Garis-garis ini sengaja ditata berdampingan dengan bulatan, seiring dengan fisiologis anak: lengan telah dapat mengoordinasikan pergelangan tangan dan jari-jari menjadi ujung pergerakan tangan secara keseluruhan. Lambat laun bulatan tersebut diisi dengan garis lurus membentuk matahari manusia. Rhoda Kellog (1975) menyebutnya tipe mandala, atau sinar matahari.

Garis-garis yang dibuat anak belum terkontrol, arah putaran garis juga tidak tetap, berangkat dari arah luar menuju ke dalam
Gambar 10. Garis-garis yang dibuat anak belum terkontrol, arah putaran garis juga tidak tetap, berangkat dari arah luar menuju ke dalam

Anak sudah mulai memutus-mutus garis; demikian pula gerakan garis sudah mulai dikontrol dengan nalar.
Gambar 11. Anak sudah mulai memutus-mutus garis; demikian pula gerakan garis sudah mulai dikontrol dengan nalar.

Pada Gambar 10 garis-garis yang dibuat anak belum terkontrol, arah putaran garis juga tidak tetap, berangkat dari arah luar menuju ke dalam. Anak belum memberikan judul secara tetap; hal ini menandakan bahwa menggambar masih naluratif. Kesadaran menggambar tidak seperti berbahasa. Dalam berbahasa, ungkapan suara spontan  belum menampakkan susunan kalimat dan kata; identik dengan hal tersebut komponen gambar mirip dengan susunan kata yang masih bersifat personal (ostention) dan disusun sesuai dengan kemauannya sendiri.

Orang lain harus mengikuti gaya dan pola pikirnya. Gambar 11, anak sudah mulai memutus-mutus garis; demikian pula gerakan garis sudah mulai dikontrol dengan nalar. Anak sudah memberi judul komposisi garis tersebut, namun masih belum tetap. Dalam gambar sudah terdapat titik-titik yang menjadi pusat perhatian.

Menunjukkan goresan putus-putus disusun kembali menjadi bagan yang mudah diidentifikasi
Gambar 12, Menunjukkan goresan putus-putus disusun kembali menjadi bagan yang mudah diidentifikasi

Perkembangan lain dari Gambar 12
Gambar 13. Perkembangan lain dari Gambar 12

Garis putus sudah mulai dibentuk oleh anak berupa gambar global
Gambar 14.Garis putus sudah mulai dibentuk oleh anak berupa gambar global 

Gambar 12, menunjukkan goresan putus-putus disusun kembali menjadi bagan yang mudah diidentifikasi, walaupun masih labil. Secara global gambar sudah mirip dengan bentuk manusia. Perkembangan lain dari Gambar 12 adalah Gambar 13.

Dalam Gambar 14, garis sudah terkoordinasi. Garis putus sudah mulai dibentuk oleh anak berupa gambar global. Sebagian bentuk titik-titik dikembangkan menjadi bangun kotak yang masih berbentuk bangunan tulang. Garis yang lain diarahkan menjadi gambar pohon atau pun peralatan sejenis mesin katrol. Persepsi anak masih global, maka bentuknya belum detail.

Perkembangan berlanjut dengan kemampuan anak memisahkan  garis  lengkung  yang  tidak putus menjadi garis lurus terputus-putus (lihat Gambar 5). Hal ini menunjukkan telah terjadi perkembangan fisiologis pada anak, di mana koordinasi tangan dan pikiran telah membuat anak mampu membuat garis lurus yang tertata menuju bentuk segitiga, segiempat atau yang lain. Pada anak usia 2 tahun kejadian ini merupakan perkembangan yang baik karena anak mampu mewujudkan ruang atau bentuk.

Garis-garis ini membentuk bidang yang akan berubah menjadi matahari. Rhoda Kellog dan Grozinger menandai masa ini sebagai mandala type, yaitu tipe matahari. Pada saat ini pikiran anak telah menyatukan bentuk bulatan dengan garis lurus.

Garis lurus dikoordinasikan dengan baik sehingga menjadi bulatan. Sebenarnya kemampuan ini telah dipunyai anak sejak dahulu. Garis lurus dikombinasikan dengan bulatan membentuk matahari bersinar atau mandala. Mandala ini dikembangkan menjadi mandala terbalik di mana bulatan tidak menjadi sumber munculnya sinar matahari, melainkan garis yang diberi bulatan.

Garis telah membentuk figur manusia yang sangat sederhana
Gambar 15. Garis telah membentuk figur manusia yang sangat sederhana

Di sisi lain terdapat gambar anak yang meneruskan gaya menggores tidak terputus (lihat Gambar 15); garis tersebut membentuk figur manusia yang sangat sederhana, atau barangkali anak tidak mengenali sebelumnya. Bulatan yang dibuat dengan garis ekspresi tidak putus dilanjutkan menjadi garis bulat dan menyerupai figur manusia. Garis lurus yang terdapat di sebelah kepala nantinya akan berkembang menjadi tangan.

Gambar anak usia 4 tahun yang sudah mampu mengkoordinasikan bulatan, segiempat serta garis lurus menjadi kesatuan binatang
Gambar 16. Gambar anak usia 4 tahun yang sudah mampu mengkoordinasikan bulatan, segiempat serta garis lurus menjadi kesatuan binatang

Perkembangan garis lurus dan bulatan tersebut tidak seluruhnya akan menjadi figur manusia, melainkan dapat merujuk kepada binatang, atau perabot rumah tangga dan rumah itu sendiri. Gambar 16 adalah gambar anak usia 4 tahun yang sudah mampu mengkoordinasikan bulatan, segiempat serta garis lurus menjadi kesatuan binatang. Beberapa garis lurus difungsikan sebagai bulu binatang dan yang lain menjadi kaki binatang belalang.

Menunjukkan figur manusia dengan kerancuannya menggambarkan binatang
Gambar 17. Menunjukkan figur manusia dengan kerancuannya menggambarkan binatang

Figur manusia telah tampak namun hanya terdiri kepala dan kaki,
Gambar 18. Figur manusia telah tampak namun hanya terdiri kepala dan kaki,

Akhir perjalanan tipe mandala adalah terbentuknya figur manusia; Gambar 17 menunjukkan figur manusia dengan kerancuannya menggambarkan binatang. Sedangkan pada Gambar 18, figur manusia telah tampak namun hanya terdiri kepala dan kaki, yang sering disebut oleh Grozinger sebagai manusia kaki.

Akan tetapi perkembangan bentuk manusia sudah dapat diidentifikasi, seperti: mempunyai kaki, telinga (digambarkan cukup jelas), demikian pula mata hidung dan karakter wajah manusia (tersenyum). Beberapa garis yang ditarik ke depan muka manusia tersebut dimaksudkan sebagai simbol helai rambut.

3) Memberi Judul Gambar 
Ketika anak sudah mulai menyadari bahwa gambarnya  sudah dapat dibaca orang lain, dan seiring dengan perkembangan  usia biologis di mana mata telah mampu melihat objek dengan detail, maka gambar pun mulai berubah.

Bulatan-bulatan yang semula sebagai susunan yang tidak berbentuk figur manusia kini mulai berubah menjadi  bulatan yang bersinar. Dia lambangkan bulatan ini sebagai bentuk matahari (mandala type). Bentuk ini dipengaruhi oleh tingkatan penalaran  anak, bahwa matahari bersinar terang, maka bulatan bersinar pun diandaikan seperti wajah manusia yang ceria. Tanda keceriaan disimbolkan dengan pemberian atribut mata, hidung dan mulut yang membuka lebar.

Peristiwa sebaliknya pun ada, di mana gambaran matahari sedang berduka dengan mulut menutup dan mata menangis.  Perkembangan yang dirasakan cepat adalah pengubahan matahari yang telah mempunyai atribut menjadi figur manusia. Manusia yang hanya mempunyai susunan anggota tubuh kepala-kaki. Tangan masih menyatu dengan kepala, dan manusia itu tidak berbadan.

Gambar 19. Perkembangan Menggambar Manusia
Bagi anak yang masih menyatukan pikiran dan perasaannya, gambar manusia kepala-kaki belum tampak. Anak masih suka mengekspresikan ide dan gagasan secara spontan, sehingga belum tampak jelas gagasan apa yang akan muncul. Namun, pada suatu saat anak sudah memberi judul dengan tetap dan mantap.

4) Menggambar Bagan  
Periode Menggambar Bagan dimulai dari masa pra-bagan. Pada masa ini, anak sudah mulai mengenal dirinya, dirinya sebagai pusat dari segalanya. Dalam gambar akan tampak figur yang menyatakan aku. Judul itu lalu diungkap dengan kata ” Aku dan ibuku”, ”Aku dan teman-teman di sekolah”, dan seterusnya.

Perkembangan mental anak tampak pada pengamatannya terhadap jenis kelamin maupun eksistensi dirinya dalam hubungan keluarga atau masyarakat sosialnya. Beberapa anak telah mulai memanjakan dirinya karena merasa penting dan diperhatikan orang lain.

Ketika pemahaman dirinya sangat tinggi, sering sifat ego menjadi berlebihan. Anak merasakan menjadi raja dalam keluarga, karena beberapa keterampilan telah mereka kuasai seperti menyanyi, hafal menghitung angka 1 sampai dengan 100 atau suka menirukan perilaku orang dewasa. 

Pengalaman anak menjadi kaya ketika orang dewasa juga ikut mendukung ide anak dan memberikan  tambahan pengalaman. Daya ingat mulai kuat dan kadang kala ingatannya terekam sampai dewasa.

Perkembangan dalam gambar anak pun mulai meningkat; dari figur manusia kepala – kaki menjadi manusia – tulang, atau manusia – batang. Dikatakan sebagai manusia tulang karena gambar tubuh manusia berupa tulang-tulang yang tersusun.

Contoh manusia tulang dan manusia batang
Gambar 20. Contoh manusia tulang dan manusia batang

Contoh manusia tulang dan manusia batang
Gambar 21. Contoh manusia tulang dan manusia batang

Gambar 20 dan 21 merupakan contoh manusia tulang dan manusia batang. Tubuh yang diberi warna adalah gambaran tubuh batang; perkembangan awalnya jenis kelamin manusia tidak nampak, namun selang beberapa bulan setelah usia 3 tahun, anak sudah mulai memberi ciri manusia laki-laki atau perempuan. Gambar manusia maupun yang lain masih berupa bagan, maka dikatakan masa pra-bagan. Pada sebelah bentuk-bentuk dinyatakan dalam gambar global: matahari bulatan hitam, awan diwarnai dengan blok, pohon diwakili oleh beberapa daun, rumah diwakili segi empat dan segitiga berpintu satu. 

Pada anak-anak tertentu yang dimanjakan orang tua  sering terjadi perkembangan masa egonya menjadi lebih panjang. Dampak dari perkembangan masa ego yang panjang menjadikan perkembangan usia mental anak (mental age) pun berlainan dengan yang lain. Kematangan usia mentalnya tidak seperti anak yang telah diberi pelajaran kemandirian.  

Akan tetapi di lain pihak juga sering terjadi, anak lebih cepat matang dan kemampuan pengindraannya terhadap objek jeli sekali. Namun, di lain pihak terdapat anak yang perkembangan mentalnya justru terhambat. Anak seusia masa pra-bagan sudah mampu mengamati lain jenis kelamin dan gambarnya pun lebih lengkap dengan menunjukkan variasi bentuk.

Sedangkan  anak yang terhambat mentalnya akan berada pada posisi kecakapan teknis. Kreativitas tidak nampak karena sering terjadi campur tangan orang tua dalam menyelesaikan gambar anak. Padahal telah diutarakan oleh seorang filsuf terkenal Emile Zola  sebagai berikut:  a work of art is a corner of creation seen through a  temperament (Dictionary of Quotation, 1998: 24)

Dalam hal warna, periode pra-bagan belum banyak memberikan arti yang sangat kuat. Warna yang dipilih kadang kala tidak sesuai dengan objek sesungguhnya. Sebagai contoh: langit berwarna merah, tanah berwarna ungu (violet) serta yang lain ini merupakan bayangan dan interpretasi anak. Hal ini disebabkan karena hal-hal berikut.  
  • Kesengajaan menggunakan warna tersebut untuk simbol tertentu: marah, senang.
  • Pemahaman atau pengetahuan tentang kualitas warna, seperti nama warna dan kegunaan juga paham sehingga untuk menginterpretasikan warna sangat minim.
  • Tipe anak bukan pada kekuatan warna melainkan kuat pada garis dan bentuk atau kekuatan pada drawing atau menggambar, bukan painting atau melukis.
  • Kesukaan terhadap warna tertentu. 
  
Perkembangan lain yang sering terjadi pada masa bagan dan pra-bagan adalah kesukaannya memberi arti objek-objek yang ada di lingkungan anak sebagai teman terdekat. Tidak jarang anak mengajak berbicara kepada objek tertentu sebagai teman dan keluarganya.  
...... kursi kau suka aku?... dan bola kenapa kau pergi? 
Pertanyaan ini membuat orang yang tidak mengenal pribadi anak usia dini melarang atau mengalihkan pandangan anak terhadap pemberian simbol kepada benda. Namun beberapa anak wanita sudah memberikan arti warna dengan menyesuaikan bentuk objek (Gambar 23), sedangkan anak laki-laki cenderung menguat pada bentuk gambar (Gambar 22).

Beberapa anak laki-laki cenderung menguat pada bentuk gambar
Gambar 22. Beberapa anak laki-laki cenderung menguat pada bentuk gambar

beberapa anak wanita sudah memberikan arti warna dengan menyesuaikan bentuk objek
Gqmbqr 23 beberapa anak wanita sudah memberikan arti warna dengan menyesuaikan bentuk objek
Masa ini juga sering disebut sebagai masa kritis, yaitu masa meletakkan dasar dan pandangan hidup. Masa ini berlangsung pada usia 4 tahun dan kemudian berangsur berubah pada masa realisme. Pada masa realisme anak memandang objek yang ada di lingkungan sekitar menjadi lebih dekat. Kedekatan ini juga memberikan gambaran bahwa anak sudah mulai mengerti secara nyata lingkungan yang mempengaruhi dirinya dan juga benda-benda yang bermanfaat untuk dirinya. Selanjutnya anak akan mulai memperlihatkan karakteristik berkarya.

Ketika masa ini didominasi oleh ego (keakuan), anak akan mulai menerjemahkan lingkungan sekitar dengan pikiran, perasaan yang telah menjadi persepsi batiniahnya. Seperti, ”.....dia adalah binatang yang buas, aku takut.” Perasaan anak terhadap pernyataan ini akan dimasukkan ke dalam memori otaknya dan kemungkinan  mendorong perasaannya secara sentimental (berlebihan).

Demikian pula sifat pribadi ini akan tampak dalam gambar anak, sebagian akan memanfaatkan pemahaman warna sebagai curahan perasaan, namun ada pula anak yang hanya memandang garis dan bentuk sebagai pernyataan dan bentuk komunikasi kepada orang lain. Kemungkinan tipe anak dalam gambar sudah mulai tampak.

Amatilah 
  1. Gerak reflek anak ketika Anda mengagetkan dia! 
  2. Apakah timbul asosiasi, ketika anda memberi contoh yang mengerikan? Misalnya awas ada hantu! 
  3. Adakah pengaruhnya sebagai objek berkarya rupa?

C. TIPE LUKISAN ANAK 

1. Tipe Haptic 

Salah satu tipe lukisan anak lebih cenderung mengungkapkan (mengekspresikan) perasaan atau dan pikiran dari pada kejelian bentuk-bentuknya. Anak yang mempunyai tipe perasaan ini lebih mengutamakan penggunaan warna-warna sebagai ekspresi jiwanya.

Biasanya, anak menginginkan kecepatan mengutarakan dari pada mengartikan dan memberi judul lukisan  atau gambarnya. Teknik finger painting sangat cocok untuk kegiatan melukis bagi anak usia dini. Anak telah berani mencampur warna dan memilih warna terang atau primer (dengan komposisi kontras).

Warna primer adalah warna utama atau pokok seperti: merah, kuning, dan biru. Sedangkan, komposisi kontras dapat diperoleh dengan jalan menyatukan kelompok warna atau menghadapkan dan mendampingkannya dengan warna pokok.

Teknik Finger Painting
Gambar 24. Teknik Finger Painting
Cara lain untuk memperoleh kombinasi (pendampingan) kontras adalah dengan jalan menghadapkannya dengan warna sekunder, seperti: hijau, oranye, ungu sehingga terkesan mencolok. Di samping itu terdapat beberapa anak yang berani mencampur sendiri warna cat air menjadi kental atau justru gelap.

Selain itu terdapat lukisan tipe hapatic yang berisi komposisi bentuk. Anak hanya menuangkan gagasan menata bentuk bulat, segitiga dan segi empat tetapi tidak penuh (Gambar 25). Arti penataan ini belum diketahui, namun anak merasa puas ketika bentuk-bentuk tersebut berhasil disusun secara cepat. Di samping itu anak merasa susunan ini telah mewakili gagasannya.

Anak hanya menuangkan gagasan menata bentuk bulat, segitiga dan segi empat tetapi tidak penuh
Gambar 25. Anak hanya menuangkan gagasan menata bentuk bulat, segitiga dan segi empat tetapi tidak penuh

b. Tipe nonhaptic atau realistik 

Pada tipe ini anak lebih suka memberi tanda idenya dengan bentuk yang mudah diidentifikasi oleh orang lain (guru dan orang tuanya sendiri). Bentuk-bentuk ini disusun sesuai dengan cerita atau hanya sekedar penyusunan yang sederhana, seperti menyusun bentuk-bentuk. Cara pengungkapan yang lain adalah menambahkan kata atau huruf yang sebenarnya tidak mempunyai arti. Bentuk ini cenderung menjadi komik.

Gambar 26. 
Gambar 26 adalah tipe gambar nonhaptic. Anak ingin bercerita tentang pengalamannya diajak melihat bangunan yang bagus menurut ukuran anak. Gedung diberi simbol segi empat, diberi atap segitiga berurutan dan ditata ke samping.

c. Karakteristik Gambar 

1) Tipe Komik 
Seperti telah diuraikan, bahwa jika dalam gambar variatif; anak melihat taman yang indah, kini terdapat ciri lain anak: menggambar cerita atau komik. Ketika anak sudah mulai mengenal huruf di Taman Kanak-kanak, kemampuan menulis huruf ini muncul di dalam gambar anak. Contoh Gambar 27, adalah gambar anak yang ingin mengutarakan pendapat tentang kesibukan di jalan.

Gambar anak yang ingin mengutarakan pendapat tentang kesibukan di jalan
Gambar 27. Gambar anak yang ingin mengutarakan pendapat tentang kesibukan di jalan
2) Tipe Naturalistik 
Tipe anak Naturalistik biasanya disamakan dengan realistik, walaupun sebenarnya dalam kedua gaya lukisan ini terdapat perbedaan. Gaya naturalistik (Gambar 28) cenderung diungkapkan dalam gambar pemandangan yang terdiri dari unsur gunung, langit, sungai, sawah serta rumah.

Gambar 28. Gaya naturalistik, cenderung diungkapkan dalam gambar pemandangan yang terdiri dari unsur gunung, langit, sungai, sawah serta rumah

Tipe realistik lebih menonjolkan pengungkapan gambar dan situasi di rumah, seperti: ibu memasak, rumahku dan teman-temanku sedang bermain (Gambar 29), atau situasi keluarga, termasuk menggambar wajah teman. Akan tetapi perbedaan ini sangat tipis sehingga sebagian ahli menyamakan kedudukan gambar  realistik dan naturalistik.

Tipe realistik lebih menonjolkan pengungkapan gambar dan situasi di rumah, seperti: ibu memasak, rumahku dan teman-temanku sedang bermain atau situasi keluarga, termasuk menggambar wajah teman
Gambar 29. Tipe realistik lebih menonjolkan pengungkapan gambar dan situasi di rumah, seperti: ibu memasak, rumahku dan teman-temanku sedang bermain atau situasi keluarga, termasuk menggambar wajah teman
Dalam pemilihan warna, anak yang mempunyai tipe naturalistik berusaha menyamakan atau menganalogikan warna alami, seperti:  gunung berwarna biru, daun berwarna hijau, tanah berwarna merah yang dimaksud dengan tanah liat atau sebagian menyatakan hitam sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada di sekitar anak.

Beberapa anak mencoba mengungkapkan gambarnya dengan sedikit menggunakan garis atau kontur hitam. Hal ini berbeda dengan anak yang bertipe realistik, ia berani memberi warna berbeda sesuai dengan interpretasi pikiran dan perasaannya. Gambar jalan dan tanah dibedakan berdasarkan imajinasi.  
3) Menggambar Cerita Kepahlawanan 
Beberapa anak mempunyai kesenangan menggambar cerita kepahlawanan. Barangkali hal ini disebabkan oleh pengaruh eksternal seperti melihat dan membaca gambar komik atau melihat VCD dan televisi tentang objek cerita kepahlawanan.

Sebenarnya bagi anak usia dini, konsep pahlawan belum jelas, sebab istilah pahlawan digunakan untuk orang yang berkelahi dan menang. Konsep ini kemudian diidentikkan dengan dirinya. Hal ini dapat dimaklumi karena perkembangan ke aku annya sangat tinggi.

Pada Gambar 30 adalah gambar anak usia dini dengan IQ di atas normal. Ketika diamati sedang menggambar, anak berperilaku hiperaktif (bergerak tanpa berhenti) baik dalam menggambar maupun 
bercerita. Pikiran anak menuju pada spider man  dalam dua lokasi: pertama  ia berada di udara ketika 
akan turun menolong orang, dan kedua  tokoh tersebut telah menang bertempur. Logika anak masih bercampur dengan perasaan.

Gambar anak usia dini dengan IQ di atas normal
Gambar 30. Gambar anak usia dini dengan IQ di atas normal
Anak tipe ini memilih figur yang menonjol dan mengandaikan dirinya sebagai tokoh yang dikagumi. Ide dan gagasan anak yang sejajar dengan penonjolan berpikir ini menyebabkan gambar-gambar yang diutarakannya di luar dugaan orang dewasa. Artinya, gambar yang sebenarnya belum diketahui secara detail oleh orang dewasa, kini diungkapkan dengan konsep yang tinggi. Anak bertipe ini sering menggambar hal-hal yang futuristik, seperti:  rumahku di masa depan, aku membuat pesawat tempur antar ruang angkasa.

Pemikiran ini jika tidak disambung oleh orang tua dan pendidik anak, akan stagnan atau berhenti berkarya. Pikiran orang dewasa harus mampu mengikuti jalan berpikir anak. Biasanya, sentuhan bentuk maupun cerita yang masuk di benak anak menjadi memori/ingatan yang tersimpan panjang. Demikian pula modifikasi atau inovasi ide dan gagasan anak mampu memberikan gambaran kelebihan yang ada pada dirinya.

Salah satu jalan untuk menyalurkan bakat anak yang mempunyai tipe ini adalah mempersilakan membaca serial ilmu dan pengetahuan. Namun kadang kala juga sering terjadi, anak menggambar cepat dan orang tua tidak mampu menjawab pertanyaan anak sehingga anak berhenti menggambar dalam waktu lama.

4)  Bertumpu pada Garis Dasar          
Sebagian anak masih mempunyai cara pandang spasial, artinya suatu objek hanya dipandang melalui satu sisi, walaupun seluruhnya juga akan ditampilkan. Logika anak mulai berjalan dengan memberi tanda setiap objek berdiri, sebagai contohnya: pohon kelapa berdiri di atas tanah, meja yang ditempatkan pada sudut ruangan juga berdiri di lantai rumah, demikian pula orang juga berdiri.

Objek-objek dipersepsikan berdiri
Gambar 31. Objek-objek dipersepsikan berdiri

Semuanya dipersepsikan berdiri. Konsep berdiri ini akhirnya muncul pada gambar anak. Objek-objek dipersepsikan berdiri seperti pada gambar anak Gambar 31.

5) Transparansi (X-ray) 
Salah satu ciri khas lukisan anak (tidak mesti ada pada setiap anak) adalah gambar tembus pandang atau sering disebut transparansi  (X-ray). Ciri tembus pandang ini merupakan hal yang wajar, seiring dengan perkembangan usia mental anak, yaitu perkembangan pikiran dan perasaannya. Lukisan anak merupakan lukisan pikiran. Ketika inspirasi datang pada anak untuk melukis, semua bayangan masa lalu yang tersimpan akan diungkapkan olehnya.

Pada Gambar 32 anak menggambar rumah kuno yang dihuni oleh penduduk primitif; anak pernah mendengar cerita kehidupan suku primitif. Isi dan perabot rumah belum tertata rapi, demikian pula suasana tata ruang dan serta perabot yang digunakan. Cerita ini akhirnya mempengaruhi pola pikir anak menuju gambar yang akan diminta oleh guru dengan tema: suasana di rumahmu.

Anak menggambar rumah kuno yang dihuni oleh penduduk primitif
Gambar 32. Anak menggambar rumah kuno yang dihuni oleh penduduk primitif

Dari tugas yang diberikan akhirnya muncul  gambar 32. yaitu rumah primitif dengan barang dan asesoris yang ada dalam ruangan. Jadi apa yang diminta guru menggambar tidak dipenuhi secara nyata oleh kehidupan di rumahnya, melainkan bayangan rumah primitif.

Beberapa unsur rumah modern (suasana di rumah sendiri) bercampur dengan cerita rumah orang Barat pada suasana musim dingin seperti yang diceritakan orang tuanya ketika tinggal di negara Barat. Perabot rumah tangga: televisi, ember, dapur serta tempat tidur dinyatakan dengan jelas. Gambaran ini menjadi seperti situasi di rumahnya.

Jadi lukisan anak menjadi ungkapan catatan semua peristiwa yang dialami anak dan diungkapkan sesuai dengan asosiasi berpikir, suasana rumah menjadi ungkapan dari seluruh gagasan menggambar rumah dan seisinya.

6) Tipe Susunan Bebas 
Gambar ini terdiri atas unsur garis dan beberapa batang tanaman hias, botol, kupu-kupu dan gundukan tanah serta orang yang sedang membawa benda (gambar 33). Semua objek ditampilkan dan belum mempunyai cerita yang jelas. Susunan ini dapat dikatakan sebagai susunan anorganik yaitu susunan yang diletakkan pada bidang gambar tanpa mengenal urutan ceritanya. Anak menempelkan daun kering sebagai tanda komposisi langit yang terpisah dengan rumah.

Gambar terdiri atas unsur garis dan beberapa batang tanaman hias, botol, kupu-kupu dan gundukan tanah serta orang yang sedang membawa benda.
Gambar 33. Gambar terdiri atas unsur garis dan beberapa batang tanaman hias, botol, kupu-kupu dan gundukan tanah serta orang yang sedang membawa benda.

Namun jalan cerita berhubungan dengan kupu-kupu yang kemungkinan sedang mencari bunga di antara susunan daun. Kupu-kupu tersebut terbang di atas rumah namun karena pusat perhatian pada daun akhirnya rumah, dibuat lebih kecil daripada daun dan pot bunga. Keberanian anak menampilkan hal seperti ini biasanya tidak diperhatikan oleh orang tua dan pendidiknya. Lukisan ini dianggap tidak konsisten dengan ukuran serta pewarnaannya.

RANGKUMAN

Peralatan yang digunakan bergantung pada jenis karya: karya 2 dimensi dapat menggunakan medium kertas, kanvas, serta media inkonvensional seperti cobek, keramik lantai atau pun baju serta kaosnya. Karya 2 dimensi seperti lukisan dan gambar anak mempunyai ciri khas, yang dilalui secara wajar dan bukan merupakan kesalahan dalam menggambar. Oleh karenanya, ketika pikiran anak telah berkembang dan terpisah dengan perasaan, maka lukisan anak akan menunjukkan tata susunan yang realistik, dan urutan cerita menjadi jelas.

Tugas pendidik dan orang tua hanya mengarahkan dan memfasilitasi anak untuk mengungkapkan dan menyalurkan perasaan.  Salah satunya adalah melalui keterampilan menggambar dan melukis. Berdasarkan sifat anak yang variatif maka pembinaan seni anak juga berdasarkan sifat tersebut.

Demikian pembahasan tentang Karakteristik & Media Karya Seni Rupa Anak Usia Dini, semoga bermanfaat. Silakan menyimak pembahasan yang lainnya......
Juga berbagai tema lainnya pada blog ini. Terimakasih ataas kunjungan Anda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel