Ruang Lingkup Seni Rupa Anak Usia Dini

Sebelum membahas lingkup seni rupa anak usia dini, lebih dahulu mengetahui maksud karya rupa anak. Istilah  karya  rupa yaitu karya anak yang dapat dilihat (berupa dwimatra maupun trimatra), serta dapat dinikmati dan disentuh. Karya tersebut mungkin berupa benda-benda yang diciptakan seperti: gambar, boneka dari kertas yang disobek diberi kepala, atau yang lain sehingga menjadi alat bermain.

Di samping itu juga karya rupa dapat berupa modifikasi bentuk atau benda yang ada di sekelilingnya seperti: botol, karton, batu, atau benda-benda buatan orang  dewasa maupun pabrik yang dialihfungsikan sehingga mempunyai fungsi baru. Contoh modifikasi: botol menjadi boneka, pensil dibayangkan menjadi roket, atau pesawat terbang.

A. SENI RUPA ANAK USIA DINI

1. Karya Rupa  

Karya rupa merupakan hasil pikiran, keinginan, gagasan dan perasaan anak terhadap lingkungan sekitar sebagai refleksi terhadap bentuk maupun dorongan emosi terhadap lingkungannya. Gambaran pikiran dan perasaan anak bercampur menjadi satu. Di sisi lain, kegiatan ini muncul karena dorongan mengekspresikan lewat kata-kata tidak muncul dan barangkali karena kemampuan teknis berkarya tidak bisa mewadahi pikiran anak.

Tujuan keterampilan berseni rupa diberikan kepada anak adalah agar anak dapat mengungkapan perasaan dan pikiran serta angan-angan anak tentang diri dan lingkungannya.

Pada Gambar di bawah ini terlihat boneka kertas yang dibuat oleh anak usia 5 tahun; boneka ini diperankan sebagai anggota keluarga. Anak membayangkan kehidupan keluarga yang terjadi pada setiap harinya; bapak, ibu serta anak yang lain diletakkan di atas kursi ciptaannya.

boneka kertas yang dibuat oleh anak usia 5 tahun
Gambae 1. Boneka Kertas

Sedangkan pada Gambar 2, anak ingin menjelaskan situasi dan kehidupan di keluarganya. Anak ingin mengungkapkan tugas ibu merawat bunga, menyiram, memotong dan memberi pupuk.

Gambar 2. Anak Ingin Menjelaskan Situasi dan Kehidupan di Keluarganya
Gambar 2. Anak Ingin Menjelaskan Situasi dan Kehidupan di Keluarganya

2. Seni Rupa Anak Usia Dini 

Keterampilan seni rupa adalah menciptakan sesuatu bentuk baru dan mengubah fungsi bentuk. Kegiatan ini sering dilakukan oleh anak-anak pada usia dini karena sifat keingintahuan. Anak memperlakukan selembar kertas kosong sebagai teman bicara, diajak berbicara terlebih dahulu kemudian baru menggambar.

Gambar tersebut kadang tidak berwujud figuratif, tetapi juga bisa berupa coretan garis. Menggambar dikerjakan dengan berlari, berhenti sejenak kemudian bercerita dan dilanjutkan lagi dengan menggoreskan benda tajam. Sembari mengambil alat permainan yang sudah ditata rapi dari almari, alat tersebut disebar diletakkan di sembarang tempat, inilah kegiatan bermain.
Kegiatan anak berseni rupa seperti tersebut adalah sebagian dari contoh perilaku karya; tetapi sebenarnya contoh kegiatan anak yang serupa dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Segala sesuatu yang dia ciptakan kadang tidak dapat dipisahkan apakah kegiatan bermain atau berekspresi.

Kegiatan ini menyatukan antara pikiran dan perasaan yang secara kompleks bekerja secara simultan. Kadang kala, kegiatan tersebut tidak dapat digolongkan ke dalam skema di atas secara pasti, karena kegiatan berpikir sebenarnya juga sebagai kegiatan merasakan sesuatu  dan sekaligus ingin usaha mengutarakan isi hatinya.

Dari serangkaian kegiatan di atas, sebagian karya anak akan terlihat bermacam-macam:

  • karya itu setiap saat tidak berkembang, permainan boneka dari kayu, maupun menggerakkan benda berbentuk kubus sebagai mobil, atau menggambar gunung dan sungai.
  • anak  selalu berubah memainkan peran benda yang ada; sesekali benda kubus dibayangkan sebagai mobil, di lain waktu benda tersebut dijadikan rumah, jika anak menggambar, maka gambarnya pun mempunyai judul yang tidak tetap.
  • anak senantiasa mengubah dan terkesan merusak benda yang ada dan tidak dikembalikan seperti bentuk semula.


Kegiatan yang dilakukan anak seperti menggambar dan membuat sesuatu yang lain daripada yang lain dapat dikatakan seni, seperti menggambar objek yang selalu lain dari yang lain. Demikian pula membuat bentuk baru sehingga terkesan kreatif, juga dapat dikatakan seni.

Kesenian orang dewasa mempunyai kriteria, dan penilaian yang berbeda dengan karya anak. Karya seni anak dilakukan belum  dengan kesadaran penuh menata garis, warna dan bentuk. Karya seni anak mampu menampung angan-angan dan kemudian mewujudkannya serta secara tetap (konstan) serta memberi judul beserta alasannya.

Anak melakukan kegiatan berkarya rupa seperti menyusun benda-benda di lingkungan sekitarnya, atau mengubah fungsi benda menjadi permainan atau mencoret dan menggambar dinding maupun lantai dapat digolongkan sebagai seni anak,  karena anak ingin bermain, dan berkomunikasi dengan pihak lain. Bentuk tersebut dapat mewakili ide dan gagasannya secara konstan maka disebut pula sebagai kesenian anak.

Ketika seorang anak tidak puas dengan alat permainan yang sudah ada, anak ingin mencari sesuatu yang baru yang mampu mengungkapkan ide dan rasa. Seperti anak laki-laki membongkar alat permainan dan menyusun kembali. Kegiatan ini merupakan sifat keingintahuan anak dan mencari sesuatu yang baru. Demikian pula anak perempuan ingin merawat bunga, membongkar baju boneka dan mengganti dengan kain sarung.

Jadi kesenian difungsikan oleh anak sebagai media ungkapan perasaan, ide, gagasan dan pikiran anak. Karyanya sebagai alat bermain imajinasi, mengutarakan ide dan juga sebagai media komunikasi. Karya seni rupa tersebut dimodifikasi sehingga bentuk dan berfungsi beda. Karya-karya rupa secara alami mempunyai susunan, cara penyusunan, bentuk/figur maupun warna dan garis yang khas sehubungan dengan kekuatan otot tangannya.

Contoh: kursi berkaki empat digambar seperti angka  empat terbalik; atau bunga digambar berupa tangkai yang berbunga dan pot yang berbentuk trapesium terbalik. Kegiatan ini dilakukan guna memberikan simbol objek.

Gambar Anak Usia 5 Tahun
Gambar 3. Gambar Anak Usia 5 Tahun
Gambar ini mengungkap pikiran anak: ingin naik pesawat terbang, ingin menjadi pilot, kehebatan benda besar dapat terbang, dan ingin menciptakan rumah udara untuk mendarat pesawat terbang. Bayangan anak terhadap situasi yang aneh itu terungkap dengan gambar yang tersamar (dalam bentuk simbol) maupun gambar sederhana.

B. HAKIKAT SENI RUPA BAGI ANAK USIA DINI 

 1. Seni sebagai Media Bermain 

Peristiwa menggambar atau membuat benda-benda menjadi alih fungsi ini lebih dimaksudkan anak sebagai kegiatan bermain. Anak memperlakukan gambar sebagai bayangan objek yang tidak ditemukan di lingkungan sekitar. Figur yang ada dalam gambar permainan ini satu persatu dihafalkan dan pada suatu ketika akan muncul kembali dengan bentuk yang lebih sempurna.

a. Bermain Imajinasi 
Bermain bagi anak mempunyai peran penting, karena di dalam bermain bentuk anak-anak dapat membayangkan atau berimajinasi tentang kejadian di tahun 2020; anak akan menampilkan bermacam-macam ide dan gagasan. Misalnya: rumah terapung akan memberikan inspirasi baru atas keinginannya membuat rumah yang nyaman tidak diganggu orang lain seperti menikmati lautan dan dapat bergerak di mana saja di laut.

Demikian pula rumah angkasa yang menggambarkan rumah balon, dengan inspirasi balon udara. Pada kesempatan lain, anak juga ingin mengutarakan pendapat, bahwa dia ingin berperan. Imajinasi anak tentang peran dirinya ini  pada suatu ketika akan tampak pada gambar anak. Sebagai contoh peran sebagai teman yang baik, kadang kala ingin menjadi superman atau yang lain.

Anak Usia 5 Tahun yang Ingin Menunjukkan Peran Dirinya dan Meminta Perhatian Seluruh Keluarga Sebagai yang Paling Bisa
Gambar 4. Anak Usia 5 Tahun yang Ingin Menunjukkan Peran Dirinya dan Meminta Perhatian Seluruh Keluarga Sebagai yang Paling Bisa

Gambar anak usia 5 tahun yang ingin menunjukkan peran dirinya dan meminta perhatian seluruh keluarga sebagai yang paling bisa. Ketika anak sedang menggambar disertai dengan bercerita tentang kekuatan manusia Laba-laba sebagai seorang superman.

b. Permainan Ide 
Seni rupa bagi anak merupakan alat untuk memainkan  ide serta pikiran yang penuh dengan gagasan. Ketika anak masuk sekolah Taman Kanak-kanak, guru meminta anak menggambar meja yang ada di kelas, mungkin saja anak akan menggambar meja yang ada di rumah. Secara naluriah ide anak itu telah dibawa ke mana saja dan pada suatu ketika akan muncul kembali gagasannya. Meja sebagai objek formal (dilihat langsung) oleh anak akan kalah dengan gambaran yang telah dipunyai sebelum menggambar.

c. Permainan Fisik 
Seperti telah diungkapkan di depan bahwa kegiatan menggambar yang dilakukan anak kadangkala disertai dengan gerakan fisik, seperti berlari atau bernyanyi dan bercerita kepada orang lain. Sebenarnya juga sering dijumpai, anak menggambar objek disertai menggerakkan tangan   dan menunjukkan kemarahan kepada gambar yang sedang dibuat, kemudian disertai dengan menirukan gerakan menghantam seseorang dengan tenaga dalam. Belum selesai mengacungkan tangan yang siap menghantam lawan, anak kemudian melanjutkan menggambar dan menirukan seolah-olah lawannya terjatuh.

2. Seni sebagai Media Berkomunikasi 

Tidak setiap anak mempunyai perkembangan bicara dan mengutarakan pendapatnya secara lisan, oleh karenanya gambar dapat digunakan sebagai alat untuk mengutarakan pendapat. Sebagai contoh gambar di bawah ini: Cita-cita anak akan menjadi seorang polisi, dia membayangkan kegagahan polisi seperti ayahnya sebagai seorang polisi.

Badan polisi digambar lebih besar dari pada mobil atau bus
Gambar 5. Badan polisi digambar lebih besar dari pada mobil atau bus

Polisi sedang mengatur jalannya lalu lintas kota, dan sebagian gambar menjadi tidak proporsional. Gambar seorang polisi mendapat perhatian dengan membesarkan ukuran dari yang lain, hal ini karena fokus pembicaraannya adalah polisi idolanya.

3. Seni sebagai Ungkapan Rasa 

Kegiatan anak dilakukan dengan sadar maupun hanya sekedar mencoret kertas atau dinding, kesemuanya ini tetap diakui sebagai karya rupa atau gambar. Ketika seorang anak melakukan kegiatan mencoret dinding dengan sadar, maka segala bentuk yang diutarakan kembali dengan urut dan tidak berubah. Kegiatan ini disebut ekspresi seni.

Anak-anak mengutarakan sesuatu dengan luas tanpa batas, berupa keinginan terhadap suatu benda, atau sedang bergumam umpatan terhadap ibu atau tidak terkabulnya permintaan anak.

Kegiatan ini dilakukan kapan saja, ketika anak marah dengan teman, atau mengagumi kehebatan seorang ayah serta temannya yang paling disukai diungkapkan dalam bentuk gambar. Jika diamati cara kerja anak ketika menggambar, terdapat dua gerakan:
  • Pertama menggambar dengan spontan disertai dengan kegiatan mendongeng, menyanyi atau yang lain menjadikan ungkapan lebih penting dari pada bentuk atau figur karya. Permainan rasa pada anak usia dini berupa spontanitas menggambar, menggambar merupakan bagian dari mendongeng dan mengutarakan pendapat. Kegiatan menggambar yang dilakukan akan berhenti ketika cerita yang dibawakan dianggap selesai.
  • Kedua, anak menggambar dengan tenang; satu persatu gambar diselesaikan sesuai dengan imajinasi dan pikiran serta pengalamannya melihat objek. Seperti menggambar tanaman bunga ditampilkan dirinya sedang membantu ibu menyiram bunga yang ditanam. Bentuk bunga itu barangkali tidak sesuai dengan bentuk bunga yang sesungguhnya, melainkan ketika diberi pertanyaan kepadanya akan dijawab gambar bunga mawar jawaban ini seiring dengan pengalamannya melihat tanaman bunga mawar. Gambar-gambar ini sebagai pernyataan rasa keindahan warna bunga mawar yang pernah didengar maupun dilihatnya.

4. Seni untuk Mengutarakan Ide, Gagasan dan Angan-angan 

Kegiatan anak ingin mengutarakan ide dan gagasan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ingatan peristiwa masa lalu anak yang sangat terkenang pada suatu ketika bercampur dengan keinginan ataupun khayalan makhluk aneh yang tidak dikenal orang dewasa, akan muncul dalam ruang yang lebar. Karya rupa yang dilakukan anak, lebih cenderung merupakan kebutuhan biasa sebagai makhluk hidup yang harus bercerita kepada orang lain, atau membayangkan sesuatu yang seiring dengan perkembangan usianya.

Keterbatasan kata-kata membuat perasaan anak semakin sesak karena keinginannya mengutarakan pendapat tidak diketahui  orang lain. Akhirnya, anak hanya mampu mengutarakan lewat gambar dan simbol. Simbol yang muncul dari pikiran anak ini ternyata mempunyai arti yang sangat kompleks, mulai keinginan sesuatu, gagasan serta angan-angan yang meluap atas benda pujaannya.

C. ASPEK-ASPEK SENI RUPA 

1. Unsur Rupa 

a. Garis 
Garis merupakan torehan, coretan, batas yang dibuat dengan cara menggores dengan benda tajam, mencoret dengan pewarna atau berupa kesan goresan antara warna dan benda satu dengan yang lain, seperti contoh berikut.

Garis yang didapat dengan menggores
Gambar 6. Garis yang didapat dengan menggores

Garis sebagai batas suatu objek
Gambar 7. Garis sebagai batas suatu objek

Pada anak usia dini suka membuat garis dengan cara  mencoret atau menggoreskan benda tajam kepada benda lain. Terdapat garis formal dan bebas; garis formal dibuat dengan penggaris sedangkan garis informal berupa goresan langsung dengan tangan.  
b. Warna 
Warna berupa pigmen atau serbuk yang dipadatkan menjadi batangan maupun serbuk yang dibuat berbentuk pasta serta dicairkan. Serbuk yang dipadatkan seperti: pensil, pastel dan batangan cat air. Pewarna pastel terdapat 3 macam: pastel kapur yang mudah dihapus dengan kain atau tangan langsung, pastel lilin yang terbuat sebagian besar  berbahan lilin. Pastel ini terkesan tipis digoreskan atau dipakai pada kertas.

Pastel minyak, sebenarnya juga pastel oli yang dipadatkan, warna yang dihasilkan kuat dan tebal dan sering dimanfaatkan untuk melukis dan menggambar. Pewarna yang paling cocok untuk anak adalah bahan yang memudahkan anak  menggores serta membuat ketahanan menggambar lama, di samping itu pewarna tadi tidak mengandung racun (antitoksin), karena anak sering lupa menggigit-gigit ketika memegang pewarna pastel tersebut.
Warna yang sering dimanfaatkan anak itu mempunyai arti simbolis maupun arti ekspresi. Simbolis berarti warna yang dimanfaatkan menggambarkan isi rasa anak ketika sedang menyatakan kehendak. Sedangkan warna ekspresi, warna itu memberi gambaran tentang kondisi anak. Sepeti dikatakan oleh Oho Graha, sebagai berikut:
  • Memang ada ahli-ahli yang mencoba membandingkan warna gambar dengan suasana jiwa anak, pada saat gambar anak berwarna itu dibuat. Lawyer bersaudara misalnya, menemukan anak-anak berusia empat tahun memilih warna kuning untuk mewarnai yang bertema kegembiraan, cokelat untuk tema yang menyedihkan (Graha. 1997:6).
Jadi warna yang digunakan oleh anak sebagai perwakilan atau simbol ungkapan perasaan; apakah rasa sedih, gembira atau  sekedar memenuhi ruang gambar.  
c. Bentuk dan Ruang 
Bentuk merupakan kumpulan dari garis sehingga membentuk satuan, atau bentukan sengaja membuat objek yang mempunyai volume. Secara teori terdapat 2 jenis bentuk:
  • Bentuk geometris, yang dibuat dengan alat penggaris sehingga terukur garis-garisnya. Biasanya juga disebut dengan bentuk formal, contoh: segitiga, segi empat, kerucut dst.
  • Bentuk informal adalah bentuk bebas yang dibuat oleh anak dengan menggores langsung atau membuat tumpukan benda dengan cara disusun maupun dipahat serta dipijit; contoh: menggambar, melukis, mematung, membuat asbak dari tanah liat, dan seterusnya.
Bentuk Formal
Gambar 8.Bentuk Formal 
Bentuk Bebas
Gambar 9.Bentuk Bebas

2. Aspek Rasa 

a. Cerita 
Aspek  rasa terdapat pada cerita gambar dan karya senilainya; aspek rasa sering juga disebut dengan isi lukisan atau gambar. Gambar atau karya seni anak mempunyai makna dan digunakan untuk mengungkapkan perasaan sedíh, senang atau kemarahan. Dalam hal ini, anak akan mengutarakan pendapat dan berkomunikasi kepada orang lain; cerita ini merupakan ulangan ingatan peristiwa yang pernah dilakukan anak, tetapi juga merupakan ungkapan rasa sedih , marah ataupun senang.

Cerita anak dalam gambar bisa bersambung atau bisa dalam satu gambar berisi banyak cerita. Gambar anak yang memuat banyak cerita dan ide dalam lukisan ini kadang hasilnya sulit dipahami orang. Cerita itu digabung menjadi satu bentuk, tetapi juga bisa dipisahkan satu persatu tetapi dimuat dalam satu muka gambar.



Tiga cerita yang ditampilkan dalam satu bidang gambar
Gambar 10.Tiga cerita yang ditampilkan dalam satu bidang gambar

Gambar di atas menunjukkan tiga cerita yang ditampilkan dalam satu bidang gambar, anak ingin bercerita tentang putri salju, matahari cerah di pagi hari dan pengalamannya pernah melihat rusa di kebun binatang.

Aspek rasa juga dapat dimaknai nilai susunan bentuk-bentuk, garis maupun warna. Seperti diketahui bahwa terdapat prinsip penyusunan bentuk-bentuk yang serasi diantaranya, seperti keseimbangan yaitu tertatanya susunan bentuk baik formal maupun bebas yang dapat mewujudkan susunan yang harmonis.

Demikian pula, ketika seorang anak mengutarakan gagasan akan menyusun bentuk gagasan seperti apa, diletakkan di mana, bisakah dipahami keinginan anak tersebut? Aspek ini sulit diketahui hanya melalui hasil karya, biasanya untuk melihat dan mengerti isi karya seseorang dapat menanyakan secara langsung kepada anak.

Sebab, kesemuanya bergantung kepada kemampuan menggambar belum seperti yang diinginkan dalam pikiran anak, sehingga karya tersebut hanya berupa  simbol-simbol bentuk. Seperti suasana siang hanya digambarkan dengan matahari yang bersinar dengan bentuk bulatan diberi garis yang memancar (mandala), atau manusia tulang dengan identitas tertentu untuk menyatakan laki-laki atau perempuan.

Aspek rasa hanya dapat dinikmati dan dilatih dengan kebiasaan mengamati, mencoba menggambar dan diberi arahan serta kritikan. Jika anak diberi contoh terlalu banyak dalam menggunakan warna serta mencontoh bentuk-bentuk kadang-kadang akan terjadi kemacetan, atau hanya mengutarakan rutinitas mencontoh guru. Padahal, ide anak sebenarnya sangat luas dan banyak, segala sesuatu dapat diungkapkan secara visual.

Anak tidak lagi mengikuti semua instruksi guru, karena pada masing-masing anak telah mempunyai konsep ketika akan menggambar. Kejadian ini tampak ketika anak menggambar bentuk yang dipahami bukan apa yang dilihat pada saat itu. Persepsi ini sebenarnya merupakan  modal yang  sangat besar untuk dikemukakan sehingga modal tersebut menjadi tatanan di dalam gambar yang tidak dipunyai oleh orang dewasa. 
b. Tema 
Istilah Tema berasal dari bahasa Inggris theme (Bhs. Yunani), kata ini di dalam istilah kesusastraan Indonesia ditulis  tema.  Artinya, suatu soal atau buah pikiran yang diuraikan dalam suatu karangan.

Jika hal tersebut dimanfaatkan untuk memahami karya seni rupa, maka tema adalah suatu hal yang dijadikan isi dari suatu ciptaan, hal ini biasanya  dikutip dari dunia kenyataan, tetapi dilukiskan dengan memakai alat-alat kesenian semata-mata (Shadily, 1975: 7).

Jadi tema adalah masalah pokok  yang dibahas, jika dikaitkan dengan seni rupa anak, maka yang dimaksudkan tema adalah ide pokok atau cerita yang dikemukakan oleh anak lewat karya seni.

Tema-tema yang sering dijadikan dorongan berkarya bagi anak adalah:
  • Lingkungan sekitar anak, seperti: lingkungan di dalam rumah, di sekolah atau lingkungan alam yang setiap saat dilihat anak, dan yang paling menarik dilihat dari mata pandang anak, hiasan penutup meja, bunga di taman, peralatan memasak yang ada di dapur, atau pot-pot tanaman yang disiangi oleh ibu.

Gambar Anak dengan Tema Lingkungan Rumahku
Gambar 11.Gambar Anak dengan Tema Lingkungan Rumahku

  • Keikutsertaan dalam peristiwa: menyanyi bersama di panggung gembira, bekerja bakti di kampungku, membantu ibu menyiram air dan memasak ikut tamasya atau pun bermain bersama teman-temannya. Tema ini bisa dimasukkan ke dalam gambar karena mempunyai kesan tertentu: bosan, senang, atau marah.
  • Kejadian yang menimpa anak: susah, senang, berkenalan dengan teman, atau kemarahan dengan keluarga dan temanku.
  • Keinginan anak, seperti meminta berkunjung ke rumah saudara, alat mainan kesenangan (balon, sepeda dan lain-lain).
  • Pikiran masa depan (cita-cita), ingin menjadi seorang dokter, arsitek, polisi, tentara atau ilmuwan, serta keinginan naik pesawat terbang.
  • Apa yang pernah dilihat dalam peristiwa sekejap: melihat film di televisi, pesawat tempur berjalan cepat, membaca majalah dan  komik, kejadian upacara adat, melihat tabrakan.
  • Imajinasi akan peristiwa yang imajiner, tabrakan pesawat, serangan para pahlawan,
  • Cerita kepahlawanan atau wiracarita (heroic). 
c. Fiksi dan fantasi 
Anak pada usia tertentu mampu merekam suasana atau kejadian dengan jelas sampai dewasa dan itu jika mempunyai minat tinggi. Suatu ketika, informasi yang dipaksakan dari orang dewasa atau berupa kemarahan seorang ibu kepada anak kesayangan ini menjadi simpanan ingatan yang sulit lepas sehingga menjadikan dendam berkepanjangan.

Ingatan yang tertumpuk itu menjadi sesak dalam ingatan anak sehingga mengalami kejenuhan. Maka, kegiatan melukis merupakan usaha untuk mengurangi kesesakan yang menumpuk bertahun-tahun. 

Susunan bentuk yang beraneka ragam benda maupun objek merupakan bayangan atau imajinasi yang ada dalam pikiran anak, namun mungkin juga sebagai perasaan anak. Gambar tersebut menjadi suatu media untuk menuangkan khayalan serta bayangannya terhadap situasi dan lingkungan sekitarnya.

Gambar yang menunjukkan permintaan anak kepada ibunya untuk berkunjung ke rumah saudara.
Gambar 12. Gambar yang menunjukkan permintaan anak kepada ibunya untuk berkunjung ke rumah saudara.

LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
  1. Amati hasil lukisan anak, apakah banyak membuat  garis, warna atau bentuk secara langsung (melihat lingkungan sekitar)?
  2. Warna-warna yang digunakan untuk mengisi lukisan apa saja?
  3. Mana warna yang paling disukai?
  4. Pernahkah menanyakan warna kesukaannya?
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Jika Anda mengamati lukisan anak usia dini sekitar 3 sampai 5 tahun anak-anak cenderung memilih menggambar dengan garis. Garis yang dibuat mulai dari yang paling sederhana tanpa judul dan tema, kemudian berkembang menjadi gambar garis yang berjudul tidak tetap, dan yang terakhir garis yang menunjukkan bentuk atau figur orang dengan judul yang diberikan mulai tetap. 

Perkembangan ini seiring dengan perkembangan daya nalar yang dimotori oleh pikiran  yang mulai sistematis. Perkembangan bentuk dimulai dari membuat bulatan sebagai lambang matahari dan diakhiri dengan mengubah sinar matahari menjadi tangan, rambut dan terakhir kali. Penambahan badan sering terjadi pada usia 5 tahun akhir.

2) Sementara anak belum memberi judul pada lukisan, maka warna yang digunakan pun tidak tetap.

3) Biasanya anak-anak suka memberi warna cerah dengan kombinasi warna kontras.

4) Jika menanyakan tentang warna kesukaan, anak pada usia di bawah 4 tahun belum dapat menjawab secara spontan karena anak masih ingin mencoba dan ingin mengetahui fungsinya. Kadangkala anak juga sudah mempunyai alasan yang tepat ketika menginjak usia 5 tahun. Warna menjadi pilihan biasanya digunakan dalam lukisan, jadi terdapat preferensi pemilihan warna pada kehidupan sehari-hari terhadap pengisian lukisan.

RANGKUMAN

Seni rupa anak adalah karya rupa yang mengandung hasil pemikiran dan perasaan anak tentang diri dan lingkungannya. Objek atau isi karya datang dari situasi sesungguhnya, cerita yang diberikan orang, pengamatan tentang lingkungan sekitar anak, peristiwa yang pernah di alami serta pikiran futuristik (jangkauan masa depan).

Karya anak berupa karya 2 dan 3 dimensi, masing-masing digunakan untuk mewujudkan gagasan dan pikirannya serta perasaannya. Karya 2 dimensi adalah karya rupa yang mempunyai ukuran panjang dan lebar serta karya 3 dimensi adalah karya yang mempunyai ruang dan berukuran panjang – lebar – tinggi. Semua karya ini digunakan sebagai media berkomunikasi alat bermain, berimajinasi, bercerita dengan orang lain.

Demikian pembahasan tentang Ruang Lingkup Seni Rupa Anak Usia Dini, semoga bermanfaat. Silakan menyimak pembahasan penting lainnya......
Juga berbagai tema yang lainnya pada blog ini. Terimakasih atas kunjungan Anda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel