Jenis Metode Pembuatan Pola

Macam-macam Metode Pembuatan Pola tidak membahas bagaimana cara membuat pola tetapi membahas tentang macam-macam metode yang digunakan dalam membuat pola dasar, jenis pola, teknik pembuatan pola, contoh pola dan beberapa cara memperbaiki ketepatan bentuk pola.

Tujuan yang dicapai setelah mempelajari materi ini adalah agar Anda dapat:
  1. Menjelaskan macam-macam metode pembuatan pola dasar.
  2. Membedakan 3 jenis pembuatan pola.
  3. Mengidentifikasi 3 teknik pembuatan pola.
  4. Mengamati 2 contoh bentuk pola dasar

Banyak metode pembuatan pola yang kita kenal dalam dunia Fashion, Kalau kita baca sejarah perkembangan busana, mulai dari manusia mengenal busana, maka pada awalnya orang berpakaian atau berbusana belum mengenal adanya pola, tetapi pada awalnya orang berbusana hanya dengan tujuan untuk menutupi kemaluan dan untuk melindungi diri dari gangguan luar, maka busana yang dipakai hanya dengan cara melilitkan langsung daun atau kulit kayu atau bahan tekstil pada tubuh manusia.

Tetapi dengan majunya peradaban manusia dan meningkatnya budaya hidup manusia, maka manusia selalu ingin menjadi lebih baik, ingin hidup lebih berkualitas, ingin berpenampilan lebih menarik, maka keinginan manusia untuk tampil lebih cantik, lebih anggun dan lebih menarik, juga terus berkembang dan meningkat, sehingga untuk mendapatkan busana yang lebih baik, nyaman dan menarik, manusia menciptakan Pola Dasar, sebelum dibuat menjadi busana, sehingga dengan adanya pola dasar, busana dapat dibuat dengan berbagai jenis desain, sesuai dengan keinginan.

Dalam sejarah pembuatan busana sudah banyak sekali jenis pola dasar yang sudah diciptakan oleh para pemikir di bidang pembuatan busana. Masing-masing cara dan sistem pembuatan pola dasar tersebut menggunakan cara-cara yang berbeda pula, namun apapun dan bagaimana pun caranya, hasilnya tetap dinamakan Pola Dasar. Masing- masing cara pembuatan pola dasar tersebut mempunyai kekuatan dan kelemahan yang berbeda pula, tergantung pada kecocokan atau kebiasaan para pengguna pola dasar tersebut.

Secara umum macam-macam sistem atau metode pembuatan pola dasar busana tersebut adalah sebagai berikut:

Metode pembuatan pola dasar busana
  1. Pola dasar metode Soen
  2. Pola dasar J.H. Meyneke
  3. Pola dasar Dressmaking
  4. Pola dasar Danckaerts
  5. Pola dasar Charmant
  6. Pola dasar Cuppens Geurs
  7. Pola dasar Bunka
  8. Dan lain-lain
Dari beberapa macam metode pembuatan pola dasar di atas, pada artikel ini contoh pola dasar yang disajikan hanya pembuatan pola dasar dengan metode Bunka, sedangkan untuk metode lainnya akan dibahas dalam artikel tersendiri.

Perlu juga penulis sampaikan di sini bahwa tidak ada sistem pembuatan pola dasar yang tidak baik,  dan tidak ada pola dasar yang tidak bisa dirubah menjadi pola busana yang sesuai dengan desain. Baik atau buruknya suatu sistem pembuatan pola dasar tergantung pada kecocokan atau kebiasaan si pengguna pola tersebut. Namun demikian penulis juga perlu menyampaikan alasan mengapa pada buku ini penulis memilih pola dasar sistem bunka.

Dari berbagai sistem pembuatan pola dasar, secara berkebetulan penulis pertama mengenal atau pertama mempelajari cara membuat pola dasar adalah pola dasar sistem Meyneke dan Soen. Kemudian terakhir penulis mempelajari tentang pola dasar sistem Bunka. Dari ke-tiga sistem pembuatan pola ini, setelah penulis pelajari ternyata sistem Bunka adalah hasil kajian atau perkembangan terakhir dari sistem Meyneke dan Soen dengan kata lain pola dasar sistem Bunka adalah merupakan hasil penyempurnaan dari sistem pembuatan pola yang lama.

Pembuatan pola dasar sistem Bunka adalah hasil riset atau penelitian yang dilakukan oleh University of Wuman Tokyo di Jepang atau Bunka Daigaku. University of Wuman adalah satu-satunya perguruan tinggi di Jepang yang secara terus menerus berkarya dan menerbitkan buku-buku khusus di bidang Fashion atau tentang busana. Oleh sebab itu penulis dapat dikatakan fanatik dengan sistem pembuatan pola dasar dengan metode Bunka ini.

Menurut penulis, ukuran yang digunakan dalam membuat pola dasar dengan sistem Bunka, benar-benar berdasarkan perbandingan ukuran tubuh, sehingga kecil kemungkinan hasilnya akan gagal. Kalau terjadi kegagalan kemungkinan besar disebabkan karena salah dalam menghitung perbandingan angka atau ukurannya. Metode pembuatan pola dasar Bunka, juga terus di evaluasi. 

Pada artikel ini akan disajikan dua teknik pembuatan pola dasar Bunka. Teknik pertama adalah pola dasar yang digunakan atau dikeluarkan tahun 1985 sampai tahun 2009. Selama periode ini tampaknya pola dasar ini terus dikaji dan dievaluasi, sehingga pada akhirnya dikeluarkan lagi teknik pembuatan pola dasar Bunka yang dipublikasikan sejak tahun 2009 sampai sekarang.

Jenis Pola
Ada 3 (dua) Jenis pola yang biasa kita kenal yaitu:
  1. Pola konstruksi. Adalah pola yang dibuat sesuai dengan ukuran tubuh model.
  2. Pola Standar. Adalah pola yang dibuat dengan menggunakan ukuran yang sudah baku atau ukuran standar, seperti ukuran small (S), Medium (M), dan Large (L).
  3. Pola cetak.Adalah pola yang sudah siap untuk dipakai dengan ukuran tertentu dan sesuai dengan desain yang sudah disiapkan juga.

Teknik Pembuatan Pola
Teknik pembuatan pola konstruksi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
  • Pola pulir atau Draping. Yaitu teknik pembuatan pola dengan cara membentuk dan menggunting bahan lansung pada model(tiga dimensi).
  • Pola yang diganbar pada kertas atau pada bahan tekstil (di atas kain) disebut dengan  pola datar (drafting/ flats pattern) yaitu pola yang dibuat dengan cara di gambar pada kertas pola atau lansung pada bahan dengan menggunakan ukuran tubuh model yang sudah disiapkan sebelumnya.
  • Pola Kombinasi (drafting/ flats pattern/ dan draping). Yaitu pembuatan pola dengan cara menggabungkan menggambar dengan menggunting lansung pada bahan (drafting dan draping).

Masing-masing dari teknik pembuatan pola dasar di atas diawali dengan kajian, uji coba bahkan penelitian, yang membahas dan mengkaji tentang bagaimana cara yang terbaik untuk mendapatkan cara atau teknik pembuatan pola sehingga pola dasar yang dihasilkan dapat digunakan sesuai dengan bentuk dan ukuran tubuh manusia.

Kajian diawali dengan mempelajari susunan tubuh manusia atau anatomi tubuh manusia dengan segala bentuk dan model tubuh manusia, yang mana satu sama lain bentuk tubuh tersebut tidak ada yang sama, sebagaimana yang sudah kita bahas sebelumnya.

Untuk bisa membuat busana yang sesuai dengan desain yang diinginkan, dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu:
  1. Dengan menggunakan pola dasar, kemudian dari pola dasar tersebut barulah    dirubah menjadi pola yang disesuaikan dengan   desain.
  2. Langsung dibuat pada tubuh model biasa disebut dengan cara atau teknik Draping dan Draperie.
Kali ini, kita tidak akan membahas tentang bagaimana cara membuat pola dasar maupun bagaimana cara merubah pola dasar tersebut menjadi pola yang sesuai dengan desain, tetapi yang akan dibahas adalah apa yang mendasari teknik pembuatan baik pola dasar maupun pola yang sesuai desain sehingga semua orang yang akan menekuni profesi di bidang Fashion dapat mempelajarinya secara logika dan ilmiah.

Berikut ini adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menemukan atau mendapatkan cara atau teknik yang paling tepat dan paling baik dalam membuat pola dasar. Semua percobaan yang dilakukan juga untuk menemukan tentang bagaimana caranya agar pola dapat digambar dan dibuat pada bidang datar dengan teknik konstruksi. Teknik konstruksi adalah teknik pembuatan pola dengan menggunakan ukuran tubuh yang sebenarnya. Jadi bukan menggunakan ukuran standard dan bukan pula ukuran yang diskalakan maupun ukuran yang sengaja dibuat sendiri.

Sebelum membuat busana atau sebelum membuat pola, kita perlu pahami terlebih dahulu bahwa tubuh manusia adalah penuh liku-liku maksudnya tubuh manusia bukan bidang datar, bukan benda mati, tetapi tubuh manusia khususnya perempuan terdapat beberapa tonjolan otot seperti punggung, payudara, dan perut, pinggul, dan lain-lain.

Tubuh manusia bergerak, dengan demikian pada bagian tubuh yang bergerak perlu diberi kelonggaran agar dapat bergerak dengan leluasa. Oleh sebaba itu sebelum membuat pola perlu ada analisa bentuk tubuh, karena perlu keterampilan khusus dalam memodifikasi pola agar pola yang dibuat sesuai dengan ukuran dan bentuk tubuh model. Membuatkan pola untuk seseorang, sama juga seperti seorang arsitek membuatkan rancang bangun atau gambar atau blu prin untuk membangun sebuah rumah.

Apabila dilihat dari atas, tubuh kita terlihat seperti tabung (bulat), Kalau kita coba melingkarkan kain atau bahan tekstil (dibuat kaku) pada tubuh seseorang, maka akan dapat kita lihat bahwa terdapat beberapa bagian bahan yang harus dilipat, digunting atau dibuang agar bahan tersebut bisa menempel dengan baik pada tubuh model/orang tersebut. Hal ini disebabkan karena bentuk tubuh manusia khususnya perempuan bukanlah bidang datar, melainkan terdiri dari beberapa lekukan maupun tonjolan, Untuk lebih jelasnya dapat dilihat  pada gambar berikut ini:

Percobaan Membuat Pola Dasar
Percobaan Membuat Pola Dasar
Dari gambar di atas, setelah bahan yang dililitkan tadi ditata sedemikian rupa (dilipit dan digunting dimana perlu), sehingga menjadi berbentuk pakaian atau busana, kemudian bahan tersebut dilepas dan dibentangkan pada bidang datar atau di atas meja pola, maka bentuknya akan menjadi sebagaimana terlihat pada gambar berikut ini:

HasiL Percobaan Pembuatan Pola Dasar
HasiL Percobaan Pembuatan Pola Dasar
Mari kita cermati gambar ke-1 dan gambar ke-2.
Pada gambar 1, adalah bahan yang dililitkan terhadap orang yang bentuk punggungnya agak menonjol, akibatnya kelebihan bahan pada bagian pinggang belakang lebih banyak, karena didorong oleh punggung, sehingga lebar kupnat pada bagian pinggang belakang lebih besar dari orang atau model dua yang punggungnya lebih rata. Selanjutnya, pada bagian pinggang muka, gambar pertama, hanya sedikit ada kelonggaran bila dibandingkan dengan gambar model dua. Ini disebabkan model pertama agak sedikit bungkuk, sehingga bahan menjadi ketarik kebelakang.

Sedangkan model dua badannya tegak dan payudaranya normal, sehingga kelebihan bahan antara bagian muka dengan belakang hampir seimbang. Pada pinggang bagian muka pada model dua, kelebihan bahannya lebih banyak dari model satu, sehingga pada gambar pola, kupnat bagian muka juga lebih lebar dari model satu.

Dari hasil percobaan di atas, diambil kesimpulan bahwa masing-masing bentuk tubuh harus ditangani dengan cara yang berbeda, disesuaikan dengan bentuk tubuh masing-masing model, tidak ada pola dasar yang langsung sesuai atau cocok untuk semua bentuk tubuh.

Percobaan di atas adalah percobaan dengan menggunakan bahan tekstil atau kain, berikut ini adalah percobaan dengan menggunakan gypsum yang langsung ditempelkan pada tubuh model atau tubuh manusia. Sebelum ditempelkan gypsum, tubuh model digaris melingkar dengan rata dan rapi, tujuannya adalah agar garis tersebut nantinya lengket atau pindah pada gypsum, sehingga pada saat di lepas dan diratakan, akan dapat dilihat seperti apa perubahan garis tersebut apabila diratakan. 

Percobaan dengan cara menempelkan gypsum sama halnya dengan membuat cetakan tubuh manusia. Setelah gypsum ditempelkan dan setelah mengeras, sehingga dapat dilepas dari tubuh model,  Kemudian cetakan tersebut dilepas dan diratakan pada bidang datar atau di atas meja pola, sehingga cetakan tersebut menjadi rata, terbelah dan terjadi ada rongga-rongga yang kosong yang membentuk seperti kupnat. Untuk lebih jelasnya ada beberapa gambar yang dapat dilihat berikut ini.

Membalut Tubuh Dengan Gypsum
Membalut Tubuh Dengan Gypsum
Hasil Gypsum Yang Diratakan
Hasil Gypsum Yang Diratakan
asil Gypsum yang sudah dirapikan
asil Gypsum yang sudah dirapikan

Dari percobaan yang menggunakan bahan gypsum ini, ditemukan hal yang sama seperti percobaan yang dilakukan dengan menggunakan bahan tekstil atau kain. Hal yang sama yang dimaksudkan disini adalah, apabila dilakukan percobaan dengan cara menggunakan gypsum kepada dua orang yang berbeda, maka setelah masing-masing dari hasil percobaan tersebut diratakan pada bidang datar, sehingga menjadi lembaran, retakan atau rongga-rongga kosong yang terjadi tidak sama antara model satu dengan model lainnya.

Ini artinya, bahwa masing-masing orang mempunyai bentuk tubuh tersendiri. Tidak ada bentuk tubuh orang yang sama walaupun mereka kembar. Walaupun demikian tentu ada persamaan-persamaan yang mendasar, seperti sama-sama mempunyai bahu, sama-sama mempunyai lengan, mempunyai payudara, punggung, pinggang dan lain-lain. Walaupun setiap tubuh manusia mempunyai banyak persamaan, tetapi tidak ada yang persis sama walaupun dilahirkan kembar.

Oleh sebab itu apabila membuat pola dasar busana secara konstruksi yaitu membuat pola dasar dengan menggunakan ukuran tubuh model, akan ditemukan beberapa kelemahan atau ketidak cocokan. Tidak ada sistem pembuatan pola dasar yang langsung sesuai atau cocok dengan bentuk tubuh seseorang, pasti ada garis-garis pola yang perlu disempurnakan, diperbaiki dan kalau perlu direkayasa atau diakali dengan cara yang tidak lazim, maksudnya pola dasar yang sudah dibuat, dirubah dengan cara tidak lagi mengikuti aturan atau ketentuan dalam pembuatan pola dasar.

Hal ini terjadi untuk menyesuaikan pola tersebut dengan bentuk tubuh seseorang, yang kemungkinan memang perlu penanganan khusus misalnya seperti pada tubuh bagian kiri dengan kanan tidak sama, atau ada model yang mempunyai tonjolan tulang atau daging pada bagian sisi atau bagian punggung, dan lain-lain.

Tentu banyak lagi kegiatan percobaan dan penelitian yang sudah dilakukan, sehingga menghasilkan suatu teori dan teknik untuk membuat pola busana. Untuk tingkatan sekolah menengah tentu pembelajaran tidak sampai kepada melakukan  percobaan apalagi penelitian. Untuk tingkatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), cukup sekedar pengetahuan saja.

Tingkatan SMK cukup mempelajari bagaimana cara menggunakan dan memanfaatkan serta mengembangkan apa yang sudah dihasilkan dan diciptakan oleh para ahli-ahli di bidang pola busana. Dengan melakukan percobaan dan dengan mengkaji hasil percobaan, para ahli di bidang Pola merumuskan dan menciptakan teknik atau cara untuk membuat gambar pola dasar busana dengan cara menggunakan ukuran yang diambil dari tubuh model. Masing-masing ahli mempunyai cara dan teknik tersendiri dalam membuat dan menggambar pola dasar busana.

Berikut ini adalah salah satu dari cara atau teknik menggambar pola dasar yang dibuat atau disusun oleh “Bunka Fashion College” yaitu suatu perguruan tinggi terkenal di Tokyo-Jepang yang khusus mengembangkan pendidikan di dunia Fashion. Tentunya masih banyak lagi perguruan tinggi di negara lain yang berkecimpung di dunia fashion, sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya.  

Ada beberapa Negara yang sudah menemukan dan menciptakan cara atau teknik pembuatan pola dasar, tetapi tujuan menampilkan teknik menggambar pola hanya sekedar contoh saja, jadi kita tidak perlu membahasnya lebih dalam dan tidak perlu menampilkan banyak contoh, agar tidak membingungkan pada saat mempelajarinya lebih lanjut.  Berikut ini adalah salah satu contoh dari Pola Dasar yang dikeluarkan atau dihasilkan oleh salah satu perguruan tinggi di Jepang yaitu “ Bunka Fashion College”

Pola Dasar Sistem Bunka Cara 1
❤ Langkah 1 :
Langkah 1. Contoh Gambar Pola Dasar Sistem Bunka Cara 1
Langkah 1. Contoh Gambar Pola Dasar Sistem Bunka Cara 1

❤ Langkah 2 :
Langkah 2. Contoh Gambar Pola Dasar Sistem Bunka Cara 1
Langkah 2. Contoh Gambar Pola Dasar Sistem Bunka Cara 1

❤ Langkah 3 :
Langkah 2. Contoh Gambar Pola Dasar Sistem Bunka Cara 1
Langkah 3. Contoh Gambar Pola Dasar Sistem Bunka Cara 1

❤ Hasil :
Hasil. Contoh Gambar Pola Dasar Sistem Bunka Cara 1
Hasil. Contoh Gambar Pola Dasar Sistem Bunka Cara 1
Pola Dasar Sistem Bunka Cara 2

❤ Langkah 1 :
Langkah 1; Pola Dasar Sistem Bunka Cara 2
Langkah 1; Pola Dasar Sistem Bunka Cara 2

❤ Langkah 2 :
Langkah 2; Pola Dasar Sistem Bunka Cara 2
Langkah 2; Pola Dasar Sistem Bunka Cara 2

❤ Hasil :
Hasil; Pola Dasar Sistem Bunka Cara 2
Hasil; Pola Dasar Sistem Bunka Cara 2

Pada kesempatan ini kita tidak akan mempelajari bagaimana cara membuat pola dasar seperti yang ada pada gambar di atas, tetapi gambar pola dasar di atas dimaksudkan hanya agar dengan melihat gambar pola dasar, akan dapat membantu untuk mempermudah pemahaman dan pengertian pada saat mempelajari bentuk dan ukuran tubuh manusia untuk kepentingan pembuatan pola busana.

Inti pokok yang akan dibahas pada materi Dasar Pola adalah bagaimana garis-garis yang ada pada gambar pola dasar di atas bisa terjadi. Tanpa memahami atau tanpa mempelajari asal usul dari terbentuknya garis-garis pola yang ada pada gambar pola dasar di atas, mustahil kita bisa mampu menyesuaikan pola dasar tersebut dengan bermacam-macam bentuk tubuh manusia.

Mungkin kita hafal cara membuat pola dasar tetapi apabila tidak diikuti oleh pengetahuan tentang asal usul dari garis-garis pola tersebut, kita hanya sekedar tau dan bisa membuat pola dasar saja tetapi kita tidak bisa menyesuaikan pola dasar tersebut dengan macam-macam bentuk tubuh manusia, akibatnya kita tidak bisa mengembangkannya pada saat merubah pola tersebut sesuai dengan desain, bahkan kita akan mudah lupa dengan apa yang sudah kita buat serta akan terus mendapat kesulitan pada saat merubah pola dasar menjadi pola yang sesuai dengan desain.

Tetapi apabila kita menguasai asal usul dari garis-garis pola tersebut, dan mengerti apa arti dan kegunaan dari masing-masing garis pola tersebut, maka pada akhirnya kita akan mampu berkreasi dan mengembangkan pola dasar tersebut menjadi pola yang lebih baik, lebih sempurna dan mampu menyesuaikan dengan apapun bentuk tubuh manusia. Gambar pola dasar di atas kalau dipindahkan pada kain atau bahan tekstil, kemudian dijahit dan dipakaikan pada tubuh, maka jadinya akan seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Pola Dasar Yang Dipindahkan Pada Bahan Tekstil
Pola Dasar Yang Dipindahkan Pada Bahan Tekstil

Untuk dapat menghasilkan pola dasar sebagaimana yang telah dilihat di atas, maka banyak hal yang perlu dipelajari. Untuk mendalami dasar pembuatan pola akan dibahas lebih rinci pada artikel berikutnya, namun secara garis besarnya saja akan dibahas sedikit tentang beberapa kemungkinan yang perlu diperbaiki setelah pola dasar dibuat.

Karena pola dasar dibuat dengan berpedoman kepada model dengan bentuk tubuh ideal atau normal, sehingga tidak mungkin pola dasar tersebut bisa langsung digunakan untuk semua bentuk tubuh model, tetapi haruslah ada perbaikan dan sentuhan garis pola yang disesuaikan dengan bentuk tubuh model.

Kita akan tau cara memperbaikinya tentu kalau kita sudah tau dan sudah menganalisis terlebih dahulu bentuk tubuh model. Kemungkinan-kemungkinan masalah yang akan ditemukan pada saat membuat pola dasar adalah sebagaimana yang akan dibahas pada tema berikutnya.

Rangkuman

Dengan adanya pola dasar, busana dapat dibuat dengan berbagai jenis desain, sesuai dengan keinginan. Dalam sejarah pembuatan busana sudah banyak sekali jenis pola dasar yang sudah diciptakan oleh para pemikir di bidang pembuatan busana. Masing-masing cara dan sistem pembuatan pola dasar tersebut menggunakan cara-cara yang berbeda pula.

Macam-macam Metode pembuatan pola dasar busana adalah:
  1. Pola dasar metode Soen.
  2. Pola dasar J.H. Meyneke.
  3. Pola dasar Dressmaking.
  4. Pola dasar Danckaerts.
  5. Pola dasar Charmant.
  6. Pola dasar Cuppens Geurs.
  7. Pola dasar Bunka.
Jenis Pola
Ada 3 (dua) Jenis pola yang biasa kita kenal yaitu:
  1. Pola konstruksi. Adalah pola yang dibuat sesuai dengan ukuran tubuh model.
  2. Pola Standar. Adalah pola yang dibuat dengan menggunakan ukuran yang sudah
  3. baku atau ukuran standar, seperti ukuran small (S), Medium (M), dan Large (L).
  4. Pola cetak.Adalah pola yang sudah siap untuk dipakai dengan ukuran tertentu dan sesuai dengan desain yang sudah disiapkan juga.

Teknik Pembuatan Pola
Teknik pembuatan pola konstruksi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
  1. Pola pulir atau Draping'. Yaitu teknik pembuatan pola dengan cara membentuk dan menggunting bahan lansung pada model(tiga dimensi).
  2. Pola yang diganbar pada kertas atau pada bahan tekstil (di atas kain) disebut dengan  pola datar (drafting/flats pattern) yaitu pola yang dibuat dengan cara di gambar pada kertas pola atau lansung pada bahan dengan menggunakan ukuran tubuh model yang sudah disiapkan sebelumnya.
  3. Pola Kombinasi (drafting/flats pattern/dan draping). Yaitu pembuatan pola dengan cara menggabungkan menggambar dengan menggunting lansung pada bahan (drafting dan draping).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel