Pengembangan Kreatifitas Anak Usia Dini Melalui Menggambar

Latar Belakang

Anak usia 0 sampai dengan 6 tahun berada dalam masa emas atau sering disebut dengan istilah  the golden age. Hal tersebut tertuang dalam Departemen Pendidikan Nasional (2007: 1) yangmenyatakan bahwa anak usia 0-6 tahun merupakan masa emas (the  golden age) di dalamnya terdapat “masa peka” yang hanya datang sekali. Masa peka adalah suatu masa yang menuntut perkembangan anak untuk dikembangkan secara optimal.

Hal ini juga ditegaskan Bloom (dalam Departemen Pendidikan Nasional, 2007: 1), bahwa 80% perkembangan mental dan kecerdasan anak berlangsung pada kurun waktu usia ini.  Shatz dalam majalah Pena Pendidikan edisi Agustus  (2007: 16) menjelaskan bahwa otak bayi sudah berisi hampir semua sel syaraf yang akan dimilikinya. Namun pola penyambungan antara sel harus dimantapkan. 

Dijelaskan lebih lanjut dalam majalah Pena Pendidikan (2007: 16) bahwa otak bayi sudah dilengkapi satu triliun glia. Sel glia ini membentuk semacam sarang yang melindungi dan memberi makan neuron. Ketika anak itu memasuki usia 3 tahun, sel otak anak telah membentuk sekitar 1.000 triliun jaringan koneksi (sinapsis). Jumlah sinapsis ini 2 kali lipat lebih banyak dari yang dimiliki orang dewasa. Setiap satu sel otak dapat terhubung dengan 15.000 sel lain.

Ditegaskan pula dalam majalah Pena Pendidikan (2007: 16) bahwa jaringan koneksi yang jarang digunakan akan mati, sedangkan jaringan koneksi yang sering digunakan akan semakin kuat dan permanen. Setiap rangsangan atau stimulasi yang diterima akan melahirkan sambungan baru dan memperkuat sambungan yang sudah ada. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa selama dalam masa golden age anak tidak mendapat rangsangan yang tepat, anak jarang diajak bermain, disentuh, maka perkembangan otaknya tidak akan dapat berkembang dengan maksimal, yang kelak akan menentukan kecerdasan seorang anak.

Para ahli berpendapat bahwa ada hubungan yang erat antara kecerdasan dengan kreativitas. Seorang penulis kreatif bernama Eng Hock Chia (dalam Anik Pamilu, 2007: 11) menyatakan bahwa di dalam Inteligenci Quotient (IQ), bakat, dan kreativitas sebagian besar berasal dari pengaruh lingkungan dan keterampilan.

Menurut Seto Mulyadi (dalam Anik Pamilu, 2007: 11), antara kreativitas dan kecerdasan itu mempunyai hubungan yang sangat erat. Oleh karena itu, anak tidak boleh hanya dididik agar menjadi anak yang cerdas saja, akan tetapi harus pula dididik agar menjadi anak yang kreatif dan mempunyai emosi yang stabil.

Seto Mulyadi (dalam Anik Pamilu, 2007: 11) juga menyatakan bahwa orientasi pendidikan pada saat ini, baik di sekolah maupun di rumah cenderung dominan pada permasalahan “bagaimana menciptakan anak yang cerdas secara logika, matematika, dan bahasa”, sementara untuk kecerdasan yang lain masih kurang mendapatkan perhatian dan porsi yang semestinya. 

Wahyudin (2007: 6) menyatakan ibarat bangunan, pondasi bangunanlah yang akan menentukan wujud bangunan finalnya. Semakin kuat dan tinggi bangunan yang akan didirikan di atasnya, maka semakin dalam dan kuat pondasi yang harus dibangunnya. Untuk membangun pondasi yang kuat serta dalam, membutuhkan waktu yang lama.

Demikian pula dengan kreativitas anak, seperti dikatakan Wahyudin (2007: 6-7), sebagai pondasi, anak sangat membutuhkan penggarapan yang serius, tetapi karena sifat pondasi tersebut tidak tampak maka banyak orangtua yang mengabaikannya. Orangtua menganggapnya sepele dan tidak penting.

Selanjutnya Wahyudin (2007: 7) menjelaskan bahwa pada kenyataannya sikap orangtua menyepelekan makna kreativitas sebab proses kreatif seorang anak cenderung merepotkan orangtua. Dalam hal ini orangtua semakin acuh dan tidak mengambil langkah-langkah penting untuk membangkitkan dan membina kreativitas anak.

Wahyudin (2007: 7) juga menjelaskan bahwa apabila kreativitas ini tidak dikembangkan maka setelah dewasa dapat menjadi pribadi yang lembek, merepotkan orangtua, tidak memiliki inisiatif, dan tidak bertanggung jawab.  Kreativitas erat hubungannya pula dengan aktivitas berkesenian termasuk kreativitas seni rupa yang diwujudkan ke dalam aktivitas menggambar. 

Sumanto (2005: 10) menyatakan, kreativitas adalah bagian dari kegiatan berproduksi atau berkarya termasuk dalam bidang seni rupa. Hal ini didasari oleh lekatnya proses penciptaan sebuah karya seni dengan keterampilan dalam berkreativitas. Merangsang serta memupuk kreativitas semenjak usia dini adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan orangtua untuk mendapatkan anak yang kreatif.

Anik Pamilu (2007: 2) menyatakan bahwa anak yang kreatif suka berkreasi. Dengan berkreasi ia akan dapat mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya.  Selanjutnya Anik Pamilu (2007: 69) menjelaskan bahwa melakukan olah seni termasuk seni rupa merupakan salah satu aspek terpenting untuk meningkatkan kreativitas anak. Bukan berarti anak harus bisa menggambar atau melukis sebaik Affandi.

Sesungguhnya kegiatan seni rupa merupakan sejumlah kegiatan dari mewarnai, menggambar, membentuk, dan lain sebagainya. Anik Pamilu (2007: 69) menegaskan bahwa pada usia prasekolah, kemampuan imajinasi dan belajar seorang anak sangatlah besar. Anik Pamilu (2007: 69) menegaskan bahwa dengan memberikan kegiatan permainan kepada anak, aktivitas kesenian dapat membantu anak untuk mengembangkan imajinasi dan  kreativitasnya. Termasuk aktivitas menggambar.

Anik Pamilu (2007: 69) menjelaskan bahwa kegiatan menggambar merupakan sarana yang tepat dan sesuai untuk anak usia Taman Kanak-kanak dalam rangka mengaktualisasikan, mengeskpresikan diri, dan membantu anak untuk mengembangkan serta meningkatkan imajinasi dan kreativitasnya melalui kegiatan mengeksplorasi warna, tekstur, dan bentuk dengan media menggambar yang dituangkan sesuka hatinya, bebas, spontan, kreatif, unik, dan bersifat individual. 

Kreativitas Menggambar

1. Pengertian Kreativitas Menggambar

Secara umum kreativitas diartikan sebagai kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990: 456) kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta.

Hurlock (1980: 4) menyatakan kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya, dapat berupa kegiatan imajinatif dan sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman.

Mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya serta perpaduan hubungan lama ke situasi baru dan mencakup pembentukan korelasi baru yang harus mempunyai maksud dan tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Dapat berbentuk produk seni, kesusasteraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodologis. 

Dalam Departemen Pendidikan Nasional (2008: 9) dijelaskan bila kreativitas diartikan sebagai sebuah proses yang mampu melahirkan gagasan, pemikiran, konsep, dan atau langkah-langkah baru pada diri seseorang. Kamus Webster dalam Anik Pamilu (2007: 9), kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mencipta yang ditandai dengan orisinalitas dalam berekspresi yang bersifat imajinatif.

Masih berkaitan dengan kreativitas, menurut Rotherberg (dalam Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 9), kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan ide atau gagasan dan solusi yang baru dan berguna untuk memecahkan masalah dan tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. 

Adapun Kintz dan Bruning (dalam Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 9), menyatakan bahwa kreativitas merupakan fungsi berbagai faktor dan ciri kemampuan mental intelektual. Ciri dan kemampuan mental seseorang dapat diamati melalui proses berpikir secara divergen, konvergen, menghayati, dan merasakan yang terungkap melalui bahasa, simbol, gambar, atau perilaku motorik. 

Sementara teori dari model kognitif yang dikemukakan oleh Torrance dan White (dalam Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 9), kreativitas sebagai proses dan fungsi berbagai kemampuan kognitif, khususnya kemampuan berpikir kreatif dalam memecahkan masalah. Pada model kogntif ini mendasarkan teorinya pada asumsi bahwa kreativitas adalah proses dan hasil belajar individu terhadap lingkungan.

Jadi pada kesimpulannya kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mencipta yang ditandai dengan orisinalitas produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya, dapat berupa kegiatan imajinatif dan sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990: 250) menggambar adalah membuat gambar atau melukis. Dalam Tarja Sudjana, Irin Tambrin, Tity Soegiarty, dan Maman Tocharman (2001: 1), menggambar diartikan dengan membuat gambar. Mengandung makna bahwa menggambar merupakan membuat tiruan benda yang berupa orang, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya yang dibuat pada bidang datar dengan alat yang menghasilkan jejak yang jelas.

Dalam kajian lain, seperti dikutip dalam Saiful Haq (2008: 1), menggambar dipandang sebagai kegiatan suatu penguraian penjelasan untuk suatu keperluan sehingga cukup hanya dinyatakan dengan goresan-goresan dan coretan-coretan garis saja.

Menurut Soedarso (dalam Suwarna, 2007: 10) menggambar adalah suatu pengucapan pengalaman artistik yang ditumpahkan dalam bidang dua dimensional dengan garis warna. Dengan demikian menggambar merupakan bahasa visual dan merupakan salah satu media komunikasi yang diungkapkan melalui garis, bentuk, warna dan tekstur.

Dijelaskan pula dalam Suwarna (2007: 10) bahwa menggambar juga merupakan curahan isi jiwa seseorang yang bernuansa estetis, kreatif, harmonis, dan ekspresif, yang tidak terlepas dari sensitivitas, mengandung pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain yang melihatnya, dan hal ini dapat menimbulkan sesuatu.

Menurut Sumanto (2006: 6) kreativitas berkarya senirupa termasuk menggambar diartikan sebagai kemampuan untuk menemukan, mencipta, membuat, merancang ulang, dan memadukan suatu gagasan baru maupun lama menjadi kombinasi baru yang divisualisasikan kedalam  komposisi suatu karya seni rupa yang didukung dengan kemampuan terampil yang dimilikinya.

Mengacu pada uraian tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan, kreativitas menggambar adalah kemampuan seseorang untuk mencipta yang diungkapkan dalam kertas gambar yang perwujudannya dapat berupa tiruan objek ataupun fantasi yang lengkap dengan garis, bidang, warna, dan tekstur dengan sederhana yang merupakan hasil dari gagasan, pemikiran, konsep, dan langkah-langkah yang baru.

Kreativitas menggambar dalam pembahasan ini yaitu kemampuan seorang anak untuk mencipta yang diungkapkan dalam kertas gambar yang perwujudannya adalah gambar dapat berupa tiruan objek, bentuk ataupun fantasi/hasil imajinasi anak yang lengkap dengan garis, bidang, warna, dan tekstur sederhana yang merupakan hasil gagasan, ide-ide kreatif, pemikiran, dan konsep asli buatan anak.

Gambar karya anak Taman Kanak-kanak untuk Pengembangan Kreatifitas Anak Usia Dini Melalui Menggambar
Gambar karya anak Taman Kanak-kanak

2. Karakteristik atau Ciri-ciri Kreativitas Menggambar  

Para ahli berpendapat bahwa kreativitas memiliki beberapa ciri-ciri dan karakteristik. Ciri-ciri tersebut biasanya dapat dilihat dari sifat dan sikap seseorang. Hurlock (1980: 5) mendeskripsikan bahwa  karakteristik kreativitas terdiri dari beberapa unsur, yang di antaranya yaitu: 
  • Kreativitas merupakan proses, bukan hasil. 
  • Proses itu mempunyai tujuan, yang mendatangkan keuntungan bagi orang itu sendiri atau kelompok sosialnya. 
  • Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, berbeda, dan karenanya unik bagi orang itu, baik itu berbentuk lisan atau tulisan, maupun konkret atau abstrak.
  • Kreativitas timbul dari pemikiran divergen, sedangkan konformitas dan pemecahan masalah sehari-hari timbul dari pemikiran konvergen. 
  • Kreativitas merupakan suatu cara berpikir; tidak sinonim dengan kecerdasan, yang mencakup kemampuan mental selain berpikir.
  • Kemampuan untuk mencipta bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima. 
  • Kreativitas merupakan bentuk imajinasi yang dikendalikan yang menjurus ke arah beberapa bentuk prestasi, misalnya melukis, membangun dengan balok, atau melamun.
Dijelaskan pula bahwa keempat ciri atau karakteristik tersebut harus merupakan suatu kesatuan yang utuh. Sementara itu Guilford (dalam Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 9) mengemukakan sifat-sifat yang menjadi ciri kemampuan berpikir kreatif, yaitu:
  • Kelancaran (fluency), merupakan kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan.
  • Keluwesan (flexibility), merupakan kemampuan untuk mengemukakan beragam pemecahan masalah. 
  • Keaslian (originality), merupakan kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli. 
  • Kerincian (elaboration), merupakan kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara rinci.
  • Perumusan kembali (redefinition) merupakan kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan sudut pandang yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh orang lain.
Anik Pemilu (2007: 15) mengatakan bahwa ciri-ciri anak kreatif biasanya memiliki sifat-sifat yang antara lain:
  1. selalu ingin tahu;
  2. memiliki minat yang sangat luas; dan
  3. suka melakukan aktivitas yang kreatif.

Selanjutnya Anik Pamilu (2007: 16-17) mendeskripsikan tentang ciri seseorang dikatakan kreatif, adalah sebagai berikut:
  1. memiliki spontanitas dan energi yang luar biasa;
  2. memiliki sifat sebagai petualang;
  3. memiliki rasa humor yang tinggi;
  4. dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut;
  5. memiliki kemampuan untuk menciptakan suatu ide yang baru, konsep-konsep ataupun keinginan-keinginan yang diimajinasikan yang dituangkan menjadi berbagai penemuan, karya sastra, ataupun seni.
Menurut Lowenfeld (dalam Sumanto, 2006: 9) karakteristik kreativitas dalam berkarya seni rupa adalah seperangkat kemampuan seseorang meliputi:
  • kepekaan mengamati berbagai masalah dengan indera;
  • kelancaran dalam mengeluarkan berbagai alternatif pemecahan masalah:
  • keluwesan melihat atau memandang suatu masalah serta kemungkinan jawaban pemecahannya;
  • kemampuan merespon atau membuahkan gagasan dalam originalitas yang biasa atau umum ditemukan;
  • kemampuan yang berkaitan dengan keunikan cara atau mengungkapkan gagasan dalam menciptakan karya seni;
  • kemampuan mengabstraksi hal-hal yang bersifat umum dan mengaitkannya menjadi hal-hal yang spesifik;
  • kemampuan memadukan atau mengkombinasikan unsur-unsur seni menjadi karya seni yang utuh; dan
  • kemampuan menata secara terpadu dari keseluruhan unsur-unsur seni ke dalam tatanan yang selaras.
Sumanto (2006: 10) menegaskan bahwa proses penciptaan sebuah karya dari kreativitas menggambar bukan hanya berupa kepandaian secara fisik saja dalam proses berkaryanya, melainkan juga termasuk kemampuan mencurahkan segenap potensi pribadi, baik berupa bakat, kepekaan, pengalaman, dan sebagainya.

Sumanto (2006: 10) menyebutkan proses penciptaan sebuah karya tersebut adalah sebagai berikut:
  1. mengolah media ungkap sesuai alat yang digunakan sewaktu berkarya;
  2. ketepatan dalam mewujudkan gagasan ke dalam karya; dan
  3. kecekatan atau keahlian tangan dalam menerapkan teknik-teknik dalam berkarya.
Dari uraian tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kreativitas menggambar memiliki karakteristik yakni: kreativitas menggambar merupakan proses yang mengarah pada sebuah penciptaan sesuatu hal yang baru. Penciptaan tersebut timbul dari sebuah pemikiran, merupakan suatu cara berpikir, kemampuan untuk mencipta gambar-gambar yang dihasilkan dari gagasan-gagasan dan originalitas, serta merupakan bentuk imajinasi. 

Aspek-aspek kreativitas yang digunakan sebagai dasar pembuatan instrumen dalam tulisan ini adalah:
  1. kelancaran (fluency), merupakan kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan, keaslian
  2. (originality), merupakan kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli,
  3. kerincian (elaboration), merupakan kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara rinci.

Sementara untuk: keluwesan (flexibility), merupakan kemampuan untuk mengemukakan beragam pemecahan masalah, dan perumusan kembali (redefinition) merupakan kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan sudut pandang yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh orang lain,  tidak digunakan sebagai dasar pembuatan instrumen pembahasan karena dirasa hal  tersebut kurang sesuai jika di ukur dengan kemampuan pada tahap perkembangan pendidikan anak usia dini.

3 Tahap Perkembangan Kreativitas Menggambar pada Anak

Orangtua, pengasuh, dan pendidik hendaknya tahu akan tahapan-tahapan perkembangan kreativitas anak, namun pada kenyataannya orangtua, pengasuh, ataupun pendidik sering mengabaikan tahapan perkembangan kreativitas ini. Oleh karenanya berikut disajikan tahapan-tahapan atau periode kritis dalam perkembangan kreativitas seseorang.

Hurlock (1980: 8) mendeskripsikan periode kritis dalam perkembangan kreativitas, yaitu: 

a. Usia 5 sampai 6 tahun  
Usia ini merupakan masa dimana anak harus menerima perintah dan menyesuaikan diri dengan peraturan dan perintah orang dewasa di rumah dan di sekolah. Semakin keras kekuasaan orang dewasa, semakin beku kreativitas anak tersebut. 

b. Usia 8 sampai 10 tahun 
Keinginan untuk diterima sebagai anggota kelompok sosialnya mencapai puncaknya pada usia ini. Kebanyakan anak merasa bahwa untuk dapat diterima, mereka harus dapat menyesuaikan diri dengan  pola kelompoknya tersebut. 

c. Usia 13 sampai 15 tahun 
Seperti halnya anak yang berada pada usia dalam kelompoknya, remaja menyesuaikan dirinya dengan harapan untuk mendapatkan persetujuan dan penerimaan. 

d. Usia 17 sampai 19 tahun 
Pada usia ini pekerjaan menuntut konformitas dengan pola standar serta keharusan mengikuti perintah dan peraturan tertentu, sebagaimana halnya dengan kebanyakan pekerjaan rutin, hal itu akan membekukan kreativitas.

Pendapat lain mengemukakan tahap kritis perkembangan kreativitas anak, menurut Gowan (dalam Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 11) bahwa terdapat tiga tahapan kritis perkembangan kreativitas yang sangat penting bagi pendidikan, yaitu:

a. Tahap inisiatif  (usia 4-6 tahun)
Pada tahap ini anak mengembangkan rasa ingin tahu, berinisiatif, berimajinasi, dan berfantasi melalui aktivitas bermain.

b. Tahap kerajinan (usia 7-12 tahun) 
Pada tahap ini terjadi creativity drop, yaitu suatu gejala menurunnya kreativitas anak, karena energi psikisnya diarahkan kepada tugas dan belajar di sekolah yang berpola konvergen.

c. Tahap identitas (usia 13-18 tahun)
Proses kreatif anak mendapat dukungan dari perkembangan kemampuan intelektual, yaitu: berpikir formal, konseptual, analistis, kritis, dan evaluatif, kemampuan hubungan sosial, kesadaran akan tatanan kehidupan sosial serta nilai-nilai moral dan religius mulai terbentuk.

Tim Redaksi Ayahbunda (2002: 61) menjelaskan tentang tahap perkembangan kreativitas seseorang, bahwa tahap potensi kreatif ini sudah mulai dapat diamati oleh orang dewasa melalui permainan-permainan yang anak lakukan. Kemudian secara bertahap sejalan dengan perkembangannya, kreativitas ini berkembang pada area kehidupan lain seperti saat anak melakukan tugas-tugas sekolahnya dan di tempat pekerjaannya kelak.

Tim Redaksi Ayahbunda (2002: 61) juga menjelaskan bahwa pada umumnya hasil kreativitas seseorang mencapai puncaknya pada usia tiga puluh sampai empat puluhan. Setelah itu kreativitas tidak lagi berkembang atau bahkan menurun. Mengapa demikian, menurut para ahli, salah satu penyebabnya adalah faktor lingkungan seperti tekanan keuangan, kurangnya waktu luang, atau kondisi kesehatan.

Sumanto (2006: 30) menjelaskan bahwa anak yang berada pada usia TK-SD adalah masa keemasan kreatif, yang mana anak-anak mengalami masa peka dalam perkembangan kreativitasnya.

Selanjutnya menurut Lowenfeld (dalam Sumanto, 2006: 30) menjelaskan tahap perkembangan kreativitas menggambar pada anak, yang mana hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari perkembangan keterampilan menggambar anak, yakni:
  1. masa goresan sekitar usia 2-4 tahun;
  2. masa pra-bagan sekitar usia 4-7 tahun;
  3. masa bagan/skematis sekitar usia 9-11 tahun;
  4. masa permulaan realism sekitar usia 9-11 tahun; dan
  5. masa realism semu sekitar usia 11-13 tahun.

Dari  uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, dalam perkembangan kreativitas menggambar anak PAUD yang mana hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari bakat serta keterampilan, berada pada tahap masa goresan (usia 2-4 tahun) dan pada tahap inisiatif (usia 4-6 tahun).

Pada masa awal kreativitas ini sangatlah dipengaruhi oleh sikap orang tua. Anak akan lebih bebas mengekspresikan kreativitasnya apabila orang tua mendukung anak, misalnya dengan menyediakan berbagai sarana stimulasi yang memungkinkan potensi kreatif itu muncul dan berkembang.

4. Manfaat Kreativitas Menggambar Bagi Anak

Terdapat sejumlah alasan mengapa kreativitas perlu dikembangkan kepada anak sejak usia dini. Munandar (dalam Suratno, 2005: 5), merumuskan empat alasan mengapa kreativitas perlu dikembangkan sejak usia dini, adalah sebagai berikut:  
a. Kreativitas untuk merealisasikan perwujudan diri  Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah perwujudan diri. Untuk mewujudkan dirinya manusia perlu berkreasi sehingga diakui karyanya oleh orang lain. Menurut Maslow diperlukan kreativitas yang berfungsi untuk memanifestasikan dirinya diperlukan untuk perwujudan diri. 

b. Kreativitas untuk memecahkan suatu permasalahan 
Kreativitas atau pikiran yang berdaya atau berpikir kreatif merupakan kemampuan untuk melihat berbagai kemungkinan penyelesaian terhadap suatu permasalahan.

c. Kreativitas untuk memuaskan diri  
Keberhasilan anak dalam melakukan percobaan, penelusuran, dan berbagai upaya lainnya akan memberikan kepuasan tersendiri bagi yang bersangkutan.

d. Kreativitas untuk meningkatkan kualitas hidup.
Orang yang memiliki banyak ide, memiliki penemuan-penemuan baru, dan menguasai tekhnologi baru jelas akan memiliki peluang pendapatan yang lebih baik dibandingkan yang tidak memilikinya.

Hurlock (1980: 6) menyatakan bahwa kreativitas memiliki banyak nilai yang penting bagi anak, namun nilai-nilai kreativitas yang penting ini hampir sama sekali diabaikan. Selanjutnya Hurlock (1980: 6) menjelaskan nilai kreativitas tersebut bagi anak, sebagai berikut:

a. Kreativitas memberi anak-anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar. Penghargaan mempunyai pengaruh nyata terhadap perkembangan kepribadiannya.

b. Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak kecil karena menambah bumbu dalam permainannya yang merupakan pusat kegiatan hidup mereka. Jika kreativitas dapat membuat permainan menyenangkan, mereka akan merasa bahagia dan puas.

c. Dengan bertambahnya usia anak prestasi merupakan kepentingan utama dalam penyesuaian hidup mereka. Kreativitas yang membantu mereka mencapai keberhasilan di bidang yang berarti bagi mereka dan dipandang baik oleh orang yang berarti baginya akan menjadi sumber kepuasan ego yang besar.

d. Kreativitas memberi sumbangan pada kepemimpinan. Pada setiap tingkatan usia pemimpin harus menyumbangkan sesuatu kepada kelompok yang penting artinya bagi anggota kelompok. Di samping kepuasan pribadi yang diperoleh anak dari kreativitas, apabila kreativitas itu memberi rasa puas dalam memainkan peran sebagai pemimpin, hal ini akan menjamin adegan penyesuaian sosial dan pribadi yang baik.

Utami Munandar (2009: 9) menyatakan bahwa kreativitas memiliki peran yang penting terhadap prestasi anak di sekolah. Torrance (dalam Utami Munandar, 2009: 9) mengajukan hipotesis bahwa daya imajinasi, rasa ingin tahu, dan orisinalitas dari subjek yang kreativitasnya tinggi dapat mengimbangi kekurangan dalam daya ingatan dan faktor-faktor lain  yang diukur oleh tes inteligensi tradisional.

Selanjutnya fokus pada manfaat kreativitas seni rupa bagi siswa menurut Sumanto (2006: 21) adalah:
  
a.  Menimbulkan kepuasan, kegembiraan dan kesenangan karena menggambar merupakan media ekspresi untuk mengungkapkan keinginan, perasaan, dan pikiran melalui kreativitas meggambarnya.

b.  Kreativitas seni rupa memberikan kebebasan untuk mengembangkan perasaan, kepuasan, keinginan, keterampilan saat anak melakukan kegiatan ini karena senirupa ternasuk menggambar dapat menjadi media anak untuk bermain.

Dari uraian tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa kreativitas menggambar memiliki banyak manfaat bagi anak. Bagi perkembangananya, kreativitas menggambar ini memberikan kesenangan, kepuasan, dan kegembiraan karena menggambar merupakan media ekspresi untuk mengungkapkan keinginan, perasaan, dan pikiran.

Kreativitas menggambar memberikan kebebasan untuk mengembangkan perasaan dan keterampilan saat anak melakukan kegiatan menggambar karena menggambar menjadi media anak untuk bermain.

5.  Faktor-faktor Pendorong Kreativitas Menggambar pada Anak

Pada dasarnya semua anak mempunyai potensi untuk kreatif, walaupun tingkat kreativitasnya berbeda-beda. Hurlock (1980: 11) menyatakan seperti halnya pada potensi lain, kreativitas perlu diberi kesempatan dan rangsangan oleh lingkungan untuk berkembang.

Hurlock (1980: 11) mendeskripsikan kondisi-kondisi yang dapat meningkatkan kreativitas, adalah sebagai berikut:
  
a.  Waktu  
Artinya untuk menjadi kreatif, kegiatan anak seharusnya jangan diatur sedemikian rupa sehingga hanya sedikit waktu bebas bagi mereka untuk bermain-main dengan gagasan dan konsep-konsep dan mencobanya dalam bentuk baru dan orisinal.

b.  Kesempatan menyendiri  
Artinya apabila tidak mendapat tekanan dari kelompok sosial, anak dapat menjadi kreatif. Singer menerangkan bahwa anak membutuhkan waktu dan kesempatan menyendiri untuk mengembangkan kehidupan imajinatif yang kaya.

c. Dorongan  
Terlepas dari seberapa jauh prestasi anak memenuhi standar orang dewasa, mereka harus didorong untuk kreatif  dan bebas dari ejekan dan kritik yang seringkali dilontarkan pada anak yang kreatif.

d.  Sarana  
Artinya sarana untuk bermain dan kelak sarana lainnya harus disediakan untuk merangsang dorongan eksperimentasi dan eksplorasi, yang merupakan unsur penting dari semua kreativitas.

e.  Lingkungan yang merangsang  
Artinya lingkungan rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas dengan memberikan bimbingan dan dorongan untuk menggunakan sarana yang akan mendorong kreativitas. Ini harus dilakukan sedini mungkin sejak masa bayi dan dilanjutkan hingga masa sekolah dengan menjadikan kreativitas suatu pengalaman yang menyenangkan dan dihargai secara sosial.

f.  Hubungan orangtua dan anak yang tidak posesif
Artinya orangtua yang tidak terlalu melindungi atau terlalu posesif terhadap anak, mendorong anak untuk mandiri dan percaya diri.
g.  Cara mendidik anak
Artinya mendidik anak secara demokratis dan permisif di rumah dan sekolah meningkatkan kreativitas sedangkan cara mendidik otoriter memadamkan kreativitas anak.

h.  Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan
Artinya kreativitas tidak muncul dalam kehampaan. Semakin banyak pengetahuan yang dapat diperoleh anak, semakin baik dasar untuk mencapai hasil yang kreatif. Puleski (dalam Hurlock, 1980: 11) mengatakan bahwa anak-anak harus berisi agar dapat berfantasi.

Selanjutnya dalam Tim Redaksi Ayahbunda (2002: 62) menjelaskan tentang kondisi yang diperlukan untuk meningkatkan kreativitas anak, adalah:
  • Agar anak kreatif, anak perlu waktu yang cukup untuk bermain dengan ide dan konsepnya;
  • bebas dari tekanan kelompok sosial;
  • adanya dukungan (support) dari lingkungan; 
  • materi yang cukup;
  • alat-alat bermain, serta material lain perlu diberikan untuk merangsang uji coba dan eksplorasi;
  • lingkungan yang merangsang;
  • hubungan orangtua-anak yang tidak mengikat, yaitu tidak terlalu melindungi dan mengatur;
  • pola asuh demokratis dan permisif;
  • ada kesempatan mendapatkan pengetahuan.
Sumanto (2005: 42) menjelaskan bahwa terdapat beberapa kondisi yang dapat meningkatkan kreativitas anak pada pendidikan anak usia dini:
  • sarana belajar dan bermain disediakan untuk merangsang dorongan eksperimental dan eksplorasi;
  • lingkungan sekolah yang teratur, bersih, dan indah secara langsung akan mendorong kreativitas;
  • kemenarikan guru dalam mendidik dan memberikan motivasi dan;
  • peran serta masyarakat dan orang tua untuk mendukung kegiatan pendidikan anak antara lain dengan menyediakan kebutuhan media/bahan praktek seni rupa bagi putra-putrinya.

Selanjutnya Sumanto (2006: 37) menjelaskan faktor-faktor yang dapat meningkatkan kreativitas seni rupa anak, yaitu:
  • memberikan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan anak;
  • berada dalam suasana santai tanpa adanya tekanan untuk berprestasi;
  • memberikan fasilitas-fasilitas media dalam berkarya;
  • memberikan motivasi dan rangsangan sebelum dan saat membuat karya;
  • menyediakan tempat yang memadai untuk melakukan kegiatan tersebut; dan
  • memajang/memamerkan hasil kreasi anak pada tempat/ruang kelas.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perlunya kondisi yang mendukung agar kreativitas menggambar anak dapat meningkat. Di antaranya adalah adanya waktu luang atau kesempatan, adanya dukungan dari lingkungan, sarana seperti alat-alat untuk menggambar yang mendukung.

Demikian pula lingkungan sekolah juga memiliki peran untuk meningkatkan kreativitas menggambar anak di antaranya:
  • memberikan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan anak;
  • berada dalam suasana santai tanpa adanya tekanan untuk berprestasi;
  • memberikan fasilitas-fasilitas media dalam berkarya;
  • memberikan motivasi dan rangsangan sebelum dan saat membuat karya;
  • menyediakan tempat yang memadai untuk melakukan kegiatan tersebut; dan
  • memajang/memamerkan hasil kreasi anak pada tempat/ruang kelas. Yang tak kalah penting adalah kemenarikan guru dalam mendidik dan memberikan motivasi, serta peran serta masyarakat dan orang tua untuk mendukung kegiatan pendidikan anak.  

Pendidikan Anak Usia Dini 

1. Hakekat Pendidikan Anak Usia Dini 

Anak usia dini adalah anak usia 0 sampai dengan 6 tahun. Dengan demikian pendidikan anak usia dini adalah layanan pendidikan yang diberikan kepada anak usia 0 sampai dengan 6 tahun.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 (Kementerian Pendidikan Nasional, 2010: 1) tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1 dijelaskan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Dalam Undang-undang tersebut jelas tertuang bahwa anak usia dini adalah anak dengan usia 0 sampai dengan 6 tahun, namun beberapa ahli juga berpendapat bahwa anak usia dini adalah anak dengan usia antara 0 sampai dengan 8 tahun.

Ebbeck (dalam Hibana S. Rahman, 2005: 3) menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah pelayanan kepada anak mulai dari lahir sampai umur 8 tahun. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Yuliani Nurani Sujiono (2009: 1) yang menyatakan bahwa konsep pendidikan anak usia dini  adalah anak usia 0 sampai dengan 8 tahun yang merupakan masa usia kritis yang akan menentukan pada proses serta hasil pada tahap selanjutnya.

Demikian pula dengan Hibana S. Rahman (2005: 4) menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah upaya yang terencana dan sistematis yang dilakukan oleh pendidik atau pengasuh anak usia 0-8 tahun dengan tujuan agar anak mampu mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal.

Sebelum adanya konsep tentang Pendidikan Anak Usia Dini, sebenarnya kita sudah lebih dulu mengenal tentang konsep pendidikan prasekolah. Konsep pendidikan prasekolah lebih dikenal dan disosialisasikan sebelumnya daripada konsep tentang pendidikan anak usia dini.

Bertalian dengan hal tersebut, Hibana S. Rahman (2005: 4-5) mendeskripsikan hakikat pendidikan prasekolah, yaitu:
a. Pusat pengembangan kepribadian anak (child development centre) artinya memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani serta mengembangkan bakat-bakatnya secara optimal. Selain itu juga memberikan bimbingan yang seksama agar anak-anak memiliki sifat-sifat, nilai-nilai, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat.

b. Pusat kesejahteraan anak (child welfare centre), maksudnya Taman Kanak-kanak memberikan pembinaan kesejahteraan yang diperlukan anak dalam masa mudanya untuk mencegah timbulnya akibat yang negatif di kemudian hari.

c. Sebagai usaha untuk membantu orangtua atau keluarga, yakni membantu kehidupan jasmani dan rohani anak yang diperlukan bagi pengembangan kepribadiannya.

d. Sebagai usaha untuk memajukan masyarakat khususnya masyarakat pedesaan yakni dengan membina generasi muda sedini mungkin secara terencana, mantap, serta penuh tanggung jawab.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan  bahwa pendidikan prasekolah merupakan pendidikan yang diberikan kepada anak di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar.

Pendidikan anak usia dini adalah pelayanan pendidikan yang diberikan kepada anak mulai dari usia 0 sampai dengan 8 tahun yang meliputi pendidikan keluarga, dilanjutkan dengan play group/satuan paud sejenis/taman penitipan anak/Taman Kanak-kanak dan SD kelas awal.

Pendidikan Anak Usia Dini dalam penelitian ini adalah bentuk pelayanan yang diberikan kepada anak usia Taman Kanak-kanak. Penelitian ini dilakukan pada anak Kelompok B2 dengan usia 5 sampai 6 tahun. Dalam penelitian ini anak diberikan stimulasi secara bertahap agar kreativitas menggambar anak dapat berkembang dengan baik.

2.  Fokus Pendidikan Anak Usia Dini

Para ahli berpendapat bahwa usia dini merupakan masa yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Harun Rasyid, Mansyur, dan Suratno (2009: 48) menyatakan bahwa usia dini merupakan usia emas (golden age) dimana anak tersebut akan mudah menerima, mengikuti, melihat, dan mendengar segala sesuatu yang dicontohkan, diperdengarkan serta diperlihatkan.

Oleh karenanya, pendidikan anak usia dini harus memperhatikan seluruh potensi yang dimilikinya untuk dikembangkan seoptimal mungkin secara menyenangkan, bergembira-ria, penuh perhatian dan kasih sayang, sabar dan ikhlas.

Dijelaskan pula dalam Harun Rasyid, dkk. (2009: 48) bahwa dalam pengembangan seluruh potensi ini, juga harus memperhatikan kondisi sosial, kultur, keyakinan, dan kepercayaan, agama serta nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan masyarakat di mana mereka berada. Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri.

Namun Slamet Suyanto (2003: 7) menjelaskan bahwa guru atau orangtua sering  mengajarkan anak sesuai dengan jalan pikiran orang dewasa. Akibatnya apa yang diajarkan orangtua sulit untuk diterima anak. Selanjutnya Slamet Suyanto (2003: 7) menjelaskan bahwa gejala ini terlihat dari banyaknya hal yang disukai oleh anak dilarang oleh orangtua, dan sebaliknya banyak hal yang disukai orangtua tidak disukai anak.

Pada umumnya semua anak menyukai kegiatan bermain. Menurut Mayke S. Tedjasaputra (2005: 91) bermain merupakan dunia kerja anak usia prasekolah. Melalui bermain, anak dapat memetik manfaat bagi perkembangan aspek fisik-motorik, kecerdasan, sosial emosional. Ketiga aspek tersebut saling menunjang satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Mengacu hal tersebut, oleh karenanya proses pendidikan anak usia dini harus tercipta pada situasi bermain yang menyenangkan.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Tadkiroatun Musfiroh (2009: 16) juga menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini harus mengacu pada prinsip belajar sambil bermain atau belajar seraya bermain. Selain itu Tadkiroatun Musfiroh (2009: 16) juga memaparkan beberapa prinsip pendidikan untuk anak usia dini khususnya untuk anak usia Taman Kanak-kanak, yaitu:
  • TK merupakan salah satu bentuk awal pendidikan sekolah. Untuk itu, TK perlu menciptakan situasi pendidikan yang dapat memberikan rasa aman dan menyenangkan.
  • Masing-masing anak perlu memperoleh perhatian yang bersifat individual, sesuai dengan kebutuhan anak-anak usia TK
  • Perkembangan adalah hasil proses kematangan dan proses belajar.
  • Kegiatan belajar di TK adalah pembentukan perilaku melalui pembiasaan yan terwujud dalam kegiatan sehari-hari.
  • Sifat kegiatan belajar di TK adalah pengembangan kemampuan yang telah diperoleh dirumah.
  • Bermain merupakan cara paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat kita simpulkan bahwa pendidikan anak usia dini haruslah memperhatikan seluruh potensi yang dimilikinya untuk dikembangkan seoptimal mungkin. Proses pendidikan anak usia dini haruslah tercipta suasana yang menyenangkan yaitu mengacu pada prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain.

Aktivitas Menggambar

1. Pengertian Menggambar

Secara umum, menggambar merupakan kegiatan melakukan coret-coretan hingga membentuk wujud gambar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 250), menggambar adalah membuat gambar. Sumanto (2006: 13) menyatakan, menggambar adalah proses membuat gambar dengan cara menggoreskan benda-benda tajam (seperti pensil atau pena) pada bidang datar (misalnya permukaaan papan tulis, kertas, atau dinding).

Menurut Affandi (dalam Saiful Haq, 2008: 2), menggambar dan melukis merupakan perwujudan bayangan angan-angan ataupun suatu pernyataan perasaan/ekspresi dan pikiran yang diinginkan. Perwujudan tersebut dapat berupa tiruan objek ataupun fantasi yang lengkap dengan garis, bidang, warna, dan tekstur dengan sederhana.

HM. Affandi (2006: 4) menyatakan bahwa menggambar dan melukis memiliki pengertian yang berbeda. Menggambar diartikan sebagai suatu penguraian penjelasan untuk suatu keperluan sehingga cukup hanya dinyatakan dengan goresan-goresan garis saja sedangkan melukis diartikan sebagai ungkapan pikiran dan perasaan (ekspresi) melalui unsur-unsur yang lebih komplek termasuk bidang, warna, tekstur, volume, dengan kaidah-kaidah tertentu.

Namun Hajar Pamadhi (dalam Saiful Haq, 2008: 2) memberikan pernyataan bahwa menggambar dan melukis secara substansial hal tersebut adalah sama, yaitu usaha untuk menyatakan pikiran, gagasan, angan-angan, khayalan, serta kenyataan anak keseharian. Namun menggambar lebih cenderung banyak garis, sedang melukis lebih cenderung banyak menggunakan warna.

Tarja Sudjana, dkk. (2001: 1) menjelaskan, menggambar dikenal juga dengan istilah menggambar alam benda. Menggambar seakan-akan memindahkan benda tersebut ke dalam sebuah bidang gambar tanpa adanya suatu perubahan.

Muharam E. dan Warti Sudaryati (1992: 95) menjelaskan pada hakikatnya menggambar adalah penyajian ilusi optik atau manipulasi ruang dalam bidang datar dua dimensi.

Berdasar pada pengertian-pengertian tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menggambar adalah membuat gambar dengan cara menggoreskan benda-benda tajam (seperti pensil atau pena) pada bidang datar (misalnya permukaaan papan tulis, kertas, atau dinding) yang merupakan perwujudan bayangan angan-angan ataupun suatu pernyataan perasaan/ekspresi dan pikiran yang diinginkan.

Perwujudan tersebut dapat berupa tiruan objek ataupun fantasi yang lengkap dengan garis, bidang, warna, dan tekstur dengan sederhana.

Aktivitas menggambar dalam pembahasan ini adalah proses ketika anak membuat gambar dengan cara menggoreskan pensil atau spidol pada selembar kertas, yang merupakan suatu pernyataan yang berupa tiruan objek ataupun fantasi yang lengkap dengan garis, bidang, warna, dan tekstur dengan sederhana.

2. Jenis-jenis Menggambar 

Kegiatan menggambar dapat dibedakan berdasarkan pada kebutuhan, fungsi dan cara pembuatannya. Tarja Sudjana, dkk. (2001: 2) mengemukakan bahwa pada masa sekarang ini, menggambar banyak dibutuhkan dan digunakan dalam berbagai kegiatan, dapat dicontohkan gambar yang dipergunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tekhnologi, ekonomi, dan pendidikan.

Sejalan dengan kebutuhan tersebut, maka muncul berbagai macam jenis menggambar sesuai dengan fungsinya, Tarja sudjana, dkk. (2001: 2) mendeskripsikannya antara lain:
  1. menggambar bentuk;
  2. menggambar dekoratif;
  3. menggambar ekspresif;
  4. menggambar illustratif;
  5. menggambar disain reklame; dan
  6. menggambar perspektif.
Sumanto (2005: 48) membedakan jenis kegiatan menggambar yang didasarkan pada cara pembuatannya, yang diantaranya adalah:
  • Menggambar secara bebas sesuai alat gambar yang digunakan tanpa memakai bantuan alat-alat lain seperti mistar, jangka dan sejenisnya. Terdapat ciri gambar yang bebas, spontan, kreatif, unik dan bersifat individual.
  • Menggambar yang dibuat dengan bantuan peralatan mistar, penggaris, jangka, busur derajat, dan sablon. Terdapat ciri yang terikat, statis, dan tidak spontan.
Sumanto (2005: 48) menegaskan bahwa pembelajaran menggambar yang sesuai di Kelompok Bermain atau di Taman Kanak-kanak bukanlah menggambar yang dibuat dengan bantuan mistar dan sejenisnya melainkan adalah macam menggambar yang bersifat bebas itulah yang dilatihkan kepada anak. Yang antara lain macamnya adalah melatihkan menggambar bebas, menggambar imajinatif, mewarnai gambar dan lainnya.

Menggambar Bebas karya anak Taman Kanak-kanak (TK) untuk Pengembangan Kreatifitas Anak Usia Dini Melalui Menggambar
Menggambar Bebas karya anak Taman Kanak-kanak (TK)

Dari definisi-definisi tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jenis-jenis kegiatan menggambar dapat dibedakan berdasarkan cara pembuatannya ataupun sesuai dengan fungsinya. Kegiatan menggambar yang dapat diberikan pada anak usia dini antara lain: menggambar bentuk, menggambar tematis, menggambar non tematis, dan menggambar bebas. Ada pun jenis menggambar dalam pembahasan ini adalah jenis menggambar bebas, menggambar bentuk dan menggambar tematis.   

3. Tujuan Dan Manfaat Menggambar Bagi Anak 

Banyak pakar mengutarakan tujuan dan fungsi menggambar bagi anak usia dini. Menurut Ade Hensuska (2005: 2) melalui aktivitas menggambar, anak dapat menorehkan perasaan, mengungkapkan perasaan, mengungkapkan keinginan, dan menceritakan pengalaman. Selain itu dengan aktivitas menggambar juga bisa melatih kemampuan kreatif anak.

Hal ini sejalan dengan Hajar Pamadhi (dalam Saiful Haq, 2008: 4) yang menyatakan bahwa menggambar memiliki tujuan  yang antara lain:
  1. alat untuk mengutarakan/ekspresi isi hati, pendapat maupun gagasan;
  2. media fantasi, imajinasi dan sekaligus sublimasi;
  3. stimulasi bentuk ketika lupa atau untuk menumbuhkan gagasan baru; dan
  4. alat untuk menjelaskan bentuk serta situasi.

Sumanto (2005: 49) menyatakan bahwa tujuan aktivitas menggambar pada pendidikan anak usia dini ini dimaksudkan agar kemampuan berolah senirupa yang yang diwujudkan dengan keterampilan mengungkapkan ide, gagasan, pengalaman, pengamatan kedalam goresan garis, bentuk, dan warna sesuai alat gambar yang digunakannya.

Dengan demikian pembelajaran menggambar yang sesuai untuk pendidikan anak usia dini adalah dengan jenis menggambar bebas, menggambar imajinatif, dan mewarnainya.

Fungsi seni menggambar bagi anak usia dini seperti dikutip dari buku Jurus-jurus menggambar dan mewarnai dari nol karya Saiful Haq (2008: 4) menyebutkan fungsi seni menggambar antara lain:
  1. sebagai ekspresi;
  2. sebagai catatan harian;
  3. melatih kepekaan rasa;
  4. menambah wawasan budaya; dan
  5. melatih rasa kebersamaan.

Sebuah peribahasa yang tertulis dalam buku karya Affandi dan Dewabroto (dalam Suwarna, 2007: 18), mengatakan bahwa “gambar mengandung seribu bahasa”. Peribahasa ini mencerminkan bahwa aktivitas menggambar merupakan pengucapan batin yang diwujudkan agar dapat dibaca, dipahami oleh orang lain yang melihatnya.

Hasil dari gambar tersebut merupakan visualisasi gejolak jiwa bagaikan serangkaian kata-kata yang terungkap sebagai ucapan batin yang syarat dengan nuansa manusiawi. Hal ini akan sangat  berguna bagi anak yang ada pada masa perkembangan mental, akal, kepribadian, dan sikap sosialnya. 

Mengapa demikian, dijelaskan dalam Suwarna (2007: 19) karena di dalam gambar tadi terdapat unsur pembentukan fungsi-fungsi jiwa pembentukan yang sangat menentukan terbentuknya keharmonisan lahir dan batin.

As’adi Muhammad (2009: 15-27) mendeskripsikan bahwa kegiatan menggambar dan mewarnai memberikan banyak manfaat bagi anak usia dini, yakni: 
  • Merangsang dan membangkitkan otak kanan. Dengan memberikan pelajaran atau pelatihan mengenai menggambar dan mewarnai, otak kanan anak akan terasah, yang akhirnya akan membuatnya mempunyai kreativitas yang tinggi.
  • Menumbuhkan kreativitas. Lewat menggambar, anak bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Lewat gambar yang dibuatnya, anak bisa menuangkan segala gagasan dan pendapat-pendapat yang terpendam. Dengan demikian, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa gambar dapat meningkatkan kreativitas anak.
  • Membuka wawasan. Sebagai contoh anak sedang belajar menggambar seekor kuda yang tengah merumput di kehijauan padang lapang. Dalam menggambar kuda tersebut, anak pasti akan banyak berusaha mengetahui apa saja yang ada di sekitar hewan tersebut.
  • Lukisan, cermin kreativitas dan kecerdasan anak. Apapun hasil lukisan yang tertuang, merupakan hasil gagasan dan kemampuan anak. Jika anak mempunyai kreativitas dan kecerdasan yang tinggi, maka lukisan yang dihasilkannya akan baik. Tetapi jika tidak, maka lukisan akan terlihat biasa-biasa saja, bahkan kualitasnya akan cenderung di bawah standar lukisan anak pada umumnya.
Perlu diketahui pula pendapat Rodowski (dalam Suwarna, 2007: 19) yang dalam penelitiannya “Columbus Public School” menyatakan bahwa anak yang mendapatkan pelajaran menggambar akan:
  • mengalami kegembiraan dan semangat bersekolah tinggi;
  • memperoleh kedisiplinan yang positif;
  • keterampilan membaca lebih tinggi 65%;
  • telaah komprehensif kemampuan memahami bacaan lebih tinggi 41%;
  • konsep matematikanya lebih tinggi 63%; dan
  • penerapan konsep matematikanya lebih maju 25%.

Selanjutnya Hajar Pamadhi, Evan Sukardi S., dan Azizah Muis (2010: 2.11) menjelaskan tentang fungsi menggambar bagi anak. Hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
  • menggambar sebagai alat bercerita (bahasa visual/bentuk);
  • menggambar sebagai media mencurahkan perasaan;
  • menggambar sebagai alat bermain;
  • menggambar melatih ingatan;
  • menggambar melatih berpikir komprehensif (menyeluruh);
  • menggambar sebagai media sublimasi perasaan,
  • menggambar melatih keseimbangan;
  • menggambar mengembangkan kecakapan emosional;
  • menggambar melatih kreativitas anak; dan
  • menggambar melatih ketelitian melalui pengamatan langsung.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya kegiatan menggambar ini dapat memberikan manfaat yang baik kepada anak. Di antaranya dapat melatih ingatan, media sublimasi perasaan, mengembangkan kecakapan emosional, merangsang dan membangkitkan otak kanan, membuka wawasan, serta melatih kreativitas.

Selain itu, manfaat yang tak dapat dilihat secara langsung, anak yang mendapatkan kegiatan menggambar mengalami kegembiraan dan semangat bersekolah, disiplin positif, memiliki keterampilan membaca dan memahami bacaan, dan konsep serta penerapan konsep matematika mereka lebih maju.

Tujuan menggambar dalam pembahasan ini adalah sebagai media mencurahkan perasaan dan ide-ide/gagasan yang dimiliki anak, sebagai alat/media untuk bermain, dan sebagai alat untuk melatih serta mengembangkan kreativitas anak khususnya kreativitas menggambar. Dan manfaat menggambar dalam pembahasan ini adalah anak akan mengalami kegembiraan, anak terampil dalam menggambar, dan kreativitas menggambar anak berkembang dengan baik.

4.  Tahapan Perkembangan Menggambar Anak  

Pada kegiatan menggambar terdapat juga tingkat-tingkat perkembangan kepekaan yang dapat digunakan dan ditentukan sebagai pembinaan yang tepat untuk anak. Dalam Saiful Haq (2008: 9) mendeskripsikan perkembangan gambar/goresan anak, yang antara lain:

a.  Scrible Stage. Masa corengan pada usia 2-4 tahun. Diawali dengan memberi judul gambar tidak tetap sampai yakin judulnya.

b. Pre Schematic Stage. Masa pra bagan pada usia 4-7 tahun. Diawali dengan menggambar simbol figur.

c.  Schematic Stage. Masa bagan pada usia 7-9 tahun. Diawali dengan menggambar bentuk yang lengkap dengan cerita, sudah mulai ada perbedaan anak laki-laki dan perempuan.

d.  Pseudo-realism Stage. Masa realisme semu pada usia 9-11 tahun. Menggambar bentuk-bentuk dinamis bagi anak laki-laki dan perempuan lebih statis dengan mengungkap keadaan lingkungan non fisik.

e.  Realism Stage. Masa realisme pada usia 12-15 tahun. Bentuk-bentuk figur manusia lebih, dan lebih mengungkap gambar tokoh idola.

Dijelaskan lebih rinci dalam Muharam E. dan Warti Sudaryati (1992: 36-51) tentang periode perkembangan gambar anak. Berikut diuraikan secara umum perkembangan gambar anak menurut periode dan kemampuannya:

a.  Masa Mencoreng (umur 2-4 tahun) 
Anak belum dapat mengendalikan gerakan tangannya. Hasil goresan tidak menentu. Kemudian anak menyadari gerakan tangan dan goresannya, maka berubahlah goresannya menjadi beraneka ragam bentuk, dari goresan yang berupa garis-garis panjang, garis-garis pendek yang tidak menentu arahnya dan diulang-ulang, hingga berkembang menjadi bentuk seperti benang kusut.
Gambar karya anak masa mencoreng (umur 2-4 tahun) untuk Pengembangan Kreatifitas Anak Usia Dini Melalui Menggambar
Gambar karya anak masa mencoreng (umur 2-4 tahun)

b. Masa Pra-bagan (umur 4-7 tahun) 
Pada masa ini anak mulai dapat mengendalikan tangannya. Garis yang dihasilkan tidak corang-coreng lagi. Anak mulai membandingkan karyanya dengan obyek yang dilihat. Kemudian menggambar bentuk-bentuk yang berhubungan dengan dunia sekitarnya.
Gambar karya anak masa Pra-bagan (umur 4-7 tahun) untuk Pengembangan Kreatifitas Anak Usia Dini Melalui Menggambar
Gambar karya anak masa Pra-bagan (umur 4-7 tahun)
c. Masa Bagan (umur 7-9 tahun) 
Bagan ialah konsep tentang bentuk dasar dari suatu objek final. Pengamatan anak bertambah teliti. Anak tahu hubungan alam sekitarnya dengan dirinya.
Gambar karya anak Masa Bagan (umur 7-9 tahun) untuk Pengembangan Kreatifitas Anak Usia Dini Melalui Menggambar
Gambar karya anak Masa Bagan (umur 7-9 tahun)

d.  Masa permulaan realisme (usia 9-11 tahun) 
Realisme bukan diartikan dengan meniru alam yang tepat tetapi sebagai usaha untuk konsep visual anak-anak yang masih memandang secara subjektif. Jadi gambarnya belum sesuai benar dengan objek.
Gambar karya anak Masa permulaan realisme (usia 9-11 tahun)

e.  Masa naturalistik semu (usia 11-13 tahun) 
Masa ini dikatakan sebagai usia berpikir. Anak mulai menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahui tetapi yang dilihatnya.
Gambar karya anak Masa naturalistik semu (usia 11-13 tahun)

Dalam Tim Redaksi Ayahbunda (2002: 9-10) mendeskripsikan 3 tahap perkembangan menggambar pada anak, yakni: 
  • Tahap pertama, tahap mencoret sembarangan  Tahap ini biasa terjadi pada usia 2-3 tahun. Pada tahap ini anak belum bisa mengendalikan aktivitas motoriknya, sehingga coretan yang dibuat masih berupa goresan-goresan tidak menentu, seperti benang kusut.
  • Tahap kedua, tahap mencoret terkendali. Tahap ini juga biasa terjadi pada usia 2-3 tahun. Pada tahap ini anak mulai menyadari adanya hubungan antara gerakan tangan dengan hasil goresannya. Maka berubahlah goresan menjadi garis panjang, kemudian lingkara-lingkaran.
  • Tahap ketiga, tahap menamakan coretan. Pada usia 3, 5-4 tahun, pergelangan tangan sudah lebih luwes. Mereka sudah lebih mahir menguasai gerakan tangan sehingga hasil goresannya pun sudah lebih berbentuk. Sekalipun masih berupa garis atau lingkaran, anak biasanya memberi nama pada goresan yang dibuatnya.
Dijelaskan pula oleh Tim Redaksi Ayahbunda (2002: 10) bahwa pada usia 5-6 tahun, seiring dengan berkembangnya kemampuan motorik dan konsep-konsep yang dimiliki, gambar anak pun sudah menunjukkan kemiripan dengan obyek yang digambar. Objek yang mereka gambar pun biasanya lebih bervariasi. Hal ini disebabkan oleh pengalaman hidup mereka yang sudah lebih kaya.

Dari berbagai deskripsi tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap tahap perkembangan menggambar anak memiliki corak dan warna yang berbeda-beda, hal ini dikarenakan pengaruh kematangan usianya, perkembangan kemampuan motoriknya, serta konsep-konsep yang dimiliki anak berdasarkan pengalaman hidup mereka yang sudah lebih kaya.

5.  Faktor yang Mempengaruhi Menggambar Pada Pendidikan Anak Usia Dini 

Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa kegiatan menggambar perlu diberikan dan dimasukkan ke dalam kegiatan pembelajaran pada pendidikan anak usia dini. Sumanto (2005: 23) menjelaskan bahwa sejalan dengan fungsi dan tujuan pendidikan anak, maka untuk pengembangan senirupa (termasuk menggambar) pada pendidikan anak, hendaknya dapat difungsikan untuk membina keterampilan dan kemampuan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan, dan sebagai sarana untuk memperoleh pengalaman visual estetis berolah senirupa.

Diah Sukrisnawati dan Syamsuri Jari (1993: 38) menyatakan tidak kalah dengan berbagai cabang kesenian lainnya, seni rupa juga bisa digunakan untuk menunjang keefektifan dan efisiensi pada pengajaran. Karena pada dasarnya anak-anak suka sekali menggambar, mewarnai, melipat dan menempel kertas serta membuat dan menyusun sesuatu. Hal ini semua disebabkan karena nalurinya yang besar untuk mengetahui, menyelidiki, mencoba dan berbuat.

Ditegaskan pula oleh Diah Sukrisnawati dan Syamsuri Jari (1993: 38) bahwa bila digunakan sebaik-baiknya, seni rupa sangat bermanfaat untuk mempermudah dan mempercepat anak-anak dalam menyerap bahan pelajaran, memfokuskan perhatian mereka terhadap pengajaran, dan lebih dari itu adalah menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.

Dalam Tim Redaksi Ayahbunda (2002: 10) dijelaskan bahwa anak mempunyai dorongan emosi yang butuh pelepasan. Oleh karenanya, sesuai dengan kondisi emosinya, ekspresi kesedihan, kekhawatiran dan kondisi-kondisi emosi lainnya dapat terlihat dari garis, bentuk, tema, dan warna-warna yang digunakan anak dalam gambarnya. Mengandung makna bahwa aktivitas menggambar ini perlu diberikan pada pendidikan anak, dengan alasan untuk pelepasan dan dorongan emosi yang ada dalam diri anak.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan seni rupa, baik itu berupa kegiatan menggambar perlu diberikan kepada anak usia dini karena kegiatan tersebut dapat  menunjang efektivitas dan efisiensi pada pengajaran karena pada dasarnya anak-anak suka sekali menggambar hal ini disebabkan karena nalurinya yang eksploratif.

Disamping itu kegiatan menggambar ini dapat digunakan sebagai media pelepasan dan dorongan emosi yang ada dalam diri.

6.  Langkah-langkah Pembelajaran

Langkah-langkah pembelajaran dalam pembahasan ini: guru memberikan aktivitas menggambar dengan cara yang menarik, kemudian guru memberikan stimulasi ide-ide kreatif pada awal pemberian tindakan, selanjutnya guru senantiasa memberikan dorongan, motivasi, reward selama aktivitas menggambar ini berlangsung, dan dengan diberikannya aktivitas menggambar secara bertahap dan berlanjut maka kreativitas menggambar anak dapat berkembang optimal.  

Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian teori dan beberapa faktor yang dapat dilihat di lapangan, maka dapat digarisbawahi bahwa aktivitas menggambar  yang diberikan dalam pembelajaran di Taman Kanak-kanak memiliki pengaruh yang besar terhadap kemampuan kreativitas menggambar pada anak, khususnya pada anak usia 4 sampai dengan 6 tahun. Ketika pendidik memberikan aktivitas menggambar maka kreativitas menggambar pada anak akan berkembang secara optimal.

Mengingat masa anak usia dini merupakan masa bermain, berimajinasi, dan bereksplorasi, maka segala proses pembelajaran yang diberikan kepada anak hendaknya menyenangkan termasuk aktivitas menggambar. Dengan tujuan agar anak dapat menuangkan berbagai ekspresi dan kreativitasnya melalui gambar yang ia buat.

Seperti pernyataan yang telah di sampaikan oleh Sumanto (2005: 49) bahwa tujuan aktivitas menggambar pada pendidikan anak usia dini ini dimaksudkan agar kemampuan berolah senirupa yang diwujudkan dengan keterampilan mengungkapkan ide, gagasan, pengalaman, pengamatan ke dalam goresan garis, bentuk, dan warna sesuai alat gambar yang digunakannya.

Dengan demikian pembelajaran menggambar yang sesuai untuk pendidikan anak usia dini adalah dengan jenis menggambar bebas, menggambar imajinatif, dan mewarnainya.

Demikian pula mengingat pernyataan yang telah di sampaikan  oleh As’adi Muhammad (2009: 15-27) bahwa melalaui aktivitas menggambar dapat menumbuhkan kreativitas. Lewat menggambar, anak bisa menuangkan beragam imajinasi yang ada di kepala mereka. Lewat gambar yang dibuatnya, anak bisa menuangkan segala gagasan dan pendapat-pendapat yang terpendam. Dengan demikian, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa gambar dapat meningkatkan kreativitas anak.

Selain itu As’adi juga mengungkapkan bahwa melalui aktivitas menggambar dapat membuka wawasan. Ia memberikan contoh, ketika anak sedang belajar menggambar seekor kuda yang tengah merumput di kehijauan padang lapang. Dalam menggambar kuda tersebut, anak pasti akan banyak berusaha mengetahui apa saja yang ada di sekitar hewan tersebut.

Dengan melihat hal tersebut oleh karenanya perlunya diberikan aktivitas menggambar ini untuk diberikan pada program pembelajaran di Taman Kanak-kanak. Aktivitas menggambar dalam pembahasan ini didasarkan pada karakteristik atau ciri kreativitas, yang meliputi:
  1. fluency, atau lancar: kelancaran dalam menuangkan ide-ide anak pada karya gambarnya;
  2. elaboration, atau rinci: kerincian dalam menguraikan goresan beragam bentuk pada kertas gambarnya; dan
  3. originality, atau asli: keaslian dalam membuat karya sebuah gambar.

Dalam pembahasan ini terdapat permasalahan pada perkembangan kreativitas menggambar anak. Kreativitas menggambar anak belum berkembang optimal. Anak cenderung kurang kreatif dalam menuangkan ide-ide kreatifnya melalui aktivitas menggambar. Hasil gambar yang dibuat oleh anak cenderung monoton, begitu-begitu saja, mirip seperti buatan gurunya, bahkan ada beberapa anak yang minta digambarkan oleh gurunya atau orangtuanya.

Dengan melihat hal tersebut, maka penulis memberikan beberapa ide menggambar pada blog ini dalam rangka mengoptimalkan perkembangan kreativitas menggambar yang dimiliki anak.

Ide menggambar yang dilakukan dalam blog ini diawali dengan menggambar bentuk dasar, kemudian anak menambahi dengan goresan gambar bentuk-bentuk lainnya pada gambar bentuk dasar tersebut, yang kemudian anak diperbolehkan untuk mewarnainya secara bebas, sehingga melalui proses tersebut anak dapat menghasilkan sebuah karya gambar yang sifatnya unik dan kreatif. 

Biarkan anak berimajinasi melalui pensil, krayon, serta kertas gambarnya. Dan tentunya hal ini tidak terlepas dari peran pendidik sebagai  fasilitator. Perlunya motivasi dan pujian serta penghargaan terhadap hasil karya gambar yang anak buat.  Semakin sering pendidik dalam memberikan aktivitas menggambar pada anak secara bertahap dan kontinyu, maka semakin optimal pula perkembangan kreativitas menggambar yang anak miliki.

Gambar Kerangka Berpikir untuk Pengembangan Kreatifitas Anak Usia Dini Melalui Aktifitas Menggambar
Kerangka Berpikir

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan merupakan langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan dengan menggunakan panduan perencanaan yang telah dibuat dan sesuai dengan RKH (Rencana Kegiatan Harian). Pada pelaksanaannya bersifat fleksibel dan terbuka bila terjadi perubahan-perubahan. Adapun kegiatan yang akan dilakukan meliputi:
  • Guru kelas mengkondisikan anak untuk membuka kegiatan sebelum diadakannya aktivitas menggambar.
  • Berdoa, membuka pelajaran.
  • Bercakap-cakap mengenai sesuatu yang akan anak gambar pada hari ini. Guru menampilkan beberapa  gambar yang sudah peneliti unduh melalui internet.
  • Guru menjelaskan cara menggambar yang dimulai dari bentuk sederhana/bentuk geometri yang selanjutnya anak diperbolehkan untuk menambah bentuk tersebut dengan goresan-goresan gambar lainnya.
  • Selanjutnya guru mengobservasi proses menggambar anak selama kegiatan ini berlangsung.
  • Guru memberikan pendampingan secara khusus pada anak yang mengalami kesulitan.
  • Mengevaluasi hasil gambar yang telah dibuat anak. Guru memberikan penghargaan pada hasil gambar yang telah anak buat.
  • Menutup kegiatan pembelajaran, dan doa penutup kegiatan.
Adapun aplikasi sederhana aktivitas menggambar untuk anak usia dini, bisa seperti paparan berikut ini.......

Sebelum dilakukannya kegiatan menggambar dimulai anak-anak terlebih dahulu dikenalkan kembali  dengan bentuk-bentuk geometri, di antaranya lingkaran, segitiga, segi empat, dan persegi panjang.

Kemudian anak-anak diajak untuk menggambar  bentuk-bentuk geometri tersebut secara bersama-sama. Setiap anak diberikan kertas hvs putih. Setelah semua anak mendapatkannya maka anak-anak mulai menggambar bentuk-bentuk geometri itu bersama-sama.

Dengan motiviasi guru yang riang gembira, kegiatan ini akan membuat anak terlihat antusias mengerjakannya, biasanya terdapat satu atau dua anak saja yang terlihat ragu. Anak yang ragu tersebut perlu didekati oleh guru, lalu guru membimbing anak tersebut. Guru memberikan motivasi dengan kalimat-kalimat positif pada anak. Kalimat positif ini untuk membangkitkan rasa percaya diri anak.

Setelah kegiatan menggambar bentuk geometri tersebut selesai, kemudian anak-anak diajak untuk mengerjakan tugas yang berupa menggambar bebas dari bentuk dasar segitiga. Guru memberikan contoh bagaimana cara mengerjakannya. Guru menunjukkan sebuah kertas,  kertas gambar tersebut sudah ada pola bentuk geometri berbentuk segitiga, lalu tugas anak selanjutnya adalah dengan menambahkan berbagai coretan agar gambar tersebut tidak hanya terlihat coretan bentuk geometri segitiga saja.

Guru memberikan 1 contoh yakni dengan menambahi gambar tersebut sehingga menjadi caping bapak tani. Anak-anak akan terlihat antusias, tenang dan senang saat mendengarkan penjelasan menarik dari guru. Setelah semua anak paham dengan cara mengerjakan tugas tersebut, maka anak-anak disuruh untuk mengambil kertas gambar yang telah disediakan, beserta pensil, penghapus, dan juga krayon.

Maka mulailah untuk menggambar. Pada kegiatan ini semua anak akan terlihat senang dan antusias saat mengerjakan, anak-anak juga terlihat bebas saat menuangkan coretan dalam kertas gambarnya.

Pengalaman penulis, ada anak yang menggambar menjadi anak perempuan yang sedang memakai gaun, ada yang menggambar menjadi ikan, ada yang membuatnya menjadi burung.

Selama kegiatan ini berlangsung, guru mengamati, dan mencatat perkembangan anak. Selain itu guru juga memberi motivasi, memberi pujian dengan kalimat-kalimat positif pada anak. Guru juga memberikan tanda bintang pada setiap karya yang telah dibuat oleh anak.

Setelah kegiatan ini selesai, maka anak-anak diperbolehkan untuk istirahat, bisa makan snack bersama dan bermain bebas. Kegiatan istirahat ini dilakukan selama 30 menit. Selesai beristirahat, semua anak masuk dan dikondisikan untuk mengikuti kegiatan permainan lainnya.

Bentuk aplikasi kegiatan menggambar untuk anak usia dini lainnya.........

Semua anak diajak guru mencari gambar binatang pada gambar berbagai macam benda atau binatang yang telah disediakan oleh guru. Anak disuruh menunjukkan dan menemukan yang mana merupakan gambar binatang. Anak melakukan kegiatan ini secara bergantian. Setelah semua anak melakukan kegiatan ini. Kegiatan anak selanjutnya adalah menggambar binatang.

Binatang yang akan digambar oleh anak-anak adalah binatang yang tidak lagi asing bagi anak-anak. Misalnya kelinci. Pada kegiatan menggambar kelinci ini, guru sudah menyediakan pola gambar kepala kelinci. Tugas anak selanjutnya adalah menempelkan pola gambar tersebut lalu menambahi gambar mata, hidung, mulut, dan badan serta alam yang ada di sekitar kehidupan kelinci.

Biasanya anak-anak terlihat sangat antusias dalam mengerjakan kegiatan ini. Semua anak bebas menambahi ekspresi gambar sesuka hatinya, dan sesuai dengan kemampuannya. Pengalaman penulis, ada beberapa anak yang menambahi kelincinya dengan makanan wortel. Menambahi bentuk kaki yang bervariasi, memberi alam pemandangan yang indah. Anak juga akan terlihat senang saat menyelesaikan gambar dengan memberi warna dengan krayonnya.

Aplikasi kegiatan menggambar untuk anak usia dini lainnya.......

Sebelum dilakukannya kegiatan menggambar, guru mengawali dengan bercerita tentang pantai dan laut. Cerita yang dilakukan guru tidaklah lama, sekitar 7 menit saja. Cerita ini hanya untuk mengulas pengalaman anak yang pernah pergi ke pantai. Anak-anak akan terlihat antusias dalam menyimak cerita dari guru.

Selesai bercerita guru mengajak anak untuk mengerjakan kegiatan yang berupa menyusun kepingan puzzle berbentuk ikan. Anak-anak akan melakukan kegiatan ini dengan bersemangat. Setelah semua anak berhasil menyusun kepingan puzzle, anak-anak diajak untuk melakukan kegiatan yang berupa menggambar beragam kehidupan yang ada di dalam laut.

Guru memberikan beberapa gambar kehidupan di laut yang bisa diunduh dari beragam gambar yang ada di internet. Anak-anak menyimak beberapa gambar tersebut. Lalu guru memberikan aturan kepada anak bagaimana cara mengerjakannya. Kegiatan menggambar tersebut digambar langsung dengan krayon, misal: ikan, kura-kura, kerang, rumput laut, dan sebagainya.

Warnai gambar tersebut, namun jangan warnai penuh seluruhnya karena untuk warna airnya akan diberi warna dengan cat air dan kuas.  Selanjutnya anak-anak mulai menggambar dengan kreasi mereka. Semua anak akan terlihat antusias untuk menggambar berbagai hal yang ada di laut ke dalam kertasnya. Biasabya anak-anak terlihat berkonsentrasi dengan kegiatan ini. Begitu pula saat anak menyapu gambarnya dengan kuas dan cat airnya. Ketika selesai, hasil karya anak juga terlihat lebih baik.
Pada saat kegiatan menggambar tersebut berlangsung, guru melakukan pengamatan dan pencatatan pada perkembangan anak. Selain itu juga senantiasa memberi motivasi dengan memberikan pujian pada anak saat melakukan kegiatan. Bila perlu, guru juga memberikan penghargaan berupa stiker yang disematkan di dada anak-anak.

Pada akhir kegiatan, anak-anak diajak untuk bertanya jawab tentang kegiatan menggambar yang telah anak lakukan. Guru memberikan pujian dan memberikan tepuk tangan kepada semua anak yang telah menyelesaikan tugas menggambarnya dengan bagus.

Observasi

Dari pengalaman penulis tentang kegiatan menggambar pada anak usia dini adalah sebagai berikut:  

  • Pelaksanaan pembelajaran dalam upaya pengembangan kreativitas anak melalui kegiatan menggambar menjadikan anak lebih antusias, bersemangat, serta dapat berkonsentrasi dan terfokus pada proses kegiatan pembelajaran.
  • Pembelajaran sudah melibatkan anak untuk menjadi peserta didik yang aktif.
  • Kegiatan menggambar yang disajikan dapat mendorong anak untuk lebih kreatif, dalam hal ini anak benar-benar mengalami peningkatan dan setelah diberikannya kegiatan ini secara bertahap dan kontinyu, anak berada dalam kriteria baik.

Refleksi

Dari pengalaman penulis, anak terlihat lebih antusias mengikuti pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran. Guru hendaknya melibatkan diri pada aktivitas menggambar, memberikan motivasi serta penghargaan dari hasil karya gambar yang telah anak buat sehingga aktivitas menggambar tersebut dapat meningkatkan kreativitas pada anak sejak dini.

Pemberian stimulasi yang tepat bisa melalui gambar-gambar yang diunduh melalui internet serta kemanarikan guru dalam menyampaikan, serta didukung oleh media-media dan fasilitas anak dalam menggambar, mengakibatkan kreativitas menggambar pada anak meningkat.

Dari uraian tersebut di atas maka dapat diketahui dan ditarik kesimpulan bahwa melalui kegiatan menggambar dapat meningkatkan hasil belajar, khususnya kreativitas menggambar. Hal ini karena dipengaruhi oleh intensitas menggambar, kegiatan menggambar pada anak secara bertahap dan sesuai dengan tahapan perkembangan menggambar pada anak, dan penyampaian yang menarik yang disajikan oleh guru.

Hal ini sejalan dengan pendapat Diah Sukrisnawati dan Syamsuri Jari (1993: 38) yang menyatakan bahwa bila kegiatan seni rupa termasuk menggambar digunakan dengan sebaik-baiknya, sangat bermanfaat untuk mempermudah dan mempercepat anak dalam menyerap bahan pelajaran, memfokuskan perhatian mereka terhadap pengajaran, dan lebih dari itu adalah dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.

Pengalaman penulis, setelah beberapa hari diadakannya dan diberikannya aktivitas menggambar ini, anak-anak menjadi lebih aktif, senang dengan kegiatan yang berhubungan dengan kreativitas, dan anak-anak lebih percaya diri dalam mengungkapkan ekspresi serta ide-ide atau gagasannya ke dalam sebuah gambar yang anak buat.

Hal ini sejalan dengan pendapat Anik Pamilu (2007: 69) yang menyatakan bahwa aktivitas menggambar merupakan sarana yang tepat dan sesuai untuk anak usia Taman Kanak-kanak dalam rangka mengaktualisasikan, mengekspresikan diri dan membantu anak untuk mengembangkan dan meningkatkan imajinasi dan kreativitasnya melalui kegiatan mengeksplorasi warna, tekstur, dan bentuk dengan media menggambar yang dituangkan sesuka hatinya, bebas, spontan, kreatif, unik, dan bersifat individual.

Hal ini sejalan juga dengan pandangan dari teori belajar menurut teori Behavioristik (dalam C. Asri Budiningsih, 2008: 20) yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi stimulus dan respon. Mengandung makna bahwa belajar atau latihan merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon.

Dalam hal ini, dari berbagai stimulasi-stimulasi yang dilakukan oleh guru dari aktivitas menggambar, serta motivasi, penghargaan, pujian pada anak berhasil merubah hasil belajar anak menjadi jauh lebih baik. Yang mana pada awalnya anak tidak tertarik dengan kegiatan menggambar dan cenderung kurang kreatif, anak menjadi antusias dapat menuangkan kreativitasnya pada kegiatan-kegiatan menggambar.

Pengalaman ini sesuai pula  dengan pendapat Hurlock (1980: 6) yang  menjelaskan nilai kreativitas tersebut bagi anak, bahwa  kreativitas memberi anak-anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar. Penghargaan mempunyai pengaruh nyata terhadap perkembangan kepribadiannya.

Jelas dengan kegiatan ini anak benar-benar merasa senang dan puas saat karya mereka mendapat penghargaan dari guru ataupun teman sebayanya. Dan ini memberikan dampak yang baik pada perkembangan kreativitas pada anak.

Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak kecil karena menambah bumbu dalam permainannya yang merupakan pusat kegiatan hidup mereka. Jika kreativitas dapat membuat permainan menyenangkan, mereka akan merasa bahagia dan puas. Dalam hal ini, melalui aktivitas menggambar yang dirancang dan diberikan secara menyenangkan anak menjadi senang untuk melakukan kegiatan ini.

Saran

Berdasarkan penulis untuk meningkatkan kreativitas menggambar anak, maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut:  
1. Bagi guru Taman Kanak-kanak 

  • Dalam merencanakan kegiatan untuk mengembangkan kreativitas menggambar, sebaiknya disusun dengan matang agar pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga kreativitas menggambar anak dapat berkembang dengan optimal.
  • Dalam pengembangan kreativitas menggambar anak diperlukan jam pelajaran yang berpusat pada kegiatan tersebut agar anak dapat fokus dan tidak mudah  lelah saat mengikuti kegiatan menggambar, sehingga pengembangan kreativitas menggambar terlaksana dengan kondusif.

2. Bagi Kepala Sekolah  

  • Kepala Sekolah hendaknya memberi arahan motivasi kepada para guru untuk bisa memberikan pembelajaran kreativitas menggambar, mengingat kreativitas merupakan faktor yang penting bagi kehidupan anak.  
  • Kepala Sekolah hendaknya mendukung upaya guru dalam menggunakan kegiatan yang tepat untuk mengembangkan kreativitas menggambar pada anak.
Demikian pembahasan tentang Pengembangan Kreatifitas Anak Usia Dini Melalui Menggambar, semoga bermanfaat. Silakan menyimal pembahasan menarik yang lainnya.........
Juga berbagai pembahasan menarik lainnya pada blog ini. Terimakasih atas kunjungan Anda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel