Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini

A. Pengertian Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini

Banyak pakar memberikan definisi tentang psikologi. Secarabahasa psikologi berasal bahasa Yunani yaitu dari dua katapsyche dan  logos. Psyche berarti jiwa dan  logos berarti ilmu, dengandemikian psikologi adalah ilmu jiwa atau disebut juga ilmu yang mempelajaritentang jiwa manusia.

Jika seseorang diminta menunjukkan mata, tangan, atau bagian fisik lainnya, maka dengan mudah orang tersebut menunjukkan bagian yang ditanya dengan jawaban yang sama. Namun jika seseorang ditanya dimana jiwanya, maka jawaban yang muncul akan beragam, ada yang mengatakan jiwa terletak di leher, di kepala, atau di jantung.

Jiwa merupakan sesuatu yang abstrak, sehingga sulit ditunjukkan dimana letaknya dalam tubuh. Jiwa sulit ditunjukkan sebab jiwa berada di dalam seluruh tubuh manusia dan menjadi penggerak dari seluruh perilaku seseorang. Oleh sebab itu jiwa tidak dapat dipelajari secara langsung, tetapi dipelajari lewat ekspresinya.

Sebagian psikolog menyatakan jiwa dapat dipelajari melalui tingkah laku yang muncul sebagai ekspresi jiwa dari seseorang. Pendapat ini didukung oleh para tokoh aliran psikologi behavioristik. Tetapi kelompoklain menyatakan jiwa dapat dipelajari dari hakikat dan esensinya sebagai pendorong seseorang untuk berperilaku, sehingga perilaku yang sama mungkin didasari oleh dorongan yang berbeda. Pendapat ini didukung oleh para tokoh psikologi kognitif dan humanistik.

Berbagai tokoh telah menggagas pengertian psikologi berdasarkan pendapat mereka tentang objek yang dipelajari dalam psikologi. Santrock menyatakan “Psychology is the scientific study of behavior and mental processes” [Psikologi adalah kajian ilmiah terhadap proses perilaku dan mental] Loewenthal mengutip dari Hutchinson’s Encyclopedia menyatakan psikologi adalah studi sistematis tentang perilaku manusia, mencakup perananinstink, budaya, fungsi berpikir, inteligensi, dan bahasa.

Psikologi adalahcabang ilmu pengetahuan yang membahas perilaku, tindakan atau proses mental dan pikiran, diri atau kepribadian yang terkait dengan proses mental.

Dari beberapa pendapat ahli, penulis berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji dan meneliti proses mental dan perilaku seseorang. Proses tersebut diketahui seorang pengkaji atau peneliti psikologi melalui penelitian yang bersifat kuantitatif atau kualitatif.

Penelitian kuantitatif menggunakan metode-metode pengumpulan data antara lain eksprimen, tes, angket, sosiometri, dan sejenisnya. Sedangkan penelitian kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data antara lain observasi, wawancara mendalam, biografi, autobiografi,atau studi dokumen.

Perkembangan dalam bahasa Inggris disebut development. Santrock mengartikan development is the pattern of change that begins at conception and continues through the life  span [perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai sejak masa konsepsi dan berlanjut sepanjang kehidupan].

Di dalam istilah perkembangan termasuk istilah perkembangan dan pertumbuhan. Perkembangan berorientasi proses mental sedangkan pertumbuhan lebih berorientasi pada peningkatan ukuran dan struktur. Perkembangan berlangsung seumur hidup sedangkan pertumbuhan mengalami batas waktu tertentu.

Perkembangan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat fungsional, sedangkan pertumbuhan bersifat biologis. Misalnya pertumbuhan tinggi badan dimulai sejak lahir dan berhenti pada usia 18 tahun. Sedangkan perkembangan fungsional mata misalnya mengalami perubahan pasang surut mulai lahir sampai mati.

Perbedaan perkembangan dengan pertumbuhan terletak pada beberapa hal antara lain:

Tabel 1. Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan sebagai PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
Tabel 1. Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut Hurlock pada dasarnya dua proses perkembangan yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi terjadi secara serentak dalam kehidupan manusia.

Gambar Ilustrasi Perkembangan Anak Usia Dini
Ilustrasi Perkembangan Anak Usia Dini

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan tidak hanya bermakna kemajuan tetapi juga kemunduran. Perkembangan mencakup hal-hal yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Di dalam perkembangan anak usia dini juga terjadi proses perubahan yang bersifat kemajuan dan kemunduran, misalnya anak-anak tumbuh gigi tetapi pada saat yang sama anak mengalami sakit akibat pertumbuhan gigi tersebut.

Anak-anak usia dini berada pada masa keemasan (golden age). Masa ini disebut masa keemasan sebab pada usia ini terjadi perkembangan yang sangat menakjubkan dan terbaik sepanjang hidup manusia.

Perkembangan yang menakjubkan tersebut mencakup perkembangan fisik dan psikhis. Dari segi fisik anak mengalami perkembangan yang sangat luar biasa, mulai dari pertumbuhan sel-sel otak dan organ tubuh lainnya sampai perkembangan kemampuan motorik kasar seperti berjalan, berlari, melompat, memanjat, dan sebagainya.

Perkembangan fisik lainnya yang tidak kalah pentingya adalah perkembangan kemampuan motorik halus yang merupakan kemampuan melakukan koordinasi gerakan tangan dan mata, misalnya menggenggam, meraih, menulis, dan sebagainya.

Hasil-hasil studi di bidang neurologi mengetengahkan antara lain bahwa perkembangan kognitif anak telah mencapai 50% ketika anak berusia 4 tahun, 80% ketika anak berusia 8 tahun, dan mencapai 100% ketika anak berusia 18 tahun.

Studi tersebut ini membuktikan bahwa pendapat para ahli tentang keberadaan masa peka atau masa emas (golden age) pada anak- usia dini memang benar-benar terjadi. Masa emas perkembangan anak yang hanya datang sekali seumur hidup tersebut tidak boleh diabaikan.

Di samping perkembangan fisik, perkembangan psikhis juga mengalami hal-hal menakjubkan, dari kemampuan berinteraksi dengan orang tua sendiri sampai kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Mulai kemampuan berpikir sensori-motoris sampai kemampuan berpikir pra operasional konkrit.

Anak-anak pada tahap sensori motoris hanya dapat memahami sesuatu setelah menggunakan inderanya, tetapi kemudian pemahaman tersebut berkembang pada tahap pra operasional konkrit menjadi pemahaman terhadap benda bercampur dengan imajinasi anak. Perkembangan kemampuan kognitif ini memberikan sumbangan yang besar terhadap kemampuan bahasa, kemampuan emosional, kemampuan moral, bahkan kemampuan agama.

Pada usia dini anak belajar kata pertama yang diikuti ribuan kata berikutnya. Pada usia dini anak mulai berinteraksi dengan orang di sekitarnya, mulai dari orang tuanya sampai masyarakat lingkungannya. Pada usia dini anak mulai dapat membedakan baik dan  buruk, dan padausia dini pula anak-anak mulai mengenal nama Tuhan dan agamanya.

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli tentang batasan usia dini.  Di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 14 dinyatakan bahwa anak usia dini adalah anak usia 0-6 tahun. Bredekamp seorang ahli pendidikan anak usia dini menyatakan anak usia dini adalah anak usia 0-8 tahun.

Berdasarkan berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi perkembangan anak usia dini adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji dan meneliti proses perkembangan mental, perilaku, dan fisik anak antara usia 0-8 tahun.

B. Ruang Lingkup  Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini

Perkembangan anak usia dini mencakup berbagai aspek. Secara umum perkembangan anak usia dini mencakup perkembangan fisik, sosial, emosi, dan kognitif. Namun beberapa ahli mengembangkan menjadi aspek-aspek perkembangan yang lebih terinci.

Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini pada pasal 5 dinyatakan bahwa aspek-aspek pengembangan dalam kurikulum PAUD mencakup: nilai agama, nilai moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni.

Santrock menyatakan perkembangan anak usia dini mencakup aspek perkembangan fisik, kognitif, sosial-emosional, konteks sosial, moral, bahasa, identitas diri, dan gender.

Kail dan Reese menjelaskan bahwa ruang lingkup perkembangan anak usia dini mencakup perkembangan kemandirian, moral, sosial, bahasa, fisik, dan kognitif.

Bukatko dan Daehler menyatakan perkembangan anak usia dini mencakup perkembangan otak, keterampilan motorik, fisik, persepsi, bahasa, kognitif, inteligensi, emosi, konsep diri, nilai-nilai, dan gender.

Johnston dan Halocha menyatakan perkembangan anak usia dini mencakup perkembangan sosial, emosional, fisik, spasial, kognitif, dan bahasa.

Berk menyatakan ruang lingkup perkembangan anak mencakup perkembangan fisik, kognitif, kecerdasan, bahasa, emosi, sosial, dan moral.

Gestwicki menyatakan perkembangan menjadi basis pembelajaran anak usia dini adalah perkembangan fisik, sosial-emosional, kognitif, bahasa, dan literasi.

Feeney dkk menyatakan perkembangan anak usia dini mencakup perkembangan kognitif, fisik, sosial, dan emosional.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak usia dini mencakup 8 aspek yaitu:
  1. perkembangan fisik,
  2. perkembangan kognitif,
  3. perkembangan bahasa,
  4. perkembangan sosial,
  5. perkembangan moral,
  6. perkembangan emosional,
  7. perkembangan kepribadian,
  8. dan perkembangan agama.

Di dalam psikologi perkembangan anak usia dini juga dibahas teori-teori perkembangan anak usia dini. Pada artikel  ini hanya membahas 4 perkembangan anak, yaitu perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan agama, dan perkembangan moral anak usia dini.

Di samping itu artkel ini juga membahas pengertian psikologi perkembangan anak, ruang lingkup psikologi perkembangan anak usia, sejarah dan studi modern tentang anak usia dini, proses dan periode perkembangan, manfaat mempelajari psikologi perkembangan anak usia dini, teori-teori perkembangan anak, serta perkembangan anak dalam perspektif dalam Al-Qur’an dan Hadis.

C. Sejarah Dan Studi Modern Tentang Anak Usia Dini

Pada zaman dahulu anak dipandang sebagai miniatur orang dewasa, sehingga diperlakukan sebagai orang dewasa dengan fisik yang lebih kecil. Anak-anak dipandang dengan sudut pandang filosofis yang berbeda-beda.

Aliran-aliran filsafat yang membahas tentang perkembangan anak antara lain aliran empirisme, aliran nativisme, dan aliran naturalisme.

Para tokoh aliran “Empirisme” atau disebut juga  enviromnetalisme berpendapat bahwa anak dilahirkan tanpa potensi apapun, anak lahir sebagai “papan kosong” (tabula rasa). Perkembangan individu itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan, sedangkan faktor dasar/ pembawaan tidak berpengaruh sama sekali.

Aliran empririsme ini menjadikan faktor lingkungan/pembawaan maha kuasa dalam menentukan  perkembangan seseorang individu. Tokoh aliran ini adalah John Locke.

Jhon Locke lahir di Wrington, Inggris pada tanggal 29 Agustus tahun 1632 dan meninggal pada tanggal 28 Oktober 1704 di Essex, Inggris. Dia menggagas teori berdasarkan tradisi Francis Bacon. John Locke diberi gelar Bapak Liberalisme Klasik. Sebagian ahli sejarah berpendapat teori liberalism John Lock direfleksikan pada Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.

Pendapat John Locke yang selalu dipandang sebagai ide besar empirisme pikiran adalah tabula rasa (batu tulis yang kosong).

Gambar John Locke, tokoh aliran empririsme
John Locke, tokoh aliran empririsme

Locke percaya bahwa pengalaman masa anak-anak sangat menentukan karakteristik seseorang ketika dewasa. Locke menyarankan para orang tua untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka dan membantu anak-anaknya menjadi anggota masyarakat yang berguna.

Dalam pandangan para filosof yang beraliran “Nativisme” anak-anak membawa dosa  asal (original sin view) yang menentukan perkembangan anak. Anak-anak dipandang lahir ke dunia sebagai makhluk yang jahat.

Tujuan dari merawat anak adalah memberikan penyelamatan dan meng-hapus dosa  dari kehidupan anak. Tokoh utama aliran ini yang terkenal adalah Schopenhauer seorang pendeta agama Katolik.

Schopenhauer lahir di kota Danzig, Jerman pada tanggal 22 Pebruari 1788 dan meninggal dunia pada tanggal 21 September 1860. Schopenhauer telah menulis beberapa buku di antaranya yang paling banyak membahas tentang nativisme adalah  The World as Will and Representation.

Gambar Schopenhauer; tokoh aliran Nativisme
Schopenhauer; tokoh aliran Nativisme

Schopenhauer menjadi 
dosen di Universitas Berlin pada 1820. Schopenhauer menyakini kepribadian dan intelektual adalah bersifat turunan (heredity). Menurutnya keberanian dan kebaikan diturunkan dari orang tua, demikian sikap penakut diwarisi dari orang tua yang penakut. Dia menyebutkan pendapatnya dengan argumen heditas yang bersifat mekanistis. Schopenhauer meyakini kecerdasan diwarisi dari ibu dan karakter kepribadian diwarisi dari ayah.

Pada awal abad ke-18 muncul teori naturalisme memandang anak membawa kebaikan alami (innate goodness view). Potensi baik ini berkembang dengan cara melihat, berpikir, dan merasa tentang alam. Alam seperti guru yang mendorong anak mengembangkan kemampuan berbeda-beda di tingkat pertumbuhan yang berbeda. Teori ini dikemukakan Jean Jecques Rousseau (1712-1778) dalam bukunya yang berjudul Emile. Belajar dari alam anak-anak mungkin berubah mungkin tidak, tetapi anak tetap saja sebagai pribadi yang baik, utuh, dan kuat.

Karena anak pada dasarnya baik, maka sebaiknya para orang tua atau guru  mengizinkan anak untuk tumbuh alami dengan cara belajar dari alam, sehingga orang
tua sebaiknya mengurangi batasan-batasan dalam eksplorasi alam pada anak.

Di akhir abad ke-18 metode penelitian dalam mengumpulkan data-data tentang anak usia dini berkembang dengan pesat dan menjadi salah ilmu pengetahuan yang berkelas. Pada awal abad ke-19 metode penelitian yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data-data tentang anak usia dini mencakup metode-metode penelitian kualitatif dan kuantitaif.

Penelitian-penelitian yang bersifat kuantitatif antara lain metode penelitian eksprimen, ex post facto, survey, dan korelasi dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan psikologis anak usia dini.

Pengukuran kecerdasan anak dengan menggunakan metode tes telah digagas Alfred. G. Stanley Hall menggunakan angket dalam sebuah penelitian yang melibatkan 400 anak  di sekolah-sekolah Boston untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal yang diketahui anak tentang diri mereka sendiri.

Piaget juga telah melakukan pengamatan terhadap perkembangan kognitif anak.

Berbagai penelitian tentang perkembangan anak telah menggunakan berbagai metode penelitian untuk mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan perkembangan anak. Sebagaimana persyaratan dalam pengembangan sebuah disiplin, penelitian-penelitian tentang perkembangan anak harus terus menerus dilakukan.

D. Proses Dan Periode Perkembangan Anak Usia Dini

Setiap manusia mengalami proses perkembangan yang berlangsung seumur hidup, namun perkembangan tersebut tidak persis sama antara satu individu dengan individu lainnya, meskipun dalam beberapa hal ada kesamaan perkembangan di antara individu. Setiap orang mengalami perkembangan termasuk para tokoh-tokoh besar atau orang yang tidak terkenal.

Manusia memulai hidupnya dari sejak menjadi janin, menjadi bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Secara garis besar proses perkembangan manusia terdiri dari proses biologis, kognitif, dan sosial emosional. Proses biologis menghasilkan perubahan manusia.

Proses biologi meliputi pewarisan gen dari orang tua, perkembangan tubuh meliputi pertumbuhan berat badan dan tinggi badan, perkembangan otak, keterampilan motorik, dan perubahan hormon pada masa puber.

Proses kognitif meliputi perubahan dalam pikiran, inteligensi, dan bahasa manusia. Contoh proses kognitif terjadi dalam mengenali benda-benda pada bayi, menggabung kalimat, menguasai kata, mengingat puisi, mengerjakan soal-soal matematika, membayangkan sesuatu yang akan terjadi, menemukan jawaban sebab akibat, atau memahami sesuatu yang tersirat dalam sebuah peristiwa.

Proses sosial emosi merupakan perubahan dalam hubungan manusia dengan orang lain, perubahan emosi, dan perubahan dalam kepribadian.

Bayi belajar tersenyum kepada ibunya dan orang-orang di sekitarnya. Anak laki-laki berkelahi dan berteman dengan teman sebayanya, perkembangan perasaan anak-anak terhadap temannya yang berbeda jenis kelamin.

Perkembangan sikap sosial dan anti sosial pada anak-anak dan  remaja, merupakan bagian dari proses sosial emoisonal dalam perkembangan manusia.

Ketiga proses tersebut saling berhubungan, misalnya perkembangan sel-sel otak mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Sebab di dalam otak terdapat bagian-bagian yang mengontrol kemampuan berpikir dan kemampuan bersosialisasi serta kemampuan merasakan emosi terhadap orang lain. Di dalam perkembangan anak ketiga proses perkembangan tersebut muncul secara bersamaan sebab semua perkembangan tersebut terjadi dalam satu tubuh.

Para psikolog menyatakan anak-anak mengalami beberapa periode perkembangan. Hurlock menyatakan ada 5 (lima) tahap perkembangan yang dialami pada masa anak-anak.....
  • Pertama, periode prenatal yaitu periode konsepsi sampai lahir.
  • Kedua, periode bayi mulai dari kelahiran sampaiakhir minggu kedua.
  • Ketiga, akhir minggu kedua  masa kelahiran akhir tahun kedua.
  • Keempat, awal masa kanak-kanak dua sampai enam tahun.
  • Kelima, akhir masa anak-anak, enam sepuluh atau dua belas tahun.

Montessori menyatakan periode perkembangan anak berdasarkan kepekaan anak terhadap benda-benda yang ada di sekitarnya. Periode pertama dalam kehidupan manusia terjadi pada usia 0-6 tahun. Pada usia 0-3 tahun anak-anak menunjukkan perkembangan mental yang sulit didekati dan dipengaruhi orang dewasa.

Pada usia ini anak-anak mengalami kepekaan yang kuat terhadap keteraturan, misalnya jika dia biasa melihat sesuatu diletakkan di atas meja, maka dia akan menangis atau memindahkan barang tersebut ke tempat semula. Pada periode ini juga anak-anak mengalami kepekaan detail, dimana jika dia melihat sesuatu dia akan memperhatikan benda tersebut sedetail mungkin, misalnya memegangnya, menciumnya, atau menjilatnya.

Pada periode ini anak-anak juga mengalami kepekaan tangan dan kaki, sehingga pada masa ini anak sangat suka menggunakan tangannya untuk memegang, melempar, dan sebagainya serta menggunakan kakinya untuk berjalan. Pada usia 3-6 tahun, anak-anak sudah mulai bisa didekati dan dipengaruhi pada situasi-situasi tertentu.

Periode ini ditandai dengan anak-anak menjadi lebih individual dan memiliki kecerdasan yang cukup untuk memasuki sekolah. Anak-anak pada usia ini telah menguasai banyak kosa kata sehingga mereka sudah lancar berbicara.

Anak-anak mengalami perkembangan dalam tiga tahap.....
  • Tahap pertama masa bayi dari usia 0-6 tahun. Pada masa ini bayi mengenal dunia langsung melalui inderanya. Bayi sangat ingin mengetahui hal-hal yang terjadi di sekitarnya meskipun dia belum memahami alasannya. Mereka menyentuh segala sesuatu yang mereka lihat dan menyerap kata-kata yang mereka dengar.
  • Tahap kedua, masa kanak-kanak dari usia 2 (dua) sampai 12 tahun. Pada tahap ini anak telah memiliki kemerdekaan sendiri; mereka sudah memiliki banyak keterampilan fisik, kemampuan berbicara, memiliki kemampuan berpikir, dan membuat abstraksi.
  • Tahap ketiga, masa kanak-kanak akhir dari usia 12 sampai 15 tahun. Tahap ini merupakan transisi antara masa anak-anak dan dewasa. Mereka telah memiliki kekuatan fisik, kemampuan kognitif yang substansial sehingga mampu mengerjakan tugas-tugas yang bersifat teoritis dan verbal.
Bowlby dengan teori attachment (kemelekatan) menyatakan ada 4 tahap perkembangan pada anak usia dini......
  • Fase pertamarespon tidak terpilah (usia lahir sampai 3 bulan). Pada fase ini bayi sangat menyukai wajah manusia dibandingkan dengan benda lainnya. Pada usia 0-3 bulan bayi selalu tersenyum kepada semua orang yang dilihatnya. Sikap ini menunjukkan kemelekatan bayi dengan semua orang yang ada di sekitarnya.
  • Fase kedua, fokus pada orang yang dikenal (usia 3-6 bulan). Pada tahap ini bayi lebih selektif dalam memberikan senyum. Mereka hanya tersenyum kepada orang-orang yang dikenalnya. Sikap ini menunjukkan kemelekatan bayi hanya dengan orang yang dikenalnya.
  • Fase ketiga, kemelekatan yang intens dan pencarian kedekatan yang aktif (usia 6 bulan sampai 3 tahun). Pada fase ini bayi selalu menangis jika ditinggalkan ibunya, dia menunjukkan rasa cemas terhadap perpisahan. Bayi akan menangis jika ditinggalkan dan akan tersenyum jika ibunya kembali.
  • Fase keempat, tingkah laku persahabatan (usia 3 tahun sampai akhir masa kanak-kanak). Pada fase ini anak-anak berkonsentrasi pada kepada kebutuhan mereka untuk mempertahankan kedekatannya kepada orang tuanya atau pengasuhnya. Teori kemelekatan Bowlby menunjukkan bahwa manusia sejak anak-anak telah takut hidup sendirian.

E. Masalah Perkembangan Anak Usia Dini

Dalam membicarakan perkembangan, para ahli psikologi selalu terlibat dalam perdebatan menentukan faktor-faktor yang paling dominan dalam proses perkembangan tersebut. Perdebatan yang selalu terjadi terjadi antara lain dalam masalah bawaan (nature) dan bimbingan (nurture), kesinambungan dan ketidaksinambungan, serta pengalaman masa dini dan masa lanjut.

1. Faktor Bawaan (Nature) dan Bimbingan (Nurture)

Faktor bawaan digagas para pengikut teori nativisme yang  memandang anak berkembang sesuai dengan potensi bawaannya. Para tokoh penggagas teori ini antara  lain Schoupenhauer, Leibniz, Immanuel Kant, Chomsky, dan Pinker.

Menurut Leibniz “monad” yang secara umum artinya ide, telah dibawa manusia sejak lahir. Leibniz menyakini bahwa ada kekuatan yang telah membuat “program” segala perbuatan yang akan dilakukan seseorang. Dari kata “monad” muncul istilah “monistic” sebuah teori dalam psikologi agama yang menyatakan bahwa agama berasal dari sebuah kebutuhan.

Kant menyatakan manusia dilahirkan dalam keadaan baik. Sumber kebaikan dalam diri manusia tidak diperoleh dari luar, melainkan dari dalam diri yang secara alami telah diberikan Tuhan kepada manusia. Menurutnya perbuatan bermoral berakar pada kebebasan manusia dalam berbuat dan perbuatan itu terjadi secara otomatis sesuai  dengan prinsip-prinsip moral yang rasional.

Noam Chomsky dengan teori Language Acquisition Device (LAD) menyatakan bahwa kemampuan berbahasa manusia dibawa sejak lahir. Dia menjelaskan manusia dibekali dengan instink berbahasa sejak lahir yang selalu disebutnya dengan istilah “innate facility” (fasilitas bawaan). Chomsky menyatakan kemampuan berbahasa merupakan kemampuan khusus manusia, terutama dalam kemampuan menghasilkan bahasa yang tidak dimiliki makhluk lain.

Ketiga tokoh di atas menunjukkan bahwa faktor yang menentukan manusia mampu berpikir, membedakan baik dan buruk, serta mampu menghasilkan dan menerima bahasa adalah faktor bawaan bukan faktor lingkungan.

Pendapat ini kemudian ditolak oleh kelompok lain yaitu para pengikut teori lingkungan (teori  enviromentalisme). Faktor bimbingan atau lingkungan digagas para pengikut teori enviromentalisme menyatakan perkembangan ditentukan oleh lingkungan. Para tokoh penggagas aliran antara John Locke, Hume, dan Skinner.

John Locke adalah filsuf Inggris yang hidup antara tahun 1632-1704 M. Locke terkenal dengan istilah  tabularasa (meja lilin kosong). Locke mengakui kalau individu memiliki temperamen yang berbeda, namun secara keseluruhan, lingkunganlah yang membentuk jiwa.

Pada saat jiwa dalam kondisi lunak yaitu pada usia dini, anak-anak mudah dididik menurut kemauan pendidiknya. Lingkungan membentuk jiwa anak-anak melalui  proses asiosiasi (dua gagasan selalu muncul bersama-sama), repetisi (melakukan sesuatu berkali-kali), imitasi (peniruan), dan reward and punishment (penghargaan dan hukuman).

David Hume terkenal dengan teori bundle of mind (ikat pikiran) yang menyatakan bahwa pikiran adalah seberkas atau sekumpulan persepsi berbeda, yang bergantian satu sama lain dengan kecepatan tak tercermati, serta berada dalam perubahan dan pergerakan terus-menerus.

Pikiran bukanlah substansi mental tapi semata-mata seberkas pengalaman yang terjadi secaa berurutan. Rangkaian pengalaman tersebut membentuk kumpulan yang dinamakan pikiran. Pikiran memiliki beberapa ciri yaitu:
  • Keserupaan persepsi,
  • kedekatan pengalaman waktu dan tempat,
  • keteraturan antar persepsi, dan
  • memori.

Skinner menyatakan perilaku merupakan hasil latihan yang diselingi dengan ganjaran (reward) dan hukuman (punishment). Tingkah laku manusia dibentuk melalui stimulus dan respons, dan tingkah laku yang terbentuk dari 2 unsur tersebut disebut refleks. 

Perasaan yang nyaman dalam melakukan sesuatu dapat menjadikan seseorang melakukan perbuatan tersebut berulang-ulang sehingga menjadi sebuah perilaku refleks, sementara perasaan yang tidak nyaman yang timbul akibat melakukan suatu perbuatan dapat menjadikan seseorang menjauhi atau meninggalkan perbuatan tersebut.

Di dalam ajaran Islam juga dinyatakan bahwa anak-anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Fitrah yang dimaknai dengan anak-anak dilahirkan tanpa dosa dan memiliki kecenderungan untuk beragama tauhid. Anak-anak tidak dibekali dengan kecenderungan mensyarikatkan Allah, tetapi lingkungan-nya yang merubah fitrah tersebut menyimpang menjadi Yahudi, Majusi, atau Nasrani.

Oleh sebab Islam memandang faktor pembawaan merupakan hal penting dalam perkembangan, namun faktor lingkungan dapat menyembunyikan faktor bawaan tersebut sehingga tidak berkembang sebagaimana mestinya.

Oleh sebab itu di dalam ajaran Islam dianjurkan memilih pasangan yang beriman dibandingkan dengan pasangan yang kaya, tampan atau cantik, serta dari keturunan orang-orang terpandang.

“Bi’ah” atau  lingkungan di dalam Islam sangat menentukan perkembangan seseorang.
Islam juga melarang pernikahan dengan ahli waris.

Allah berfirman dalam Q.S An-Nisa’/4: 23 yang artinya: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosakamu  mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Pernikahan dengan ahli waris dilarang bukan saja didasarkan pada larangan Allah semata, tetapi juga dapat dilihat dari sisi kesehatan. Penelitian yang dilakukan Debra Lieberman dari University of Hawai menunjukkan bahwa salah satu bahaya yang bisa timbul dari pernikahan sedarah adalah sulit untuk mencegah terjadinya penyakit yang terkait dengan gen buruk orangtua pada anak-anaknya kelak.

Lieberman menuturkan pernikahan dengan saudara kandung atau saudara yang sangat dekat bisa meningkatkan secara drastis kemungkinan mendapatkan dua salinan gen yang merugikan, dibandingkan jika menikah dengan orang yang berasal dari luar keluarga.

Hal ini disebabkan masing-masing orang membawa salinan gen yang buruk dan tidak ada gen normal yang dapat menggantikannya, sehingga pasti ada beberapa masalah yang nantinya bisa menyebabkan anak memiliki waktu hidup pendek.

Alan Bittles, direktur dari pusat genetik manusia di Perth, Australia telah mengumpulkan data mengenai kematian anak yang dilahirkan dari pernikahan antara sepupu dari seluruh dunia.

Hasil penelitian ini menunjukkan terjadi tingkat kematian yang tinggi pada anak-anak yang dilahirkan pada pernikahan antara saudara sepupu. Penelitian ini memperkuat bahwa faktor keturunan mempengaruhi perkembangan anak.

2. Kesinambungan dan Ketidaksinambungan

Coba perhatikan bagaimana seorang anak berkembang dari hari ke hari. Mungkin kita masih mengingat seorang bayi yang baru lahir belum bisa mengangkat kepalanya, masih dapat melihat dengan jarak tertentu, dan belum bisa berbicara dengan bahasa ibu. Tetapi secara bertahap bayi dapat mengangkat kepalanya, dapat melihat dengan jarak yang lebih jauh dan fokus, dan dapat berbicara dengan bahasa ibu atau bahasa lain yang dipelajarinya.

Perkembangan terkadang terjadi secara berkesinambungan, tetapi juga kadang-kadang terjadi tidak berkesinambungan.

Para penganut aliran nurture selalu memandang perkembangan sebagai proses bertahap dan berkelanjutan. Misalnya mereka mengatakan anak-anak yang telah mampu berjalan dan mendapat kesempatan belajar berjalan tentu akan mampu berlari sebagai konsekuensi dari kemampuan berjalan yang telah dimilikinya. Perkembangan terjadi secara kualitatif terus bertambah dan berkembang.

Di sisi lain para ahli aliran nature selalu mengatakan bahwa kadang-kadang perkembangan tidak berkesinambungan. Mereka mencontohkan perkembangan ulat menjadi kupu-kupu. Bukankah ulat dan kupu-kupu dua nama bagi binatang yang berbeda.

Mereka mengatakan anak-anak yang bersifat baik dan penurut berubah menjadi anak yang keras kepala ketika remaja. Anak-anak yang semula hanya mampu berpikir konkrit, tetapi pada usia tertentu mampu berpikir abstrak. Perkembangan bersifat kualitatif dan tidak selalu merupakan lanjutan dari tahap sebelumnya.

Di dalam perkembangan mungkin saja terjadi percepatan, lompatan,atau bahkan kemunduran.

3. Pengalaman Masa Dini dan Masa Lanjut

Sebagian ahli psikologi perkembangan sangat meyakini bahwa pengalaman pada usia dini sangat mempengaruhi perkembangan. Mereka yang sukses pada awal-awal kehidupan tentu akan mengalami pengalaman yang baik pada masa selanjutnya.

Pendapat ini didukung banyak ahli di antaranya Erik Erikson yang menyatakan bahwa pengalaman sosial emosional pada usia dini akan menentukan perkembangan sosial emosional pada usia berikutnya.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membuktikan sumbangan pengalaman pada usia dini terhadap perkembangan selanjutnya. Misalnya penelitian yang dilakukan Mischel dan Pattersons pada tahun 1976 dalam sebuah investigasi tentang latihan kesabaran.

Dalam investigasi tersebut mereka meminta anak-anak prasekolah melakukan pekerjaan yang membosankan dan di dekatnya ada badut yang mengajaknya bermain.

Anak-anak yang terlatih akan mengatakan: “Aku tidak akan melihat Pak Badut ketika Pak Badut memintaku melihatnya.” Anak-anak yang terlatih lebih tahan lama mengerjakan pekerjaan yang membosankan tersebut daripada anak-anak yang tidak terlatih.

Sebagian para ahli psikologi tidak memandang pengalaman pada usia dini sangat menentukan perkembangan pada usia selanjutnya.

Para pendukung pendapat ini menyakini bahwa anak bersifat fleksibel. Mereka tidak menolak pendapat bahwa pengalaman pada usia dini memiliki pengaruh pada usia selanjutnya tetapi mereka yakin bahwa pengalaman pada usia dini sama pentingnya dengan pengalaman pada usia-usia selanjutnya.

Misalnya di dalam ajaran Islam diyakini bahwa anak-anak usia 7 (tujuh) tahun harus diajarkan shalat dan pada usia 10 tahun dipukul jika meninggalkan shalat. Ini merupakan contoh yang menunjukkan bahwa anak-anak baru diajarkan agama setelah mereka menyelesaikan usia 0-6 tahun atau dengan kata lain setelah mereka memiliki kesiapan belajar agama dengan baik. Tidak menjadi masalah apakah mereka masih salah memahami Tuhan pada tahun-tahun sebelumnya.

F. Metode Penelitian Perkembangan Anak Usia Dini

Metode penelitian perkembangan anak usia dini mencakup metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian kualitatif yang dapat digunakan dalam pengumpulan data perkembangan anak usia dini antara observasi, wawancara, dan studi dokumen.

Metode observasi telah pernah digunakan Piaget dalam melakukan penelitian tentang perkembangan kognitif dan perkembangan moral anak usia dini. Hasil observasi yang dilakukan Piaget bertahun-tahun telah menghasilkan teori perkembangan kognitif dan perkembangan moral anak usia dini yang digunakan sampai sekarang.

Metode wawancara telah pernah digunakan Kohlberg dalam melakukan penelitian tentang perkembangan moral anak usia dini. Hasil wawancara yang dilakukan Kohlberg dengan berbagai bangsa telah menghasilkan teori perkembangan moral anak usia dini yang digunakan sampai sekarang.

Metode kuantitatif yang dapat digunakan dalam pengumpulan data perkembangan anak usia dini antara lain metode eksprimen, angket, atau tes. Eksprimen telah pernah digunakan Bandura untuk mengetahui perkembangan moral anak usia dini. Eksprimen juga pernah digunakan Pavlov dan Skinner untuk mengetahui perkembangan belajar pada manusia termasuk pada anak-anak.

Tes pernah digunakan Binet dalam mengembangkan ukuran kecerdasan pada manusia termasuk pada anak-anak. Angket pernah digunakan Malighy untuk meneliti perkembangan agama pada anak dan remaja.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa semua metode penelitian yang bersifat kuantitatif dan kualitatif dapat digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data perkembangan anak usia dini. Oleh sebab itu penggunaan metode penelitian dalam pengembangan ilmu perkembangan anak usia dini dapat dilakukan secara variatif.

G. Manfaat Mempelajari Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini Bagi Guru PAUD

Sebagaimana dijelaskan di atas, psikologi perkembangan anak usia dini telah berkembang dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu teori-teori perkembangan anak juga mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai profesi yang membutuhkan pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak usia dini, di antaranya dokter anak dan guru Pendidikan Anak Usia Dini.

Di dalam pasal 20 Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, seorang guru berkewajiban:
  • merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
  • meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
  • bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
  • menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan
  • memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. Pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak usia dini dapat membantu guru merencanakan, melaksanakan, dan menilai hasil pembelajaran sesuai dengan perkembangan anak.

Dalam upaya meningkatkan keprofesionalan guru, khususnya guru PAUD, di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru dinyatakan bahwa seorang guru PAUD harus memiliki 4 (empat) kompetensi agar dapat menjadi guru profesional. Keempat kompetensi tersebut mencakup kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.

Salah satu indikator dari kompetensi pedagogik pada guru PAUD adalah menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. Dengan mempelajari psikologi perkembangan anak usia dini calon guru PAUD dapat mendapatkan manfaat antara lain:
  • Pertama, memahami dan menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual sehingga dapat memberikan materi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak.
  • Kedua, dapat memilih solusi yang tepat dalam permasalahan pembelajaran yang dihadapi anak di sekolah.
  • Ketiga, dapat menjadi tempat bertanya para wali murid jika menghadapi masalah anak di rumah.
  • Keempat dapat mengembangkan berbagai strategi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak.
  • Kelima, guru dapat melakukan penilaian yang tepat bagi perkembangan kemajuan belajar anak.
  • Keenam guru dapat menggabungkan pengasuhan dan pembelajaran.

Di samping manfaat di atas bagi guru-guru PAUD yang ingin melaksanakan penelitian pengembangan kemampuan anak dapat menentukan indikator ketercapaian perkembangan yang sesuai dengan teori. Penelitian reflektif tersebut akan membantu guru mengatasi berbagai masalah pembelajaran yang berkaitan dengan perbedaan individu anak usia dini.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel