Pola Pendidikan Di Taman Kanak-Kanak (TK)

A. Cara Anak Berkembang dan Belajar
Para guru TK diharapkan tidak saja mampu menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di TK secara tepat, tetapi juga mampu memodifikasi dan mengembangkan cara pembelajaran tanpa mengabaikan kaidah- kaidah pedagogis tentang pendidikan anak.

Prinsip-prinsip perkembangan dan belajar anak dikemukakan oleh NAEYC ( Bredekamp and Copple, 1997 ) dapat dikemukakan sebagai berikut :

  • Perkembangan berlangsung sebagai suatu keseluruhan meliputi aspek/ranah fisik, sosial, emosional dan kognitif yang saling terjalin. Perkembangan dalam satu ranah berpengaruh dan dipengaruhi oleh perkembangan dalam ranah- ranah yang lain.
  • Perkembangan terjadi dalam suatu urutan yang relatif dapat diprediksi kemampuan keterampilan, dan pengetahuan selanjutnya dibangun berdasarkan apa yang sudah diperoleh terdahulu.
  • Perkembangan berlangsung dengan rentang yang bervariasi antara anak dan juga antar bidang perkembangan dari masing-masing fungsi. Variasi individual sekurang-kurangnya memiliki 2 dimensi, yakni variabilitas dari rata-rata perkembangan dan keunikan masing-masing individu.
  • Pengalaman awal memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak. Pengalaman awal anak bersifat kumulatif dalam arti bahwa jika suatu pengalaman terjadi secara jarang maka pengalaman itu bisa memiliki pengaruh yang sedikit.
  • Perkembangan berlangsung dalam arah yang dapat diprediksi, yaitu arah kompleksitas, kekhususan, organisasi dan pemahaman yang lebih meningkat. Belajar pada anak berlangsung dari pengetahuan perilaku yng tampak sederhana ke pengetahuan simbolik yang lebih kompleks.
  • Perkembangan dan belajar terjadi dalam dan dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya yang mejemuk dalam konteks sosiokultural keluarga, pendidikan dan masyarakat yang lebih luas.
  • Anak-anak pembelajar aktif, mereka mengambil pengalaman fisik, sosial dan pengetahuan yang disampaikan untuk membangun pemahamannya tentang lingkungan sekitar.
  • Perkembangan dan belajar merupakan hasil interaksi kematangan biologis dan lingkungan yang mencakup lingkungan fisik dan sosial tempat anak tinggal. Manusia merupakan produk dari keturunan dan lingkungan, dan kekuatan-kekuatan ini saling berhubungan.
  • Bermain merupakan suatu sarana penting bagi perkembangan aspek sosial, emosional dan kognitif anak, dan menggambarkan perkembangan anak. Bermain merupakan konteks yang sangat mendukung proses perkembangan anak.
  • Perkembangan dapat mengalami percepatan bila anak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru diperoleh dan juga ketika mereka mengalami tantangan di atas tingkat penguasaanya.
  • Anak mendemonstrasikan kemampuan dasar untuk mengetahui dan belajar yang berbeda serta cara yang berbeda pula dalam memperlihatkan apa yang mereka tahu. Anak memahami lingkungan dengan banyak cara dan  ia cenderung memiliki cara belajar yang lebih disukai atau lebih kuat baginya.
  • Anak berkembang dan belajar terbaik dalam suatu konteks komunitas yang menghargai, memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya, dan aman baik secara fisik maupun psikologis. Kondisi seperti ini akan mendorong anak untuk berekspresi dan beraktualisasi secara optimal.
Gambar Ilustrasi Pola Pendidikan Di Taman Kanak-Kanak (TK)
Ilustrasi Pola Pendidikan Di Taman Kanak-Kanak (TK)


Disamping pentingnya memperhatikan prinsip-prinsip perkembangan dan belajar anak secara umum, banyak pula para ahli yang menekankan pentingnya kebermaknaan belajar bagi anak. Pandangan mutakhir tentang belajar menekankan pentingnya belajar sebagai suatu proses personal, yang dalam proses itu masing-masing anak membangun pengetahuan dan pengalaman yang ia bawa ke pengalaman belajar.

“ Meaningful learning is learning that results when the learner makes connections between a new experience and prior knowledge and experience and prior knowledge and experiences the were stored in longterm memory” . demikian yang dikemukakan oleh Keloough et. Al (1996 :8)

Bredekamp dan Rowegrant (1991/92: 14- 17 ) menyimpulkan bahwa anak akan belajar dengan baik dan bermakna apabila :
  1. Anak merasa aman secara psikologis serta kebutuhan-kebutuhan fisiknya terpenuhi
  2. Anak membangun pengetahuan
  3. Anak belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan anak lainnya
  4. Kegiatan belajar anak menggambarkan suatu lingkaran yang tak pernah putus yang dimulai dengan kesadaran, kemudian beralih ke eksplorasi, pencarian dan akhirnya ke penggunaan
  5. Anak belajar melalui bermain
  6. Minat dan kebutuhan anak untuk mengetahui terpenuhi
  7. Unsur perbedaan individual anak diperhatikan


B. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK)

Sesuai dengan namanya yaitu Kindegarten  (Taman Kanak-kanak), TK diibaratkan sebagai taman dan anak sebagai bunga yang sedang tumbuh. TK memperlakukan anak sesuai dengan pembawaannya. TK perlu menyelenggarakan cara-cara pendidikan yang diperlukan mengembangkan daya-daya anak, melatih indra-indranya, dan mengembangakan kekuatan  fisik.

Taman Kanak-kanak (TK) hendaknya menjadi suatu tempat yang memungkinkan anak untuk menghidupi dunianya secara bebas. Upaya-upaya pembelajaran di TK tidak boleh dilakuan dengan menghilangkan hak dan kesempatan anak untuk berkembang sesuai denga pembawaan dan taraf perkembangannya.

Frobel menjelaskan bahwa Taman Kanak-kanak (TK) pada dasarnya merupakan wahana pendidikan yang memfasilitasi anak agar bisa berkembang secara kondusif, menyeluruh, dan alami sesuai dengan pembawaannya. Melalui TK, anak diharapkan dapat mengembangkan berbagai kemampuan yang dimilikinya dengan baik.

Dengan demikian, pengertian anak belajar dan berkembang secara natural bukan berarti anak dibiarkan untuk berkembang seadanya atau berperilaku secara liar. Sebaliknya, anak diperlakukan secara tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuha perkembangannya sehingga perlakuan pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) betul-betul mendukung perkembangan anak dengan optimal.

Hill (1987) mengemukakan bahwa TK sebaiknya mewujudkan fungsi yang berbeda , tetapi saling terkait satu sama lain.
  1. TK berfungsi mengembangkan pembawaan dan kebutuhan anak usia 4-6 tahun;
  2. TK berfungsi mengembangkan pembawaan dan memenuhi kebutuhan anak untuk berkembang pada usia-usia selanjutnya;
  3. TK berfungsi mempelajari pengalaman dan tipe-tipe belajar anak  yang pernah terjadi sebelumnnya, baik di rumah dan lembaga pendidikan persekolahan sebelumnya.


Dapat disimpulkan bahwa pada intinya Taman Kanak-kanak (TK) berfungsi mengembangkan dan mempersiapkan anak untuk berkembang dan belajar dengan baik pada masa sekarang dan selajutnya dengan memperhatikan kebutuhan dan pembawaan anak serta pengalaman-pengalaman belajar dan perkembangan selanjutnya.

Solehuddin (2002) menegaskan bahwa pendidikan prasekolah, termasuk Taman Kanak-kanak (TK), pada dasarnya dimaksud untuk mendorong dan memperlancar belajar dan norma dan  nilai-nilai kehidupan yang dianut. Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) tidak semata-mata diarahkan untuk mengembangkan aspek intelektual atau akademik, melainkan mencakup segenap aspek perkembangan, yakni fisik, intelektual, sosial, emosi, dan spiritual.

Disamping itu, pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) tidak semata-mata peduli dengan perkembangan dan prestasi anak pada masa ini, melainkan harus juga membangun landasan-landasan pembelajaran yang kokoh untuk perkembangan dan belajar selanjutnya. TK sekurang-kurangnya perlu merealisasikan lima fungsi utama, yakni fungsi:
  1. Pengembangan emosi
  2. Penanaman dasar-dasar akidah dan keimanan
  3. Pembentukan dan pembiasaan perilaku-perilaku yang diharapkan
  4. Pengembangan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlakukan , serta
  5. Pengembangan motivasi dan sikap belajar yagn positif.


Kdang kita lebih menekankan pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) aspek pengetahuan dan keterampilan yang langsung dapat diamati, tetapi kurang memperhatikan aspek proses-proses mental anak  yang  terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang  justru  sangat diperlukan untuk pengembangan potensi-potensi anak.

Indonesia sebagai Negara yang berdasar ketuhanan, unsur penanaman akidah dan keyakinan agama yang benar seyogyanya merupakan bagian dan fungsi pendidikan TK. Melalui fungsi ini, pendidikan  Taman Kanak-kanak (TK) harus menginterpretasikan pengetahuan agama dan praktek-praktek ibadah sederhana ke dalam kurikulum TK.

Selain itu sebaiknya Taman Kanak-kanak (TK) dapat menciptakan ilkim kehidupan beragama dalam kegiatan sehari-hari. TK juga perlu menghindari penanaman cara-cara berpikir dan keyakinan yang menyimpang dan ajaran agama yang dianut.

Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) juga diarahkan untuk mengembangkan pribadi anak secara utuh sehingga upaya pembentukan kebiasaan, perilaku, sifat-sifat pribadi yang diharapkan menjadi bagian terpadu dari fungsi pendidikan TK.

T aman Kanak-kanak (TK)berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar, seperti keterampila-keterampilan untuk mengurus diri sendiri (mandi, berpakaian, dan sejenisnya) kemampuan bermain dan berinteraks dengan teman, da pengetahuan-pengetahuan pra-akademik yang diperlakukan untuk pendidikan. Pengembangan motivasi dan sikap belajar yang positif juga seyogiannya menjadi bagian dari fungsi pendidikan.

C. Program Pendidikan Taman anak-kanak

a. Karakteristik Program Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK)

1. Bersifat Terintegrasi
Program pendidikan yang terintegrasi adalah program pendidikan yang dapat menyajikan suatu aktivitas belajar anak secara terpadu.

2. Memperhatikan Kontinum Perkembangan dan Belajar Anak
Program pendidikan TK juga hendaknya memperhatikan kontinum perkembangan dan belajar anak. Kesinambungan perkembangan anak dengan berbagai dimensinya perlu dijadikan pertimbangan agar proses pendidikan yang dilaksanakan benar-benar mendukung perkembangan anak secara optimal.

3. Bersifat Emergent      
Ciri lain dari program pendidikan TK adalah bersifat emergent dan kontekstual. Guru perlu berupaya memperhatikan dan menyesuaikan hal-hal yang secara spontan terjadi di kelas dan menjadi perhatian anak.

4. Bersifat Koheren
Koherensi program pendidikan juga perlu diperhatikan supaya  kegiatan pendidikan satu dengan yang lainnya memiliki kaitan yang jelas. Pengertian koherensi program ini bisa menyangkut 2 dimensi, yakni dimensi secara berurutan dan dimensi area pembelajaran .

5. Kaya dan Bervariasi
Agar member kesempatan kepada anak untuk belajar sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya masing-masing, program pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang kaya dan variatif.

b. Ruang Lingkup Materi Program Pendidikan Di Taman Kanak-kanak (TK)

Rasa ingin tahu dan sikap antusias yang menonjol pada anak usia 4-6 tahun menuntut guru atau pendidik lainnya untuk memberi kesempatan yang luas kepada anak untuk menanyakan, membicarakan dan mengeksplorasi berbagai hal ang menarik baginya. Oleh karena itu guru perlu mempersiapkan diri dengan menyadari dan memahami karakteristik anak usia Taman Kanak-kanak (TK).

Guru juga perlu menyediakan pengalaman-pengalaman belajar yang menarik, menantang, dan menyeluruh untuk memfasilitasi rasa ingin tahu dan sikap antusias anak. Program pendidikan perlu mendukung segenap aspek perkembangan anak secara menyeluruh. Dukungan dan fasilitas yang disediakan secraa proporsional sehingga anak dapat berkembang secara utuh tanpa mengalami hambatan.

Dari segi fisik, anak hendaknya diupayakan untuk dapat mengekspresikan gerakan-gerakan fisiknya secara leluasa dan aman, namun tidak berlebihan. Aktivitas-aktivitas fisik anak mencakup motorik kasar dan halus adalah aktivitas yang melibatkan otot-otot halus.

Aktivitas otot-otot halus (motorik halus) dapat berupa menggambar, menggunting, mewarnai, menulis dan lain-lain. Aktivitas yang menstimulasi motorik kasar adalah aktivitas yang menggunakan otot-otot kasar seperti otot lengan, kaki, pinggang,leher, dan perut. Aktivitas yang menstimulasi motorik kasar seperti senam, berjalan, berjalan, melompat, mendaki dan lain-lain.

Aktivitas yang menstimulasi intelektual anak adalah aktivitas yang merangsang kerja otak kanan dan otak kiri. Kerja otak kiri berkenaan dengan fungsi berpikir logis, berurutan, linear, dan rasional. Kegiatan-kegiatannya antara lain baca tulis, matematika, eksplorasi sains, puzzle dan sejenisnya.

Sedangkan otak kanan berkenaan dengan cara berpikir intuitif dan golistik juga perlu dirancang secara proporsional. Kegiatan-kegiatan otak kanan antara lain pemecahan masalah yang memerlukan kreativitas, pengenalan bentuk, pola dan warna serta musik dan seni. Kerja otak kanan dan kiri dapat dipadukan misalnya mengatasi mencari jalan keluar tentang persoalan-persoalan matematis yang menuntut anak memecahkan secara kreatif.

Aspek perkembangan emosi anak perlu diperhatikan agar anak memiliki kemampuan untuk mengenal, menghayati dan mengendalikan emosinya dengan baik. Stimulasi kecerdaan emosi ini dilakukan dengan memberi kesempatan kepada anak untuk melatih kesadaran diri, pengelolaan emosi, pemanfaatan emosi secara produktif, berempati serta membina hubunngan dengan teman dan yang lainnya (Goleman,2003).

Implementasi dari upaya menstimulasi kecerdasan emosi ini dapat diintegrasikan dengan kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan aktivitas-aktivitas interaksional dengan orang lain, seperti bermain peran, kerja kelompok dan aneka permainan yang dilakukan secara berkelompok.

Materi program aspek spiritual anak berupa kegiatan-kegiatan yang menstimulasi pemahaman tentang keagungan, kekuasaan, dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan berdoa dan pembiasaan ritual ibadah lainnya secara bertahap disertai dengan pemahamannya.

Perilaku sosial mencakup beberapa perilaku yaitu kemurahan hati, kerja sama dan kepedulian (Beaty,1998) dapat dikembangkan dengan program-program yang memberi kesempatan kepada anak untuk melatih perilaku-perilaku prososialnya seperti memecahkan masalah secara bersama, menolong teman yang perlu bantuan, memberi sesuatu kepada teman yang perlu bantuan, memberi sesuatu kepada teman dan menjenguk teman yang sakit.

Lingkup materi program pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) harus bersifat komprehensif sehingga dapat memfasilitasi segenap aspek perkembangan anak dengan tingkat kompleksitas dan tantangannya disesuaikan dengan taraf perkembangan anak secara individu.



D. Strategi Pembelajaran Di Taman Kanak-Kanak (TK)

A. Sasaran Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran Taman Kanak-Kanak (TK) tidak hanya diarahkan untuk mempersiapkan anak menguasai sejumlah konsep pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga diarahkan untuk mengembangkan sikap dan minat belajar serta berbagai potensi dan kemampuan dasar anak.

Tujuan pembelajaran hendaknya diarahkan untuk membantu anak belajar “bagaimana cara belajar” dan membangun suatu fondasi untuk terjadinya proses belajar sepanjang hayat. Melainkan juga pada pengembangan berbagai keterampilan dan sikap-sikap yang menunjang dan dilakukan untuk kepentingan belajar.

B. Metode Pembelajaran

Untuk dapat mencapai sasaran di atas, metode pembelajaran di Taman Kanak-Kanak (TK) perlu dirancang secara tepat. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh guru dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran di TK yaitu :

1. Karakteristik anak pada dasarnya aktif dan mempunyai kemampuan untuk berkreasi. Metode pembelajaran yang sesuai bagi anak usia TK adalah yang berpusat pada anak

2. Anak pada dasarnya belajar dalam suatu situasi yang holistik, bukannya belajar dalam bidang yang terpisah-pisah. Oleh karena itu, pembelajaran terpadu dianggap cocok untuk diterapkan bagi anak-anak TK.

3. Adanya variasi individual anak menuntut guru untuk merancang dan menyediakan sejumlah alternatif kegiatan pembelajaran guna memberi kesempatan kepada anak untuk memilih kegiatan-kegiatan yang diminatinya.

4. Cara pembelajaran bagi anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) hendaknya memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi baik dengan guru, teman-temannya, maupun dengan sumber-sumber belajar lainnya.

5. Pembelajaran seperti ini disesuaikan dengan kondisi dan cara belajar anak yang memang tidak terstruktur.

6. Penerapan bermain sebagai sarana belajar di TK meruapakan hal yang perlu diprioritaskan. Penerapan aktivitas bermain akan membuat anak terlibat dalam suatu aktivitas langsung yang bersifat menyenangkan dan bukan sekedar membuat anak mengikuti pembelajaran yang terstruktur dari guru.

C. Bahan dan Perlengkapan Belajar

Sesuai dengan cara belajar anak yang bersifat menyeluruh (holistik) dan banyak belajar dari kehidupan sehari-hari, bahan-bahan yang digunakan di Taman Kanak-Kanak (TK) hendaknya merupakan bahan-bahan yang relevan denga karkteristik dan cara belajar anak tersebut.

D. Jadwal Pembelajaran

Jadwal kegiatan belajar di Taman Kanak-Kanak (TK) hendaklah disusun secara fleksibel sesuai dengan kondisi dan keperluan yang ada. Untuk pembelajaran klasikal berkisar 10-15 menit, sedangkan untuk kegiatan bermain bebas bisa sekitar 30 menit atau mungkin lebih,tergantung intensitas minat anak terhadap kegiatan yang bersangkutan.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan jadwal kegiatan di TK adalah :
  1. Rambu-rambu yang ditetapkan  baik oleh pemerintah maupun oleh institusi TK itu sendiri;
  2. Ketersediaan sumber daya manusia (guru,administrator,dan tenaga pendukung lainnya);
  3. Ketersediaan sarana dan prasarana di sekolah, termasuk di dalamnya ruang kelas dan perlengkapan belajar anak;
  4. Alokasi waktu yang tersedia;
  5. Ketersediaan anggaran;
  6. Kondisi sosial budaya yang melingkupi institusi TK dan lingkungannya (misalnya, tidak mengadakan acara riang gembira dengan bunyi yang keras di saat penduduk di sekitarnya sedang khusus melaksanakan ritual ibadah).


E. Penilaian

Penilaian otentik memiliki beberapa karakteristik, yaitu:
  1. Tidak disajikan dalam bentuk nilai yang disimbolkan dengan angka dan huruf.
  2. Mendorong anak untuk mengevaluasi karyanya sendiri dan untuk menentukan pada bagian mana diperlukan adanya upaya peningkatan.
  3. Kesalahan-kesalahan dipandang sebagai suatu yang wajar  dan merupakan bagian dari kegiatan belajar.
  4. Sebaiknya dilakukan melalui observasi dan pencatatan
  5. Kemajuan anak dilaporkan kepada orangtua dalam bentuk komentar-komentar yang bersifat naratif.
  6. Kemajuan dilaporkan dengan membandingkan prestasi anak dengan yang pernah diperoleh pada masa lalu.
  7. Orangtua diberikan informasi secara umum tentang bagaimana keadaan anaknya apabila dibanding dengan rata-rata performa anak pada umumnya.
  8. Anak tidak “dipromosikan” dan tidak pula dianggap mengalami “kegagalan”
  9. Tinggal kelas dihindari karena alasan dampak psikogis yang negatif terhadap harga diri anak.
Demikian pembahasan tentang Pola Pendidikan Di Taman Kanak-Kanak (TK), semoga bermanfaat. Silakan menyimak materi penting lainnya......
Dan berbagai tema menarik lainnya pada blog ini. Terimakasih atas kehadiran Anda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel